Miris..Para Siswa Pakai Rakit dari Pohon Pisang ke Sekolah

Selasa, 13 Desember 2016 – 09:33 WIB
Siswa seberangi sungai dengan rakitan pohon pisang. Foto: JPG

jpnn.com - TRENGGALEK - Semangat para pelajar dari Desa Sukorejo dan Gandusari, Trenggalek, Jawa Timur untuk bersekolah patut mendapat apresiasi.

Banjir pada 17 Agustus mengakibatkan Jembatan Samiaji yang berada di atas Sungai Tawing, Desa/Kecamatan Gandusari, tak bisa digunakan.

BACA JUGA: Kabar Penting untuk Pekerja Tidak Tetap Soal CPNS

Akibatnya, bukan hanya mobilitas masyarakat yang terganggu, aktivitas sekolah pun ikut merasakan dampaknya hingga sekarang.

Puluhan siswa di Desa Gandusari dan Sukorejo harus menggunakan rakit dari pohon pisang untuk sampai ke sekolah.

BACA JUGA: Ratusan Honorer K2 Minta Gaji Dibayar Bulanan

Saat berada di atas, mereka harus saling berpegangan lantaran rakit terkena arus sungai.

"Kami sebenarnya sudah membuat jembatan darurat, tapi ya hilang saat ada hujan," ujar Sukarno, salah seorang warga pada Sabtu lalu.

BACA JUGA: Jelang Natal dan Tahun Baru, Polisi Intens Razia Miras

Sungai Tawing memang cukup besar, yakni memiliki lebar 60 meter. Air yang mengalir di sungai tersebut merupakan kumpulan dari beberapa daerah.

Di antaranya, Kecamatan Munjungan dan Kampak, sebelum menerima air dari daerah Gandusari.

Arus di sungai itu cukup deras. Akibatnya, jembatan darurat yang dibangun warga turut hanyut terbawa arus.

Sebenarnya ada jalur lain ke sekolah yang tidak begitu jauh, yakni Jembatan Pucung. Namun kondisi jembatan tersebut juga sulit dilalui.

Karena itu, warga memilih lewat sungai dengan catatan tidak hujan. Selain itu, mereka bisa menempuh jalur di Desa Widoro dengan memutar sejauh 5 km.

Kepala Desa Sukorejo, Kecamatan Gandusari, Sunarto mengakui kondisi tersebut.

Untuk sementara, tidak ada jalur yang lebih efektif daripada menggunakan rakit itu. Meski, hal tersebut berisiko terbawa arus.

"Kalau hujan, masyarakat tidak berani menyeberang. Sebab, arus Sungai Tawing sangat deras," katanya.

Pihaknya juga membenarkan pembangunan jembatan alternatif atau darurat oleh warga di dua desa itu.

Hanya, jembatan tersebut selalu hanyut terseret arus sungai.

"Kalau tidak salah, sudah tiga kali dibangun jembatan dari bambu untuk mobilitas sementara," imbuhnya. (and/c5/diq/flo/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Duh..16 Ribu Warga Cirebon Belum Buat e-KTP


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler