Modus Baru, Sensasi Baru

Jumat, 30 Desember 2011 – 02:25 WIB

jpnn.com - BARU kali ini, saya mendengar model penipuan yang terskenario rapi, terprogram seperti original, betul-betul seindah warna aslinyaDaya kecohnya maut

BACA JUGA: Gaya Lama Cerita Baru

Tipu dayanya amat muslihat
Pintar, canggih, dan memanfaatkan isu-isu up to date.

Tutur bahasa, intonasi bicara, suasana kerja seolah disiapkan matang

BACA JUGA: Membendung Langit

Tidak memberi kesan mengelabuhi korban
Hanya akal sehat yang bisa mementahkan modus penipuan terstruktur macam ini

BACA JUGA: Perak Berwarna Emas

Awalnya, saya ditelepon seorang yang mengaku staf khusus Menteri Agama, Suryadharma Ali, dari hape nomor: 085386436639Dia meminta saya menghubungi ajudan Menag di nomor: 0819807991.

Saat saya kontak, dua kali tidak dijawabLalu, nomor pertama di atas telepon lagi, “Maaf Pak Don, tadi Pak SDA sedang menerima tamu Komisi XI DPR RI, soal pengaturan budgetingSilakan, sekarang sudah bisa dikontak,” kata laki-laki itu dengan nada sopanSaya kontak lagi, nomor kedua, lalu diangkatDengan suara pelan berbisik, dia bilang: “Sebentar Pak Don, beliau sedang komunikasi dengan RI-1.

Nanti saya kontak lagi pak!” Nuansa yang saya tangkap dari suasana di ruangan itu sedang ada orang yang bicara dan menyebut-nyebut Pak PresidenPak PresidenSeolah ingin memberikan aksen bahwa SDA sedang berdiskusi via telepon dengan SBYWowSebuah skenario yang cemerlangBermain-main di wilayah kesanTidak lama kemudian, staf khusus itu telepon lagi ke hape saya.

:TERKAIT Dia hanya memberi tahu, bahwa ajudan sudah free, siap terima teleponSaya mulai curigaMengapa Pak SDA tidak telepon saya langsung ya? Atau SMS, kalau tidak sempat telepon? Sejak kapan begitu ribet? Ada SBY, ada Komisi XI DPR RI? Alarm saya mulai berdering, seperti ada yang tidak beresOke, saya ikuti terus permainan merekaSaya telepon nomor ajudan, diangkat dan dia tidak banyak ceritaDia seperti membawa hapenya ke Pak SDA, lalu Menag bertanya: ’’Ini sudah Pak Don?’’ Saya mendengar nada itu.

Menag palsu itu baru memegang telepon ajudan, lalu memberi salam kepada saya, alarm saya semakin kencang getarannyaAssalamualaikum-nya sedikit terpelesetAh, pikir saya, tidak lazim Menteri Agama kok salam saja pakai acara slip? Kayak mobil yang bannya gundul saja? Biasa, mengawali perbincangan dia berbasa-basiMakin lama berhaha-hihi, semakin memperkuat ’’ketidakyakinan’’ saya.

Logatnya mirip, intonasinya oke, isu-isu tentang kementerian agama cukup menguasai, hiruk-pikuk politik juga nyambungHanya cara tertawanya kok janggal untuk seorang SDATerlalu kencang dan terlalu terbahak-bahak, lebih mirip bajak lautSingkat kata, SDA mengundang saya bicara empat mata di kantornya, Lapangan Banteng, Jakarta, pukul 15.30Saat dia telepon masih pagi, saya baru saja bermain basket di out door Senayan bersama anak-anakDia tidak mau bicara via telepon, karena banyak hal off the record yang ingin disampaikanIts ok.

Satu jam setelah itu, dia telepon lagiKali ini lebih blak-blakanSalamnya sudah lebih lancar, tetapi untuk kelas seorang Menag, menurut saya masih kurang fasihItu tidak lazim, dan tetap saja membuat alarm saya meraung-raungApalagi, di sesi kedua pembicaraan itu, dia ngomong terus-terang: ’’Saya kan sudah anggap Dik Don seperti adik saya sendiri.

Karena itu, saya beranikan diri untuk bicara blak-blakan saja,’’ ucap suara yang mirip SDA ituPaling telak, dia akhir perbincangan, dia minta dikirim Rp 100 juta, untuk anggota DPR RI, sebagai bentuk pengembalian cashHah! Saya diminta mencatat nomor rekeningnya, agar dikirim paling lambat pukul 14.00 WIBSaya bilang, saya sedang nyetir mobil, silakan di-sms sajaKalau bisa dari hape Pak Menteri langsungTak lama kemudian, SMS nomor rekeningnya: anSri Wahyuni Rek 023.549.7991 Bank BNI Cabang Pasar Mayestik, tetapi bukan dari hape SDA, yang sudah terekam di phonebook saya.

Kecurigaan saya sudah mencapai 100 persenKalau download itu, sudah completeDengan cara apa saya harus menjebak komplotan ini? Mau lapor polisi? Ah, percuma jugaMau menangkap, terus dihajar ramai-ramai, ah kayak preman ajaAkhirnya, saya pasif ajaSaya tugaskan reporter untuk mengecek ke SDA, dan jawabannya makin meyakinkan, bahwa seharian kemarin SDA tidak ada janji, tidak ada komunikasi dengan saya.

Pukul 14.30 ajudan itu telepon ke hape saya, “Saya ingin menanyakan soal pesan Pak Menteri tadi?” Saya jawab: “Boleh tahu nama Anda? Boleh tahu Alamat Anda? Boleh ketemu dengan Anda?” Kali ini saya jawab ketusTut.tut.tut… Hapenya putus, dan ketika berkali-kali saya kontak, dua nomor itu off semuaSalah juga saya ketus, karena komplotan itu pasti langsung menghilang.

Saya menduga, banyak orang yang pernah mengalami kisah mirip-mirip ini, dalam berbagai skala, berbagai tema, berbagai tokoh yang dijadikan martilSaya kira bukan hanya SDA yang menjadi korban “pencatutan nama baik” tetapi juga pejabat tinggi negara yang “disandera” namanyaSaya yakin, ada juga yang sudah tertipu jaringan yang amat terencana rapi itu.

Saya menyesal, tidak sempat mengupas lebih dalam lagi, sampai terungkap betulTetapi, saya juga yakin, modus mirip ini sudah merajalela dengan segala sensasinyaApa yang terjadi jika komplotan itu mencatut nama Kapolda? Kapolri? Panglima TNI? Kepala BIN? Yang punya power? Apa yang terjadi jika mereka mengatasnamakan Menteri, dan sasarannya kepala instansi di bawahnya? Atau Gubernur dan sasarannya kepala dinas? Atau yang dicatut artis, dengan korban fans-nya? Makin maju dan pintar masyarakat, jenis dan modus penipunya juga semakin cerdas! Ada sedot pulsa, ada beli barang ’’maya’’ di ’’dunia maya’’, ada tipu muslihat atas nama tokoh.Hati-hati(*)

*Penulis adalah Pemred Indopos dan Wadir Jawa Pos.

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sauna Gelora Bung Karno


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler