Perak Berwarna Emas

Selasa, 22 November 2011 – 15:05 WIB

jpnn.com - HARUS diakui dengan jujur, tim sepak bola Malaysia U-23 memang tampil lebih hebat, di final SEA Games, tadi malamMereka lebih jago dari anak asuh Rahmad Darmawan

BACA JUGA: Sauna Gelora Bung Karno

Mereka menang nasib, setelah 120 menit beradu ketangkasan, kecerdikan, dan stamina, akhirnya sukses mengungguli RI di pesta adu penalti, 3-4
Mereka sukses melepaskan diri dari tekanan atau pressure supporter Garuda yang over load di Stadion GBK

BACA JUGA: Sido Mudik Sido Muncul

Tetapi hasil itu bukan berarti timnas PSSI U-23 kita melempem, loyo, jelek atau kehilangan gairah ! Tidak, tidak! Pelawanan dan perjuangan timnas PSSI untuk mengimbangi pemain-pemain Malaysia yang lebih jangkung, lebih kekar dan lebih kokoh itu juga amat mengagumkan
Mereka fight habis! Sengit dan ngotot dari sejak wasit meniup priit, sampai peluit panjang dibunyikan Timnas PSSI, telah memberikan segala yang terbaik buat Merah Putih.

Mereka sampai kesetanan, bermain dengan tempo tinggi, cepat, keras, tak kenal lelah, apalagi takut

BACA JUGA: Penonton Kecewa

Mereka bermain lepasEnergi mereka seperti sudah dipasang rechargeable batteriesNggak ada habisnyaKami, menit ke-80 sudah keha bisan suara untuk berteriak lebih ken cang lagi, pita suara sudah tidak kompromi lagiBahkan horn tret-tet-tet kami sudah kehabisan gasTetapi, Diego Michiels dan kawan-kawan seperti tidak pernah kehabisan bahan bakar Jadi, sudahlah, tidak perlu ditangisi, kekalahan selisih satu gol di adu penalti ituTidak perlu disesali secara berlebihanAnak-anak kalah terhormatMedali perak, tapi serasa emas 24 karatPerak cabang sepak bola itu “berwarna” emasKita boleh bangga, karena generasi U-23 ini masih polos dan lugu itu tidak banyak bermain trik, tidak banyak cingcong atas hal-hal yang tidak penting

Tidak banyak “menipu” penjaga garis atau wasit, dengan diving atau trik untuk mendapatkan hadiah penaltiMereka bermain betul-betul apa adanyaMain bersih, jujurKalahnya pun, bukan kekalahan yang telakBukan kalah mutlakMasih ada aro ma “nasib” atau factor lucky di partai puncak ituTersandung batu di adu penalti, memang serasa disayat-sayat ke kalahan ituKalau mau dirasa “sakit” ya memang tidak enak, kalah dalam partai paling bergengsi, di cabang paling ber bobot, dan paling banyak dilihat orang itu, kok hanya adu penalti? Saya tidak melihat indikasi “sengaja mengalah” seperti yang dikhawatirkan banyak orangSaya tidak mencium ada “babi suap” yang meracuni masa depan merekaKeseriusan mereka tidak perlu diragukan lagiKekalahan ini murni karena ka lahKarena itu, mengaku kalah dan memberi selamat kepada tim Malaysia itu serasa lebih sportif, fair dan membawa iklim sejuk dalam bersepak bolaTidak perlu sentimental, apalagi harus mencari-cari kesalahan wasit, penjaga garis, dan pemain lawan.

Itu kuno, dan menunjukkan kekerdilan diriMereka sudah menjadi pemimpin pertandingan dengan jempol Lagi-lagi, saya salut dengan penonton kitaPersis ketika saya tonton di penentuan Juara Group, di pertemuan pertama laluMereka total mensupport, dengan kostum Garuda di dadakuMereka juga tidak marah dengan wasit, pemain dan ofi sial Malaysia, termasuk supporter Ma laysia yang berkostum kuning hitamItu menunjukkan derajad kedewasaan yang baikIni bisa jadi sepak bola kita sudah memasuki sebuah level, di mana industry sepak bola bisa tumbuh dan bersemi dengan dikelola secara bisnisSepak bola tidak hanya menang dan kalahSepak bola itu menikmati spirit, taktik stra tegi, skill, stamina dengan segala kebanggaannyaSedangkan, menonton di stadion itu membeli atmosfer, menang kap suasana, dan mencari sensasi yang tidak mungkin ditemukan di mana sajaMenonton TV live, memang lebih jauh lebih simpleKalau ada momen penting bisa di review, bisa di replay.

Gambar juga tampak lebih dekat, lebih jelas, lebih close upEkspresi mereka juga tergambar sangat jelas Proses terjadi gol bisa diulang-ulang, sehingga terlambat menonton pun, tidak mengikuti dari awal, masih bisa bercerita tentang golgolnyaBagi saya, partai final tadi malam, betul- betul puncak SEA Games yang happy endingRI sudah pasti juara umum, tak terkejar lagi perolehan medali emasnya, lebih dari 171 biji (tadi malam)Buat apa lagi? Sudah cukup Memang, semula saya juga makhluk yang berasumsi, emas sepak bola itu adalah gongnya SEA GamesPercuma juara umum, tan pa mengantungi medali emas di olah raga yang paling bergengsi, sepak bolaTapi, menyaksikan penampilan Pa trick Wanggai dan kawan-kawan semalam, rasanya pendapat itu amat berlebihanMereka sudah tampil yang terbaik, yang bisa dipersembahkan buat bangsa dan negaraIbarat mengendarai mobil, gas sudah mentokTidak mungkin digenjot lagiSudah maksimalKita memang kalah mesin, sekaligus kalah bahan bakar.

Lagi pula, kasih dong Malaysia emas, biar mereka juga punya kebanggaan, pulang ke tanah airnya mengantungi medali yang paling berbobot itu? Ini juga untuk menjaga agar bobot gengsi SEA Games sebagai pesta olahraga antar negara ASEAN tetap berkelas, dan menjunjung tinggi fairplayYang mengundang kegelisahan saya adalah, mengapa harus ada korban? Dua orang tewas, karena terinjak-injak, berimpitan saat masuk ke Gelora Bung Karno? Sepertinya, panpel tidak terlalu antisipasi dengan historis pertemuan Indonesia v Malaysia ituPanpel gagal men sterilkan stadion dari penonton tak bertiket, penonton bertiket palsu, dan sistem pengamanan di dalam stadionSebuah peristiwa yang sulit diterima nalar? Karena itu seharusnya bisa diantisipasi, bisa dibaca dari pertemuan terakhir di penentuan juara group, yang sudah berjubel berlebihan? Bisa dengan membatasi jumlah tiket yang beredar? Bisa dilihat dan dirasakan, tingkat kepadatan di dalam tribun.

Bisa menambah layar tancap di arena GBK? Bisa menjaga agar di dalam tetap nyaman, di luar masih bisa menonton TV layar lebarMemperoleh duit tiket penonton, itu memang hak organizer atau penyelenggaraTetapi menyelamatkan dan melindungi orang yang masuk stadion dan sudah membayar tiket, itu adalah kewajiban panpelKalau hanya berpikir bisnis, maka yang penting masuk banyak, untung banyak, titikSoal keamanan, kenyamanan, keselamatan, itu kan sudah ada yang mengurus? Kan ada petugas keamanan! Sayang, dua nyawa harus melayang Sayang, harus ada air mata, di tengah hiruk pikuk suara terompet dan teriakan penontonTragis, demi membela “Garuda”, mereka harus mengakhiri hidup di Stadion GBK(*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Mencuci Otak Nazaruddin


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler