Mulai Januari, Aliran Dana Masuk Capai Rp 26 Triliun

Kamis, 16 Februari 2017 – 07:26 WIB
Gubernur BI Agus DW Martowardojo. Foto: Jawa Pos Group/dok.JPNN.com

jpnn.com - jpnn.com - Pertambahan arus modal masuk diprediksi membuat fundamental ekonomi Indonesia diproyeksi lebih stabil.

Bank Indonesia (BI) mencatat capital inflow mulai Januari hingga pertengahan Februari mencapai Rp 26 triliun.

BACA JUGA: Ekonomi AS Membaik, Global Masih Sulit

Aliran modal tersebut masuk lewat foreign direct investment (FDI) atau investasi asing langsung dan portofolio di pasar modal.

Sepanjang tahun lalu, capital inflow ke Indonesia tercatat Rp 126 triliun.

BACA JUGA: Perekonomian Lampung Melesat 5,15 Persen

Di sisi lain, Indonesia juga mengirimkan komoditas ekspornya sehingga pasokan valuta asing meningkat.

Gubernur BI Agus D.W. Martowardojo menyatakan, naiknya harga komoditas cukup membuat investor optimistis akan prospek perekonomian Indonesia.

BACA JUGA: Pak Darmin, Bagaimana Pertumbuhan Ekonomi pada 2017?

Dia menjelaskan, investor masih melihat capaian fundamental tahun lalu.

Misalnya, pertumbuhan ekonomi yang naik dari 4,8 persen pada 2015 menjadi 5,02 persen pada 2016.

Selain itu, inflasi 3,02 persen yang masih sejalan dengan sasaran BI.

Tak hanya itu, cadangan devisa naik menjadi USD 116,4 miliar.

Sementara itu, defisit transaksi berjalan menyempit pada 0,8 persen dari produk domestik bruto (PDB).

”Kami juga mengikuti IMF (Dana Moneter Internasional, Red) atau lembaga survei Bank Dunia yang sudah melakukan kajian soal ekonomi Indonesia. Kan hasilnya positif,” kata Agus.

”Kami juga melihat Moody's Rating maupun Fitch yang semuanya mengonfirmasi tentang kesehatan Indonesia tetap sebagai investment grade. Malah outlook-nya berubah dari netral menjadi positif,” terangnya.

Agus menilai, secara fundamental, nilai tukar masih stabil. Nilai tukar rupiah juga masih dipengaruhi faktor global.

Mata uang dolar AS terus menunjukkan penguatannya. Berdasar kurs tengah BI, rupiah masih melemah.

Sejak 9 Februari 2016, kurs tengah BI menunjukkan nilai tukar rupiah berada di Rp 13.308 per USD dan terus melemah hingga Selasa (14/2) ke level Rp 13.330 per USD.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menjelaskan, pemerintah harus bisa menjaga optimisme investor.

Apalagi, investor masih melihat yield investasi Indonesia secara jangka panjang.

Capital inflow tahun ini bisa tumbuh positif dari tahun lalu selama investor melihat confidence dari Indonesia dan juga fundamental perekonomian yang kuat.

”Kuncinya stabilitas. Investor juga melihat pemerintahannya, bisa menjaga sentimen positif atau tidak,” ujarnya. (rin/c25/sof)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Outlook Rating Positif, Kebijakan Tetap Diperbaiki


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler