Muncul Dugaan Ini Penyebab Pabrik Kembang Api Terbakar

Senin, 30 Oktober 2017 – 09:13 WIB
Pabrik petasan dan kembang api di Kosambi Kabupaten Tangerang, Kamis (26/10/2017) meledak dan menyebabkan 47 korban jiwa dan puluhan lainnya mengalami luka bakar. Foto: M. Jakwan/Tangerang Ekspres/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Muncul dugaan pemicu kebakaran pabrik kembang api milik PT. PBCS diduga bukan semata karena bahan kembang api.

Salah satu faktor tidak terkendalinya api diduga karena bahan mercon banting yang diproduksi perusahaan tersebut.

BACA JUGA: Api Muncul dari Ruang Penggilingan Bahan Mentah Kembang Api

Jadi, perusahaan itu tidak hanya membuat kembang api. Namun, juga mercon banting yang biasa dikenal dengan nama Mr Kaget.

Ukuran mercon itu memang kecil, tidak lebih besar dari pada krikil. Penggunaannya cukup unik, dengan dibanting bisa terjadi letupan.

BACA JUGA: Kemnaker Kirim Tim Pengawas ke Pabrik Kembang Api Kosambi

Namun, bila jumlahnya begitu banyak, bisa jadi berbahaya dan memerlukan perlakuan khusus.

Dikonfirmasi terkait hal tersebut, Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Raden Prabowo Argo Yuwono mengaku belum mengetahui adanya pembuatan mercon semacam itu di pabrik tersebut.”Saya belum mendapat informasi itu,” jelasnya.

BACA JUGA: Pabrik Kembang Api di Tiongkok Berada di Perbukitan

Apakah akan ditelusuri untuk mengetahui jenis mercon banting mini itu memiliki perizinan? Sebab, bisa jadi kebakaran yang dahsyat itu akibat bahan mercon banting.

Argo menuturkan bahwa saat ini posisi kasus sudah sampai pada penetapan tersangka. ”Kemungkinan tidak ke arah sana kasusnya,” terangnya dihubungi Jawa Pos kemarin.

Mantan Kabidhumas Polda Jawa Timur itu memastikan bahwa penyidik masih fokus untuk pasal 359, kelalaian yang mengakibatkan kematian seseorang. ”Lagi pula bagaimana mengetahui ada produk lain, di pabrik itu lho tinggal kawat,” terangnya.

Sementara itu, Tim DVI Rumah Sakit Polri berhasil mendetifikasi lima jenazah korban kebakaran kemarin (10/29).

Mereka adalah Asep Angga Gunawan, Aminah binti Ambeng, Maryati binti Da’I, Nilawati, dan Unia. Identitas mereka berhasil diketahui melalui pengecekan gigi, DNA, dan perhiasan yang dikenakan oleh korban.

”Dengan ini tinggal 38 kantong jenazah lagi yang belum teridentifikasi.,” kata Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Argo Yuwono, di rumah sakit Polri, kemarin (29/10).

Informasi tersebut telah diberikan kepada seluruh pihak keluarga yang bersangkutan. Seluruh jenazah tersebut pun telah diserahkan kepada pihak keluarganya masing-masing. Dirinya menjelaskan semua kantong jenazah telah dibuka dan dilakukan pemeriksaan.

Penyidikan kasus terbakarnya pabrik kembang api terus dilakukan. Sampai saat ini pelaku bernama Subarna Ega Sanjaya, selaku tukang las, belum tertangkap.

Argo menduga aktor penyebab kebakaran tersebut ikut tewas terbakar. Pasalnya dari 50 pihak keluarga korban yang melakukan pelapor, satu diantaranya mencari jenazah bernama Ega.

”Ya ada keluarga yang mencari Ega. Tapi kami belum bisa pastikan apakah jenazah itu merupakan jenazah Ega yang pelaku atau tidak. Kami masih menunggu hasil identifikasi jenazah lainnya,” ujarnya.

Kurangnya saksi menjadi salah satu penyebab penangkapan terhadap pelaku berjalan alot. Sebab sampai saat masih banyaknya korban yang dirawat di rumah sakit. Sehingga pemeriksaan pun belum bisa dilakukan. Pemeriksaan akan dilakukan mereka (saksi, Red) sembuh.

Argo menjelaskan ketika itu Ega sedang membuat atap pabrik tersebut. Beberapa orang membantunya. Namun yang bertugas melakukan pengelasan hanyalah Ega seorang. Dan yang lainnya bertugas menyiapkan peralatan saja.

Kepala Instalansi Forensik RS Polri Kombespol Edy Purnomo menambahkan proses identifikasi jenazah korban kebakaran pabrik kembang api tidak bisa dilakukan secara singkat.

Kondisi korban yang mengenaskan. Yaitu 100 persen tubuh korban terbakar. Akibatnya korban tak lagi bisa diketahui identitasnya hanya menggunakan kasat mata.

Untuk dapat identitas jenazah tersebut, pihaknya menggunakan identifikasi Interpol guideline primer. Yaitu sidik jari. Dalam hal ini sidik jari bisa melalui KTP, Ijazah, atau SKCK milik korban.

”Jika cara itu belum berhasil pemeriksaan gigi dilakukan. Sebab semua manusia mempunyai susunan gigi yang berbeda. Tapi dalam kasus ini gigi para korban lepas dan hilang. Itu terjadi karena efek ledakan. Dan jika itu terjadi maka jenazah pun sulit teridentifikasi,” paparnya.

Namun pihaknya belum kehabisan akal. Sebab masih ada dua cara lain. Yaitu pemeriksaan DNA dan Medis.

Edy menjelaskan pemeriksaan tanda medis yang ada di tubuh korban. seperti tatto atau perhiasan yang dikenakan korban.

Ditambah lagi apakah korban pernah melakukan operasi atau tidak. Jika bekas itu masih ada, jenazah dengan mudah teridentifikasi.

Namun pada kenyataan hal tersebut tidak terjadi pada kebanyakan korban. Sebab korban telah terbakar 100 persen. Sehingga tanda – tanda medis yang berada di tubuh korban telah hilang. (idr/ian)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gudang Petasan Meledak, Puluhan Orang Tewas


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler