Museum Musik Indonesia, dari Etalase Rokok Menjelma Kolektor Ribuan Karya Musisi

Rabu, 09 Maret 2022 – 14:51 WIB
Ketua Museum Musik Indonesia (MMI) Hengki Herwanto. Foto: Ridho A Akbar/JPNN.com

jpnn.com - Malang telah melahirkan banyak musisi dan penyanyi kondang. Di kota berjuluk Paris van East Java itu pula ada Museum Musik Indonesia (MMI), sebuah destinasi untuk menapak tilas karya para musisi tanah air, terutama magnum opus lawas.

Laporan Ridho Abdullah Akbar, Kota Malang

BACA JUGA: Hari Musik Nasional, Anang Hermansyah Punya Harapan Seperti ini

LANTAI 2 Gedung di Jalan Nusakambangan Nomor 19 Kota Malang, Jawa Timur, menjadi tempat Hengki Herwanto beraktivitas saban hari. Pria sepuh yang selalu bersikap ramah itu merupakan ketua Museum Musik Indonesia.

Museum dengan puluhan ribu koleksi tersebut berada satu atap dengan Gedung Kesenian Kota Malang. Menurut Hengki, MMI lahir dari hobinya membuat galeri musik.

BACA JUGA: Mengapa 9 Maret jadi Hari Musik Nasional? Tanggal Lahir WR Supratman jadi Perdebatan

Cikal bakal MMI pada 2009. Hengki merintis MMI dengan sebuah etalase kecil untuk memajang kaset koleksinya.

"Awal mula kami hanya punya etalase rokok untuk dijadikan tempat kaset, saya ingat harganya waktu itu cuma Rp 35 ribu," ujar Hengki ketika ditemui JPNN.com di MMI belum lama ini.

BACA JUGA: Warkop Haji Anto Kendari, Kisah Kesungguhan Berikhtiar dan Keunikan Berpromosi

Awalnya galeri musik itu tak punya tempat tetap. Menurut Hengki, selama bertahun-tahun MMI sering berpindah-pindah lokasi.

Namun, galeri yang awalnya cuma etalase sederhana itu terus menambah koleksi. Pada 2016, Pemerintah Kota Malang memberikan tempat di lantai 2 Gedung Kesenian untuk MMI.

Lokasi MMI dekat dengan jantung Kota Malang sehingga sebagian besar pengunjungnya adalah pelajar maupun mahasiswa. Memang Malang dikenal juga sebagai kota pelajar sehingga banyak pengunjung MMI yang datang bukan untuk melihat koleksi-koleksi antik, melainkan demi studi atau penelitian.

Museum musik satu-satunya di Kota Malang itu buka pada pukul 08.00 WIB hingga sore. Akan tetapi, biasanya pengunjung baru mulai terlihat ramai mulai pukul 10.00 WIB.

Hengki menuturkan MMI pada saat awal berdiri hanya memiliki 250 koleksi. Bentuknya berupa kaset, piringan hitam, dan cakram padat (CD).

Kini, MMI mengoleksi banyak kaset lawas dan majalah jadul. Vinil juga melengkapi daftar koleksi MMI.

Poster atau foto bergambar musikus maupun penyanyi legendaris menghiasi dinding MMI. Setiap hari, MMI memutar lagu-lagu dari beragam genre, seperti dangdut, pop, keroncong, dan rock.

Hengky menjelaskan koleksi MMI juga meliputi lagu-lagu berbahasa daerah dari Aceh sampai Papua. Bapak dua anak itu menjelaskan MMI memiliki lebih dari 100 album lagu dengan bahasa dan ciri khas yang berbeda.

Kaset dan CD tentu bukan barang asing bagi generasi baby boomers (lahir sebelum 1964), generasi X (kelahiran 1965-1980), dan generasi Y (kelahiran 1981-1995). Oleh karena itu, mereka bisa bernostalgia di MMI.

Bagaimana cara MMI mengumpulkan puluhan ribu koleksinya itu?

Menurut Hengki, sebagian besar koleksi MMI adalah sumbangan masyarakat. Kaset maupun CD lagu dangdut dan pop terlihat mendominasi koleksi MMI.

Meski demikian, banyak koleksi MMI merupakan sumbangan tokoh-tokoh kondang. Hengki lantas menyebut nama Guruh Soekarnoputra, putra Proklamator RI Bung Karno.

"Guruh Sukarno pernah ke sini, memanggung di sini dan memberikan sumbangan karyanya," ujar Hengki.

Presiden Keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga menyumbangkan karyanya untuk menambah koleksi MMI. "Dari Pak SBY, lagu-lagunya disumbangkan di sini juga melalui rekannya," tutur Hengki.

Pria yang selalu mengenakan ikat kepala itu menambahkan MMI pernah mendapat bantuan langsung dari United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) atau Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB.

"Ini salah satu upaya pelestarian musik tanah air dengan mendokumentasikan musik daerah dari Aceh sampai Papua," ucapnya.

Begitu ada koleksi baru di MMI, Hengki mengabarkannya di media sosial. Banyak warganet memberikan respons positif atas unggahan tentang koleksi MMI.

Menurut Hengki, karya para musisi Indonesia memiliki sejarah dan cerita yang harus dikenang. Sebab, lagu-lagu itu bukan hanya karya seni, melainkan juga mengandung cerita di baliknya.

Hengki mencontohkan lagu-lagu Koes Bersaudara yang dicap 'ngak ngik ngok' oleh penguasa Orde Lama. Penguasa waktu itu menganggap tembang karya anak-anak Raden Koeswojo tersebut tidak membangkitkan nasionalisme.

Para personel Koes Bersaudara -Koestono (Tonny Koeswoyo), Koesjono (Yon Koeswoyo), Koesrojo (Yok Koeswoyo), dan Koesnomo (Nomo Koeswoyo)- pun sempat dipenjara. Namun, pemenjaraan itu menginspirasi Koes Bersaudara menciptakan lagu Hidup Dalam Bui.

Karya-karya Iwan Fals juga mejeng di MMI. Hengki menyebut penyanyi bernama asli Virgiawan Listanto itu menulis banyak lagu dengan lirik sarat kritik.

Akibat menulis lagu berlirik penuh protes, Iwan dilarang tampil di panggung. Pada 1989, penguasa Orde Baru membatalkan rencana Iwan menggelar 'Konser 100 Kota' yang sedianya untuk promosi album Mata Dewa.

"Banyak cerita dan kenangan yang berkaitan musik," kata Hengki.

Hingga Februari tahun ini, MMI memiliki 35.000 koleksi baik berupa vinil, piringan hitam, CD, maupun kaset. Namun, ada satu koleksi MMI yang selalu diingat Hengki, yakni piringan hitam album lagu Nanin Sudiar.

Pada era 1970-an, Nanin dikenal sebagai aktris peran. Seniwati asal Bandung itu juga menjadi penyanyi.

"Artis pertama yang mengirimkan karyanya ke MMI berupa piringan hitam, ya, Nanin Sudiar," ucapnya. (mcr26/jpnn)


Redaktur : Adek
Reporter : Antoni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler