Musim Kemarau, Petani Jamur Merugi

Senin, 22 Oktober 2018 – 06:59 WIB
Petani budidaya jamur. Foto: JPG/Pojokpitu

jpnn.com, TUBAN - Musim kemarau panjang yang melanda Kabupaten Tuban, Jawa Timur, membuat para petani jamur tiram merugi.

Kondisi tersebut salah satunya dialami oleh petani jamur di Desa Tlogowaru, Kecamatan Merakurak.

BACA JUGA: Bencana Kekeringan, Waspada Musim Paceklik

Sejak musim kemarau tahun ini, panen dari budidaya jamur tiram milik mereka turun drastis hingga 50 persen. Hal ini disebabkan oleh panasnya suhu udara selama musim kemarau.

Petani budidaya jamur, Darmaun, menjelaskan, kondisi itu menyebabkan jamur tiram tidak tumbuh normal. Jamur tumbuh kerdil dan bahkan sebagian mati karena suhu yang panas.

BACA JUGA: Ya Ampun, Kebun Jagung 18 Hektar Diserang Tikus

"Para petani telah berjuang ekstra dari segi perawatannya, jika suhu normal jamur akan tumbuh dengan daun yang lebar," jelas Darmun.

Akibatnya, hingga panen petani jamur tiram menurun antara 20 hingga 60 persen dibanding kondisi normal.

BACA JUGA: Petani Tomat Terpaksa Gigit Jari di Musim Kemarau

Dari semula panen 35 kilogram per hari, kini maksimal hanya antara 20-10 kilogram setiap harinya.

Hasil panen jamur yang kurang maksimal  juga berpengaruh terhadap harga jual.

"Jika kondisi normal, per kilogram dipatok dengan harga Rp 20.000 dan kini hanya laku Rp 18.000 saja," tutur Darmaun.

Agar usaha tak gulung tikar pada cuaca ekstrim seperti saat ini, para petani jamur tiram di desa setempat tidak hanya menjual hasil panen mereka berupa jamur mentah.

Namun, mengolahnya menjadi aneka camilan. Yaitu keripik jamur, kerupuk jamur, petol dan sate jamur.

Selain itu inovasi olahan berbahan utama jamur ini, mereka lakukan juga untuk menyiasati hasil panen melimpah. Karena saat panen melimpah, jamur juga rawan rusak dan busuk. (yos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bencana Kekeringan, 150 Sawah Gagal Panen


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler