Nafisah Ahmad Zen Shahab, Ibu yang Sepuluh Anaknya Jadi Dokter

Berkat Provokasi si Sulung Setiap Mudik Lebaran

Sabtu, 24 April 2010 – 12:38 WIB
Nafisah bersama Najwa, salah satu dari 30 cucunya. Foto: Agung Putu Artha/Jawapos
NAFISAH Ahmad Shahab barangkali bisa disebut sebagai supermomDi antara 12 anak hasil pernikahannya dengan almarhum Alwi Idrus Shahab, sepuluh orang menjadi dokter

BACA JUGA: Raih Medali Emas berkat Dosis Obat Michael Jackson

Di antara sepuluh dokter itu, tujuh orang bertitel spesialis.
 
AGUNG PUTU, Jakarta
 

Spesialisasi tujuh anak Nafisah itu pun tidak ecek-ecek
Si sulung, Dr dr Idrus Alwi SpPD KKV FECS FACC, meraih spesialisasi di bidang kardiovaskular

BACA JUGA: Digembleng Abah Main Catur Dua Papan

Anak pertama itu juga menjadi satu-satunya yang meraih gelar doktor di antara sepuluh dokter bersaudara itu
Kemudian, drg Farida Alwi menekuni bidang spesialisasi gigi; dr Shahabiyah MMR menjadi Dirut RSU Islam Harapan Anda di Tegal; dr Muhammad Syafiq SpPD, spesialis penyakit dalam; dr Suraiyah SpA (spesialisasi anak); dr Nouval Shahab SpU, spesialis urologi dan sedang menempuh pendidikan untuk gelar PhD di Jepang; dan dr Isa An Nagib SpOT mengambil bidang spesialisasi ortopedi.

Sementara tiga putra Nafisah yang lain masih bergelar dokter umum

BACA JUGA: Menyusuri Kampung Bersejarah China Benteng

Mereka adalah dr Fatinah yang menjabat wakil direktur RS Ibu dan Anak Permata Hati Balikpapan; dr Zen Firhan, dokter umum di Balai Pengobatan Depok Medical Service dan Sawangan Medical Center; dan dr Nur Dalilah, dokter umum di RS Permata Cibubur

Dua anak Nafisah yang tidak berprofesi sebagai dokter adalah Durah Kamilia (anak keempat) dan Zainab (anak ketujuh)Durah menekuni bidang desain, sedangkan Zainab menggeluti bidang kimiaDia sedang menempuh pendidikan S-2 kimia di Universitas Padjadjaran, Bandung

"Dulu sih sebenarnya mau kuliah dokter jugaTapi, pas ujian masuk lagi sakit, jadi keterima di pilihan kedua di jurusan kimia," kata Zainab saat ditemui Jawa Pos bersama Nafisah dan Isa An Nagib (anak kesembilan) di kediaman si sulung di Puri Sri Wedari, Cibubur, Depok, Jawa Barat, kemarin (23/4).

Sebenarnya keluarga Nafisah bukan keluarga dokterPendidikan Nafisah dan Alwi Idrus juga tidak tinggi-tinggi amatNafisah hanya lulusan SMA, sedangkan Alwi bertitel sarjana muda jurusan ekonomiMereka bekerja sebagai pedagangTapi, pasangan itu mampu mendidik anak-anaknya menjadi orang-orang hebat.

Berkat prestasi langka itu, Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) mengganjar keluarga asal Palembang, Sumatera Selatan, tersebut dengan gelar Profesi Dokter Terbanyak dalam Satu Keluarga

Kendati sudah sepuh, Nafisah masih tampak sehatIndra pendengarannya masih tajamIngatannya juga tetap kuat ketika menceritakan suka-duka membesarkan 12 anak hingga menjadi sarjana seperti sekarang.

Bagaimana mendidik sepuluh anak menjadi dokter" Menurut Nafisah, semua itu berkat didikan keras almarhum suaminya, Alwi Idrus ShahabAwalnya keluarga tersebut adalah keluarga saudagarMereka memiliki toko di kawasan kota Palembang yang menyediakan kain dan batikGrosir bisa, eceran oke.

Dagangan kain dan batik itu cukup suksesNamun, Alwi tidak pernah mendidik anak-anaknya mengikuti jejak orang tua menjadi saudagarDia menginginkan semua anaknya menempuh pendidikan yang lebih tinggi daripada dirinyaKeinginan itu muncul, kata Isa An Nagib, karena pengalaman pribadi sang ayah

Alwi yang lulusan sarjana muda jurusan ekonomi itu merupakan anak lelaki yang paling tuaDia mengemban beban berat untuk membantu adik-adiknyaKeinginan menempuh pendidikan yang lebih tinggi tak kesampaian karena dirinya harus bekerja keras"Beliau tak ingin itu terjadi kepada anak-anaknya," katanya.

Karena itu, Alwi mendidik semua anaknya untuk belajar kerasSemua fasilitas yang berhubungan dengan pendidikan dia penuhiMulai buku hingga peralatan sekolah"Abah itu dulu, anak-anak pagi minta, sore sudah ada," kata Isa mengenang almarhum sang ayah yang meninggal pada 1996 itu.

Ide untuk ramai-ramai kuliah di kedokteran datang dari si sulung, Idrus AlwiDia adalah orang pertama dalam keluarga yang kuliah di kedokteranSaat itu dia kuliah di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI) JakartaTiap mudik Lebaran, Idrus bercerita panjang lebar tentang asyiknya kuliah di kedokteran kepada saudara-saudaranyaMereka pun tergiurSejak saat itu target utama adik-adik Idrus setelah lulus sekolah hanya satu: kuliah kedokteran"Kampusnya boleh di mana sajaPokoknya negeriSoalnya, kuliah dokter kan mahal," ujar Isa.

Gayung bersambutKeinginan itu diamini oleh AlwiApalagi, profesi dokter merupakan jasa yang selalu dibutuhkan masyarakatLulusan fakultas kedokteran tak bakal nganggur

Menurut Nafisah, membesarkan 12 anak susah-susah gampangDisiplin harus ketatSuaminya, Alwi, kata Nafisah, memberlakukan aturan bahwa seluruh anak harus pulang setiap MagribApa pun alasannya, tidak ada yang boleh keluar rumah bablas hingga Isya"Kecuali ada undangan yang benar-benar nggak bisa ditunda," kata Nafisah

Aturan itu cukup efektifSeluruh anaknya menurutKalaupun ada acara dengan teman-temannya, pasti mereka pulang dulu menjelang Magrib

Dengan cara itu, kata Nafisah, me-manage 12 anak jadi gampangSetelah Magrib, mereka juga tidak boleh langsung bablas hingga malamMereka harus mengaji dan baca-baca buku pelajaran di rumah walau sebentar"Lagi pula, kalau ada kondangan atau  acara, kan pasti setelah IsyaNggak mungkin habis Magrib langsung pergi," ujarnya

Selain itu, keluarga besar tersebut juga sering meluangkan waktu untuk  jalan barengSetiap Sabtu dan Minggu, toko keluarga Alwi hanya buka separo hariSisa waktu lainnya digunakan untuk berjalan-jalan ke taman atau kolam renang di  sekitar Kota Palembang"Pokoknya ngikutin kemauan anak," kata Nafisah

Kini, 12 bersaudara itu tidak lagi ber-home base di Palembang seperti  dulu"Markas" keluarga Shahab itu kini di perumahan Puri Sri  Wedari, Cibubur, Depok, Jawa BaratDi rumah si sulungKebanyakan di antara mereka pun bertempat tinggal di kawasan pinggiran Jakarta ituPaling tidak, ada enam anak Nafisah yang tinggal di sekitar DepokBeberapa di antara mereka kompak ikut praktik di Rumah Sakit Permata Cibubur

Soal rumah sakit itu, si sulung juga yang jadi perintisnyaPada  2003, bersama sejumlah kolega dokternya, Idrus mendirikan RS tersebut.  Saat itu, kata Isa, daerah Cibubur masih sepiRumah sakit itu bahkan menjadi rumah sakit pertama di daerah tersebutAlhasil, beberapa  saudara Idrus yang lulus sekolah dokter pun diajak praktik di sana sekaligus tinggal di sana.  "Lagi-lagi, kakak pertama yang mengawali," ungkapnya

Nafisah menuturkan, memiliki sepuluh anak dokter tidak selalu  mendapat pujian orangMalah ada yang mencibirApalagi kalau anak perempuan yang jadi dokter"Buat apa sekolah lama-lamaNanti tua, jodohnya sulit," kata Nafisah menirukan komentar orang-orang

Tapi, Nafisah percaya bahwa jodoh akan ikut dengan aktivitas anakPerjalanan studi dokter yang panjang membuat mereka bertemu banyak  orangKarena itu, mitos itu tidak membuat dia ragu mendorong anak-anaknya menempuh pendidikan yang lebih tinggi

Kata Nafisah, upaya menyekolahkan anaknya itu sempat mendapat cobaan ketika sang kepala keluarga meninggal dunia pada 1996Saat itu, empat anaknya masih sekolahDua orang di kelas 3 SMA, satu orang di kelas 2 SMASejumlah anak belum lulus kuliah

Nafisah sempat sedikit terguncang dengan meninggalnya AlwiDia melupakan guncangan jiwanya itu dengan bekerja di toko"Saat sibuk di     toko nggak ingat, tapi pulang di rumah ingat lagiSedih rasanya," kata nenek 30 cucu itu

Selama dua tahun, perasaan itu terus dia  alamiNamun, perempuan kelahiran 1 Agustus 1946 itu tak menyerahDengan toko dan warisan suami, pendidikan 12 anaknya terus diperjuangkan

Beberapa anak yang sudah mentas dan bekerja ikut membantu ongkos  sekolah dan kuliahBeban itu, kata Nafisah, tidak terlalu beratSebab, toko mereka juga masih laris"Tapi, tanah dan aset abah dijual semua
untuk membiayai anak-anak sekolah," ungkap Isa

Sepuluh tahun setelah sang suami meninggal, Nafisah berhasil mengatar lulus anak-anaknyaMereka juga sudah mandiri dan berkeluargaSejak saat itu, anak-anak melarang Nafisah sibuk di tokoMereka lantas memboyong Nafisah ke Cibubur agar dekat dengan anak-anak dan cucu-cucunya

Kini Nafsiah tidak lagi sibuk berjualan kain dan batikSaat ada waktu  luang, anak dan cucunya mengajak dia pelesir ke luar negeriMulai Malaysia, Australia, Singapura, Jerman, Italia, Austria, hingga Inggris"Pokoknya keliling ke mana-mana, sampai lupa negaranya," kata Nafisah, lantas tersenyum

Hari ini Nafisah berencana mengunjungi Nouval Shahab, anaknya yang sedang mengejar gelar PhD di Jepang"Visanya baru keluar hari ini, besok langsung berangkat," katanya. (*/c1/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Rebut Simpati, Galang Sumbangan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler