Naik Haji dari Tabungan Hasil Jualan Daun Pisang Selama 20 Tahun

Kamis, 25 Agustus 2016 – 00:06 WIB
Ponirep (90), warga Dusun Purwodadi, Desa Sidomulyo, Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan yang berangkat haji dari hasil menabung uang penjualan daun pisang, tiba di Asrama Haji Bandarlampung, Selasa (23/8). Foto: Alam Islam/Radar Lampung/JPNN.com

jpnn.com - PEREMPUAN sepuh itu namanya Ponirep. Usia warga Dusun Purwodadi, Desa/Kecamatan Sidomulyo, Lampung Selatan (Lamsel), itu kini mencapai 90 tahun. Kendati sudah uzur, buyut tujuh cicit ini tercatat sebagai salah satu calon jamaah haji (CJH) asal Lamsel yang rencananya berangkat ke Tanah Suci tahun ini.

Tidak mudah baginya bisa menyandang status CJH. Sebab selama 20 tahun, ia dengan gigih menabung untuk menunaikan rukun Islam yang kelima tersebut. Uang tabungan itu didapatnya dari berjualan daun pisang.

BACA JUGA: Inilah Bangunan Kantor Penjajah Belanda saat Menguasai Jambi

Saat Radar Lampung (Jawa Pos Group) menyambangi kediamannya yang hanya berukuran 6 x 9 meter kemarin (22/8), Ponirep tengah berada di samping rumah. Kala itu, ia sedang mengambil daun pisang menggunakan galah yang ujungnya terpasang pisau. Di pekarangan itu terlihat 15 batang pohon pisang berdiri.

Ibu empat anak ini memang sejak 1965 tinggal di rumah tersebut. Suaminya sejak 12 tahun lalu sudah meninggal dunia. Di rumah itu, ia tinggal bersama anak bungsunya. 

BACA JUGA: 48 Tahun Hidup Tanpa Kartu Identitas, Sukaesih Hidup Lontang-Lantung

Usai mengambil daun pisang, Ponirep memotong daun tersebut dari tangkainya dan disusun menjadi beberapa bagian. Daun pisang itu lantas dijualnya ke Pasar Sidomulyo yang dititipkan kepada kerabatnya.

Dari hasil penjualan daun pisang itu, Ponirah mendapatkan uang sekitar Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per hari. Setengah dari hasil penjualan daun pisang langsung ditabungkannya.

BACA JUGA: Inilah Bus Yang Digunakan Untuk Konvoi ‎Peraih Medali Olimpiade

’’Sudah lama saya menabung untuk naik haji. Sekitar 20 tahun. Dari hasil jual daun pisang ini saya sisihkan,” kata Ponirep.

Dia mengaku sudah puluhan tahun ingin naik haji. Namun dikarenakan uang yang dimiliki belum cukup, ia menabung sedikit demi sedikit. 

’’Supaya selamat dunia-akhirat dengan menuntaskan rukun Islam yang kelima,” kata nenek yang bahasa Indonesia-nya kurang lancar ini.

Sumijo (54), anak kedua Ponirep, mengatakan, ibunya menabung selama ini tanpa diketahui anak dan cucu-cucunya. Bahkan, dia mengaku sempat kaget saat empat tahun lalu diminta ibunya untuk mendaftarkan naik haji.

’’Saya tahunya 4 tahun lalu Mas, ibu meminta saya untuk mengantarkannya mendaftar naik haji. Saya sempat heran, dari mana dia dapat uang. Ternyata selama ini ibu menabung,” kata Sumijo kemarin.

Sejak saat itu, sambung Sumijo, ibunya terus menitipkan uang kepadanya untuk ditabung di bank buat membayar haji. ’’Ibu orangnya tertutup. Saya tidak boleh menceritakan ke siapa-siapa kalau ibu mau naik haji,” tuturnya.

Sedangkan Tukimin Hidayat (30) mengatakan, sang nenek hanya sendirian naik haji. Tidak ada satu pun keluarganya yang menemani. Dia mengatakan, neneknya hanya ikut yayasan.

’’Jadi kami sekeluarga sudah ikhlas jika terjadi sesuatu dengan nenek,” ucapnya.

Kades Sidomulyo Sutanto mengatakan, Ponirep merupakan CJH tertua dari Lamsel. Menurut dia, dari kisah Ponirep ini membuktikan bahwa tidak hanya orang kaya yang dapat naik haji, tetapi orang miskin pun dapat melaksanakannya dengan tekad yang kuat.

’’Ini menjadi pembelajaran bagi kita semua, Nenek Ponirep yang menabung dengan sungguh-sungguh dapat naik haji,” ucapnya. 

Kendati sudah berumur 90 tahun, semangatnya masih terlihat jelas untuk menunaikan haji tahun ini. Buyut dari 7 cicit ini mengatakan selain untuk mencari kebahagiaan di akhirat nanti, di Tanah Suci ia akan mendoakan semua orang yang membantunya untuk bisa naik haji.

Saat ditemui Radar Lampung, Mbah Ponirep terlihat sedang melakukan Shalat Ashar.

“Ketika di tanah suci nanti, InsyaAllah Saya akan berdoa untuk keselamatan dunia akhirat, untuk suami saya yang sudah meninggal, untuk anak-anak agar sukses, dan juga untuk semua yang telah membantu saya, semoga bisa naik haji juga” ujarnya pada Radar di kamar 1 gedung 1 Asrama Haji Rajabasa, Selasa (23/8).

Di Tanah Suci, ia juga akan mendoakan tetangganya yang mengalami kelumpuhan, dan orang-orang yang mengadakan pengajian untuk almarhum suaminya. “Doakan saya juga agar kuat ketika melakukan rangkaian haji nanti, saya sudah pasrah sama Allah, semoga diberikan kekuatan,” ujarnya.

Ia yang naik haji sendirian tanpa ditemani keluarganya ini mengaku tidak membawa barang banyak. Hanya beberapa helai baju, pakaian ihrom, peralatan mandi dan obat untuk kakinya yang terkadang merasa linu ketika berjalan.

“Saya punya sedikit katarak dan pendengaran yang kurang jelas, ini cuma bawa obat tablet untuk kaki yang kadang linu. Kemarin dibelikan sama anak ada beberapa pack obat itu dan vitamin untuk di Tanah Suci,” jelasnya.

Selain obat tablet satu jenis untuk kakinya, ia juga sudah disuntik di bagian jari-jari kaki untuk mengatasi sakit kakinya yang kadang kambuh itu.

Dia berjalan dengan pelan dan ketika melewati lorong kamar harus berpegangan pada tembok. Kadang ia meminta bantuan untuk membawakan tas hajinya. Namun ia mengaku cukup kuat untuk melakukan tawaf nanti di Tanah Suci.

“Ya pelan-pelan thawaf nya, semoga kuat dan diberi kesehatan terus,” pungkasnya. (yud/p2/c1/whk/sam/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sedih, Bersama Dua Balitanya Mencari Suami yang Pergi Bawa Surat Nikah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler