Nusron Bekali Saksi Ahok-Djarot Strategi Melawan SARA

Jumat, 31 Maret 2017 – 23:24 WIB
Nusron Wahid saat memberikan sambutan dalam pengajian di Raja Konro Daeng Naba, Jl Ampera Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (31/3) malam. Foto: source for JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Partai Golkar kembali menggelar pengajian dalam rangka mempersatukan bangsa dan memperkuat ukhuwah islamiyah, di Raja Konro Daeng Naba, Jl Ampera Raya, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (31/3) malam.

Pengajian kali ini sekaligus membekali para saksi dan relawan yang akan terlibat dalam pemenangan pasangan nomor urut dua, Basuki Tjahaja Purnama-Djarot Saiful Hidayat (Ahok-Djarot) dalam Pilkada Gubernur DKI Jakarta putaran kedua pada tanggal 19 April nanti.

BACA JUGA: Yakinlah, Aksi 313 Tak Pengaruhi Elektabilitas Ahok

Dalam pengajian itu, para saksi dibekali bagaimana melawan isu SARA yang selama ini dijadikan alat untuk mengganggu pasangan Ahok-Djarot dan orang-orang yang memilihnya.

"Kalau ada yang seperti itu (penggunaan isu SARA), Partai Golkar wajib melawan, para saksi di lapangan harus bisa melawan adanya praktik seperti itu," kata Koordinator Bidang Pemenangan Pemilu Partai Golkar Wilayah Indonesia I (Jawa dan Sumatera), Nusron Wahid dalam sambutannya di acara pengajian.

BACA JUGA: Ketua Timses Ahok Anggap Honor untuk Ketua KPU Wajar

Hadir dalam acara itu Ketua DPD II Jakarta Selatan Ikhsan Ingratubun, dan bupati terpilih Kabupaten Batang, Wihaji. Ada pun penceramah adalah Ustaz Zuhri Yaqub dari Jakarta Barat.

Nusron mengatakan, Partai Golkar tidak ingin Islam yang rahmatan lil alamin dirusak oknum orang Islam itu sendiri. Untuk itu, di hadapan sekitar 500 orang yang hadir dan beberapa ibu-ibu yang akan diberangkatkan umrah oleh Djarot Saiful Hidayat, Nusron mengajak untuk bersama-sama memenangkan pasangan Ahok-Djarot.

BACA JUGA: Golkar Kerahkan Sayap Islam Buat Menangkan Ahok-Djarot

"Kenapa ingin memenangkan pasangan nomor dua, karena pasangan nomor dua yang paling menguntungkan buat Jakarta, buat umat Islam. Seumur-umur, baru kali ini ada masjid di balai kota, namanya Masjid Fatahillah, nama dari Sunan Gunungjati," ungkap Nusron.

Karena pasangan nomor dua juga, kata Nusron, dalam kepemimpinannya selalu berpihak kepada umat Islam. "Belum ada gubenrur di Jakarta di mana para ustaz, marbot, pengurus masjid, takmir, akan dapat gaji bulanan. Dan semua imam masjid dan musala dalam lima tahun nanti akan diumrahkan, semua. Jadi nanti tidak ada imam masjid, takmir, marbot, yang tidak bisa berangkat umrah," bebernya.

Tetapi persoalannya, lanjut Nusron, sekarang ini pasangan nomor dua selalu diganggu, bahkan yang akan milih juga terus diganggu. Ada berbagai macam ancaman untuk mengganggu mereka yang memilih pasangan nomor dua, mulai dari tudingan kafir, tidak akan masuk surga, hingga tidak akan disholatkan jenazahnya.

"Saya katakan, orang yang berpendapat seperti itu bukan golongan ahlu sunnah wal jamaah. Karena ada hadis nabi yang diriwayatkan Ibnu Umar yang menyebutkan bahwa alamatnya ahlu sunah wal jamaah itu ada sepuluh. Yang nomor tujuh menyebutkan tidak boleh mengafirkan seseorang atau orang lain selama orang tersebut masih ahli qiblat atau masih salat. Kalau selama masih salat dikafirkan, maka yang mengafirkan bukanlah ahlu sunah wal jamaah," kata Nusron.

"Ini hanya karena beda pilihan, kok dianggap kafir, dikatakan masuk neraka. Terus yang masuk surga siapa?" imbuhnya.

Nusron juga menyinggung soal ancaman tidak disalatkan jenazahnya bagi yang memilih Ahok-Djarot. "Memang kalau enggak disalati yang dosa yang mati? Yang dosa adalah yang hidup. Nah orang yang mengancam itu juga di hadisnya: Menolak untuk salat kepada orang mati padahal orang yang mati itu ahli qiblat, yang masih salat dalam hidupnya, itu bukan alamat ahlu sunnah wal jamaah," terang Nusron.

Sementara itu, Ustaz Zuhri Yaqub dalam ceramahnya mengatakan, berdasarkan hasil ijtihad para ulama, ada yang membolehkan memilih nonmuslim menjadi pemimpin seperti gubernur. Maka dari itu, bagi yang beda pilihan tidak boleh mengafirkan sesama. "Jangan hanya karena sahwat kekuasaan, takut kalah, lalu mengafirkan yang beda pilihan," katanya. (adk/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pengamat: Djan Dukung Ahok demi Kepentingan Bisnisnya


Redaktur & Reporter : Adek

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler