OMG, Bayi Terbakar Lampu Teplok saat Ibunya Teleponan

Minggu, 09 April 2017 – 19:43 WIB
Korban ditemani ibunya di rumah sakit. foto: source for pojoksatu

jpnn.com, MADINA - Warga Banjar Silangit, Kelurahan Hutasiantar, Panyabungan, Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatera Utara, mendadak heboh, Kamis malam (6/4).

Pasalnya, tangisan seorang bayi berusia 8 bulan mengagetkan warga sekitar. Tangisannya sangat lirih, karena tubuhnya terbakar lampu teplok.

BACA JUGA: ABG Ini Jadi Depresi setelah Diperkosa Dukun Cabul

Peristiwa itu terjadi sekira pukul 21.00 WIB. Saat itu, ibu korban, Atikah, 35, yang tengah menjaga bayinya ke luar rumah saat menerima telepon dari kerabatnya yang berada di luar daerah.

Asyik bertukar kabar, Atikah tak sadar lampu yang terbuat dari botol kaca dan diberi sumbu itu terjatuh dan pecah. Lalu, membakar tubuh bayinya yang diletak tak jauh dari lampu teplok itu dipasang.

BACA JUGA: BPBD: Status Tanggap Darurat di Madina Sampai 7 Hari

Atikah baru tersadar setelah melihat bayinya menangis tak karuan.

Begitu melihat api menjilat tubuh buah hatinya, Atikah berteriak minta pertolongan suaminya, Asmar Hadi, 38, yang sedang berada di luar rumah.

BACA JUGA: Pemerintah Harus Sigap Tangani Bencana Alam di Madina

Dengan dibantu tetangga dan paman korban, Mahdi, bayi itu langsung dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Panyabungan.

Di instalansi gawat darurat rumah sakit plat merah itu, bayi itu sempat dirawat. Namun, pihak rumah sakit menyerah.

Keluarga korban yang tergolong kurang mampu itu, sempat bingung jika harus merujuk bayinya ke luar daerah.

Akhirnya setelah beberapa keluarga meyakinkan akan menyelesaikan administrasinya, orang tua korban bersedia bayi mereka dirujuk ke Rumah Sakit Dr M Djamil di Padang, Sumatera Barat.

Pasalnya, bayi mereka mengalami luka bakar serius mencapai 70 persen.

“Jadi itu tadi, kakak (ibu korban) berteleponan dengan keluarga di Jambi. Di sana mengabarkan ada keluarga yang sakit. Tahu-tahu bayinya sudah terbakar. Memang rumahnya masih pakai lampu, belum ada sambungan listrik,” cerita paman korban.

Sedangkan Asmar Hadi hanya pasrah dan bingung akan keadaan yang menimpa bayinya. Apalagi, pria yang sehari-sehari hanya bertani itu harus memikirkan biaya perobatan anak semata wayangnya itu.

“Rumah kami masih pakai lampu seperti itu. Belum sanggup pasang listrik. Begini lagi keadaan yang datang, jadi serba bingung. Panas kali ya, nak?” sebutnya sembari merapikan dan mengipasi tubuh bayinya.

Sedangkan istrinya, Atikah, merenung sambil menatap anaknya itu. Dia tak banyak berucap, hanya bisa menangis. (san)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Guru Honor Ini Lega Suratnya sampai ke Presiden, Isinya


Redaktur & Reporter : Budi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler