Omicron dan Nataru

Oleh: Dhimam Abror Djuraid

Rabu, 08 Desember 2021 – 11:26 WIB
Ilustrasi tes usap. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com - Seluruh dunia sedang siaga akibat munculnya varian baru Omicron.

Beberapa negara sudah menerapkan lockdown di beberapa kota, tetapi Indonesia tenang-tenang saja.

BACA JUGA: Cegah Varian Omicron, Dinkes Bali: Pengetatan Pintu Masuk Harus Dipertahankan

Rencana pembatasan pergerakan ketat selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) malah dibatalkan. Pemerintah Indonesia merasa pede tidak bakal terimbas gelombang ketiga penularan pandemi, karena tingkat vaksinasi sudah cukup tinggi.

Pemerintah mengeklaim sudah mencapai herd immunity atau kekebalan kelompok di beberapa wilayah. Karena itu munculnya varian baru yang lebih cepat menular itu ditanggapi santuy.

BACA JUGA: Antisipasi Varian Omicron Masuk Sumut, Edy Rahmayadi Lakukan Langkah Ini

Amerika dan Eropa panik menghadapi varian baru yang muncul dan menyebar dari Afrika Selatan dan beberapa negara Afrika. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut bahwa Omicron mempunyai kemampuan penularan cepat dibanding varian Delta. Karena itu Amerika dan Eropa mengambil langkah cepat dan tegas.

Presiden  AS Joe Biden mengumumkan pembatasan penerbangan udara dari delapan negara Afrika. Eropa juga melakukan hal yang sama. Negara-negara lain di seluruh dunia mengambil langkah yang sama dengan Amerika.

BACA JUGA: Ini Alasan Pemerintah Membatalkan Kebijakan PPKM Level 3 Saat Libur Nataru

Negara-negara yang terkena cekal adalah Afrika Selatan, Namibia, Botswana, Zimbabwe, Mozambik, Lesotho, dan Eswatini. Penerbangan ke wilayah itu dibatasi dengan ketat dan warga dari negara-negara itu dilarang masuk. Arab Saudi, Oman, Uni Emirat Arab, Sri Lanka hingga Thailand, telah melarang kedatangan orang-orang dari Afrika untuk mencegah penularan Omicron.

Varian baru ini terdeteksi sudah muncul di Israel, Belgia, Israel, Hong Kong, Belanda, Jerman serta Republik Ceko. Belanda sudah menerapkan lockdown di beberapa kota. Begitu pula Ceko. Namun, publik menentang pembatasan ini dan melakukan demo besar, tetapi pemerintah tetap keukeuh dengan keputusannya.

Indonesia jauh lebih santuy menghadapi varian baru ini. Masyarakat sudah pasrah dan siap-siap menghadapi PPKM level 3, tetapi tiba-tiba ada perubahan mendadak dan pemerintah membatalkan rencana itu.

Semula Menko PPM Muhadjir Effendy yang mengumumkan PPKM Nataru. Namun, kemudian Menko Marives Luhut Binsar Panjaitan yang muncul mengumumkan pembatalan rencana itu.

Luhut mengatakan, pemerintah membatalkan PPKM level 3 karena pemerintah yakin proses pengendalian kasus Covid-19 di Indonesia sudah menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Keputusan ini juga didasarkan pada capaian vaksinasi dosis 1 di Jawa-Bali yang sudah mencapai 76 persen dan dosis 2 yang sudah mendekati 56 persen. Kelompok lansia yang selama ini dianggap rentan juga sudah cukup terlindungi oleh vaksinasi. Pemerintah mengeklaim vaksinasi lansia sudah mencapai 64 persen untuk dosis 1 dan 42 persen untuk dosis 2.

Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengeklaim sembilan wilayah aglomerasi di Indonesia sudah mencapai herd immunity. Ini menandakan bahwa sebagian besar masyarakat di wilayah tersebut sudah memiliki antibodi yang tinggi dari infeksi Covid-19.

Tito mengatakan hal tersebut berdasarkan hasil survei serologi yang dilakukan Kementerian Dalam Negeri dan Kementerian Kesehatan. Dalam waktu dekat hasil survei itu bakal disampaikan ke publik. Sembilan wilayah aglomerasi itu adalah Medan, Batam, Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, Semarang, Surabaya, Bali, dan Makassar.

Reaksi pun bermunculan. Said Didu memberi komen sarkastis. Dalam unggahan di akun media sosialnya Said menyindir pembatalan PPKM. Pemerintah membatalkan PPKM selama Nataru. Tidak akan ada penyekatan selama Nataru. Nanti penyekatannya saat Lebaran dan mudik saja. begitu sindir Said.

Pembatalan ini menunjukkan wajah lama pemerintah dalam penanganan pandemi yang selalu tarik-ulur antara pertimbangan kesehatan dan pertimbangan ekonomi. Pembatalan kali ini menunjukkan sekali lagi bahwa pertimbangan ekonomi mengalahkan pertimbangan kesehatan.

Putaran ekonomi yang besar selama liburan Nataru membuat pemerintah berani melakukan pelonggaran. Keputusan ini berisiko karena spekulatif. Beberapa negara yang sudah mempunyai level vaksinasi lebih tinggi dari Indonesia tetap melakukan pembatasan, tetapi Indonesia memilih pelonggaran.

Nada protes bermunculan dari banyak netizen. Banyak yang menganggap keputusan ini diskriminatif karena dua kali Lebaran terakhir pemerintah dengan keras menerapkan PPKM level tinggi disertai aturan larangan mudik yang diterapkan dengan keras.

Giliran Natal dan Tahun Baru pembatasan level tinggi dibatalkan dan diganti dengan pembatasan yang sangat longgar. Cara pendekatan yang berbeda ini memunculkan kembali banyak teori konspirasi. Kali ini mengaitkan kemunculan virus Omicron dengan strategi Yahudi untuk melemahkan Islam.

Sejak virus Covid-19 muncul dua tahun yang lalu sudah terjadi kecurigaan bahwa virus ini buatan laboratorium di China, sebagai bagian dari perang biologi untuk menguasai dunia. China yang menjadi tertuduh balas menuduh Amerika sebagai biang kemunculan virus, dan dengan senjaga menyebarkannya ke China.

Dunia lintang pukang selama dua tahun pandemi. Namun, wilayah Afrika relatif tenang-tenang saja. Masyarakat Afrika seolah-olah tidak mempan oleh varian virus Covid-19, termasuk varian delta yang sangat ganas.

Masyarakat Afrika sudah mempunyai kekebalan fisik dan kekebalan komunitas yang sangat tinggi, karena selama ini Afrika sudah berkali-kali dihajar oleh berbagai macam virus ganas mulai dari virus HIV penyebab AIDS, virus Ebola yang mematikan, dan virus-virus ganas lainnya.

Karena itu kemudian ada rekayasa untuk menciptakan varian baru yang disebut berasal dari Afrika. Maka, muncullah varian Omicron yang disebut bermutasi dari Afrika dan punya daya sengat yang jauh lebih tajam.

Teori konspirasi berkembang liar. Salah satunya menyebut bahwa ‘’Variant Omicron’’ sudah dipersiapkan sejak 1963 dan yang membawa penyakit itu adalah makhluk alien dari luar angkasa. Setidaknya hal itu sudah diceritakan dalam sebuah film dengan judul ‘’Variant Omicron’’ produksi Italia.

Film bergenre sains fiksi itu mengisahkan seorang karyawan pabrik yang meninggal dan hidup kembali setelah tubuhnya diambil alih oleh alien. Alien mengambil alih tubuh manusia demi mempelajari planet bumi dengan tujuan menguasai dan menaklukkan penduduk bumi.

Agak sulit mempercayai kaitan film ini dengan kemunculan varian Omicron yang sekarang muncul, kecuali hanya kesamaan nama yang sangat mungkin hanya kebetulan.

Namun, informasi itu beredar luas di media sosial dan mendapatkan tanggapan ramai dari para netizen. Ada yang percaya terhadap teori konspirasi itu, ada yang menganggapnya hanya bualan kosong.

Tahun lalu ketika kasus kematian akibat pandemi sedang mencapai puncak, warganet juga mengaitkan situasi tersebut dengan film berjudul "Contagion" yang dirilis 2011. Film tersebut menggambarkan perjuangan seorang dokter yang berpacu dengan waktu melawan epidemi, yang tidak diketahui asal-usulnya, tetapi dalam waktu singkat mampu melumpuhkan dunia.

Meskipun tidak ada bukti ilmiah yang membenarkan klaim itu, tetapi banyak orang yang percaya bahwa Covid-19 merupakan pandemi yang sudah dirancang lama sebagai senjata biologi untuk menguasai dunia.

Munculnya varian Omicron di Afrika akan menjadi puncak penegasan yang sah bahwa pandemi Covid-19 telah berhasil menundukkan seluruh penjuru dunia. Negara-negara Afrika memprotes keras pengucilan yang dilakukan oleh negara-negara Barat. Namun, mereka hanya bisa protes, dan negara-negara Barat tidak menggubrisnya.

Terlepas dari berbagai teori konspirasi yang bermunculan, Indonesia sudah mengambil keputusan yang sangat berani dengan pembatalan PPKM level tiga selama Nataru.

Keputusan sudah diambil, dan risiko ditanggung penumpang. (*)

Kamu Sudah Menonton Video Terbaru Berikut ini?


Redaktur : Adek
Reporter : Cak Abror

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler