OPEC Turun Tangan Harga Minyak Dunia Anjlok, Terburuk Sejak Pandemi

Kamis, 10 Maret 2022 – 06:12 WIB
Harga minyak dunia pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) tercatat mengalami penurunan terbesar sejak awal pandemi hampir dua tahun lalu. Foto: ANTARA/HO-Pertamina

jpnn.com, JAKARTA - Harga minyak dunia pada akhir perdagangan Rabu (Kamis pagi WIB) tercatat mengalami penurunan terbesar sejak awal pandemi hampir dua tahun lalu.

Penurunan harga minyak dunia terjadi seusai Uni Emirat Arab mengatakan anggota OPEC akan mendukung peningkatan produksi yang kacau karena dampak konflik Rusia-Ukraina.

BACA JUGA: Harga Minyak Dunia Meroket, Pertalite Bagaimana?

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei anjlok lebih dari 17 persen dan menetap pada penurunan 13,2 persen atau USD 16,84 per barel.

Harga minyak mentah Brent bertengger di angka USD 111,14 per barel. Penurunan itu disebutkan menjadi salah satu yang terburuk sejak 21 April 2020.

BACA JUGA: Waduh! Harga Minyak Mentah Dunia Berpotensi Meroket hingga USD 200 Per Barel

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Maret terpangkas USD 15,44 atau 12,5 persen menjadi ditutup pada USD 108,70 per barel, hari terburuk mereka sejak November tahun lalu.

"Kami mendukung peningkatan produksi dan akan mendorong OPEC untuk mempertimbangkan tingkat produksi yang lebih tinggi," kata Duta Besar Yousuf Al Otaiba dalam sebuah pernyataan yang dicuit oleh Kedutaan Besar UEA di Washington.

BACA JUGA: Harga Minyak Dunia Meroket, Pertamina Janji Pasokan Energi RI Terpenuhi

Direktur energi berjangka di Mizuho Bob Yawger menilai OPEC kemungkinan menggelontorkan 800 ribu barel minyak dan mampu menggantikan pasokan Rusia.

"Itu bukan apa-apa. Mereka mungkin dapat membawa sekitar 800.000 barel ke pasar dengan sangat cepat, bahkan segera, membawa kita sepertujuh jalan ke sana dalam menggantikan pasokan Rusia," kata

Penurunan harga juga diperburuk oleh para pedagang yang menafsirkan beberapa komentar yang dilaporkan dari seorang menteri Irak sebagai kesediaan negara itu untuk meningkatkan produksi jika diperlukan.

Namun, pemasar minyak mentah milik negara SOMO mengklarifikasi bahwa pihaknya melihat kenaikan bulanan OPEC+ sudah cukup untuk mengatasi kekurangan minyak.

Pernyataan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) berubah minggu ini ketika Sekretaris Jenderalnya Mohammed Barkindo menyatakan pasokan makin tertinggal dari permintaan.

OPEC+ pun menyalahkan kenaikan harga pada geopolitik daripada kurangnya pasokan dan memutuskan untuk tidak meningkatkan produksi lebih cepat dari sebelumnya.

OPEC+, yang mencakup Rusia, telah menargetkan peningkatan produksi 400 ribu barel per hari setiap bulan, dan telah menolak permintaan dari Amerika Serikat dan negara-negara konsumen lainnya untuk memompa lebih banyak.

Rusia adalah pengekspor minyak mentah dan bahan bakar utama dunia, mengirimkan sekitar 7 juta barel per hari atau 7,0 persen dari pasokan global.

Harga minyak dunia telah reli lebih dari 30 persen sejak invasi Rusia pada 24 Februari. Harga minyak mentah menyentuh puncak di atas USD 139 per barel pada Senin (7/3/2022), dan Relative Strength Index untuk Brent, indikator momentum, menunjukkan pasar akan melakukan aksi jual. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler