Operasi Pasar Dinilai Tak Efektif Meredam Gejolak Harga Daging Sapi

Minggu, 31 Januari 2016 – 16:23 WIB
ILUSTRASI. FOTO: DOK.JPNN.com

jpnn.com - JAKARTA – Wakil Ketua Umum DPP Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI)‎‎ Sarman Simanjorang menilai operasi pasar tidak efektif mengatasi gejolak melambungnya harga daging sapi yang saat ini mencapai kisaran Rp 120-140 ribu per kilogram.

“Itu tidak efektif. Masa ‎Kementerian Pertanian bersama Kementerian Perdagangan tidak mampu mengambil kebijakan agar gejolak seperti ini tidak terulang kembali,” ujar Sarman, Minggu (31/1).

BACA JUGA: Harga Daging Sapi Lampaui Daya Beli, Siapa yang Teledor?

Menurut Sarman, ‎pemerintah terkesan tidak serius menjaga stabilitas harga daging sapi yang sangat dibutuhkan oleh dunia usaha dan masyarakat. Padahal Kementan, kata Sarman‎, seharusnya memiliki data yang pasti, valid dan terukur tentang ketersediaan sapi lokal yang mampu mensuply pasar dan layak dijadikan stok. 

“Jangan sampai sapi masyarakat dijadikan stok, di mana sapi tersebut tidak setiap saat bisa dibeli, setiap saat siap dipotong,” ujarnya.

BACA JUGA: Inilah Program Terbaru Indosat Ooredoo untuk Ragunan

‎Selama ini setelah diadakan sensus sapi, jumlah sapi masyarakat selalu dijadikan stok dan dijadikan dasar untuk mengurangi jumlah kuota impor dalam rangka mengejar target swasembada. Padahal sapi milik masyarakat pantasnya dijadikan cadangan, bukan stok. Karena pengertian stok bagi pengusaha adalah sapi yang setiap saat siap mensupply kebutuhan pasar.

“Jika Kementerian Pertanian memilik data yang akurat yang bisa dipertanggung jawabkan, seharusnya dapat mengambil langkah-langkah taktis bersama Kementerian Perdagangan, agar gejolak harga daging sapi tidak terjadi berulang-ulang,” ujarnya.

BACA JUGA: Batalkan Penggabungan BUMN Konstruksi dan Infrastruktur

Menurut Sarman, pemerintah sebelumnya  telah menetapkan konsumsi perkapita daging sapi tahun ini mencapai 2,61 kg per tahun. Sehingga kebutuhan nasional tahun 2016 mencapai 674,69 ribu ton atau setara dengan 3,9 juta ekor sapi. 

Kebutuhan tersebut 85 persen akan disuplly dari sapi lokal, sedangkan sisanya dari Impor yaitu sekitar 600 ribu ekor sapi bakalan dan 80 ribu ton daging beku. 

“Namun jika terjadi gejolak harga daging, selalu yang dicari adalah sapi dan daging impor. Padahal kuota impor hannya 15 persen dari kebutuhan nasional. Mana mungkin kuota yang 15 persen mampu mempengaruhi yang 85 persen. Seharusnya kebaikannya, di mana stok daging lokal kita,” ujar Sarman.(gir/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Korsel Ingin Kembangkan Industri Galangan Kapal di Indonesia


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler