Mistis! Bergelimpangan, Kesurupan di Lereng Merapi

Selasa, 12 Juli 2016 – 05:44 WIB
Tarian tradisional beraroma mistis di Dusun Temusari, Desa Lencoh, Selo, Boyolali. Foto: Soetomo Samsu /JPNN.com

jpnn.com - TABUHAN gamelan mengalun rancak. Semakin lama ritmenya semakin cepat. Puluhan penari berjingkrak di atas panggung pendek, di lantai berpasir.

Mereka semua bertopeng menyeramkan. Semuanya pria. Ada yang memerankan tokoh pewayangan, Hanoman, berkostum putih. Tapi ada yang merah.Sebagian bertopeng buto, tokoh jahat dalam cerita wayang.

BACA JUGA: Asyik, Saat Liburan Warga Kunjungi Ekowisata Mangrove

Semakin cepat ritme gamelan, semakin menegangkan. Gerakan penari semakin tak beraturan, bersenggolan, gentayangan, memutar tak berarah di atas panggung.

Ratusan warga yang menonton tampak tegang. Tiba-tiba ada penari yang kelejotan di pasir. Ya, penari itu kesurupan. Matanya merah menyala, tatapannya nanar. 

BACA JUGA: Mampirlah ke Desa Wisata di Lereng Merapi, Adem

Anggota tim yang lain memberikan pertolongan, melepas topeng, membawa ke dalam, ke ruang “penyadaran”.

Itulah sajian kesenian tradisional warga Dusun Temusari, Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Boyolali, Jateng, di sebuah halaman rumah warga setempat, Minggu (10/7). 

BACA JUGA: Melihat Sajian Menu Pascalebaran Warga Kawanua

Pentas seni warga di lereng Gunung Merapi itu ditampilkan berkaitan dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri. Sebagai ajang silaturahmi warga, sekaligus upaya menggaet wisatawan. 

Aroma mistis memang menyeruak di panggung tarian. Ada bau kemenyan, yang dibakar di sisi panggung. Seperangkat gamelan terus ditabuh. Satu per satu, dan kadang bersamaan hingga dua-tiga penari, kesurupan.

Ngeri melihatnya. Tangan mengepal, badan meliuk-liuk, bergerak dengan tatapan kosong. Bahkan, ada yang keluar, lari dari panggung. Anggota tim khusus yang bertugas “mengatasi” mahkluk gaib yang merasuki tubuh penari bergerak cepat, mengejar, dan membawanya ke ruang dalam.

Bagaimana cara “mengobati”? “Mintanya apa, ya dituruti, langsung pergi (roh yang merasuki sudah keluar dari tubuh penari, red). Tadi ada yang minta minum air kembang, ada yang minta rokok,” ujar Warsito, salah seorang pemuda setempat.

Menurut keterangan Sukamto (70), sesepuh Desa Lencoh, pentas kesenian berbau mistis itu semata untuk melestarikan budaya peninggalan para leluhur desa setempat.

Mantan Kades selama 32 tahun itu cerita, biasanya yang merasuki tubuh para penari juga bukan “sosok” yang tidak asing bagi warga setempat. 

“Seperti Mbah Petruk dan kawan-kawannya,” kata Sukamto. Mbah Petruk, berdasar mitos, merupakan salah satu “penunggu” Gunung Merapi.

Bahkan, lanjutnya, terkadang ucapan-ucapan yang disampaikan oleh penari yang kesurupan, berupa kalimat wejangan dan peringatan. 

“Pernah terjadi bencana, yang sebelumnya sudah disampaikan oleh penari yang kesurupan. Iki bener, aku ora ngarang (ini benar, saya tidak mengarang, red),” ucapnya. (sam/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Menyedihkan, Sejak 2010 Berlebaran di Atas Genangan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler