Pak Harto Anak Pak Karto (1)

Senin, 30 November 2015 – 17:33 WIB
Candi Borobudur dari kejauhan. Sekira 37 km dari candi ini, Soeharto, presiden kedua Indonesia dilahirkan. Foto: Dok.JPNN.com.

jpnn.com - PAK Karto tak muluk-muluk. Harapannya yang paling besar, kelak anak lelakinya itu mewarisi pekerjaannya sebagai ulu-ulu kampung alias pembantu lurah! Siapa sangka, sang anak malah jadi Presiden Republik Indonesia. Inilah cerita lahirnya Pak Harto anak Pak Karto...

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Tambang Freeport di Papua Diramal Akan Jadi Kota Hantu

Hari itu almanak bertarekh 8 Juni 1921. 

Pak Karto--demikian Kartoredjo akrab disapa--sedang memeriksa sebuah empang ketika seseorang berteriak-sorak memanggil-manggil namanya.

BACA JUGA: Presiden Soeharto Memberinya Nama Tembagapura

Tergopoh-gopoh pemuda itu mendekati Pak Karto.

"Pak," kata pemuda itu terengah-engah, "istri bapak akan melahirkan. Mbah sudah datang untuk menolongnya."

BACA JUGA: Oh, Dari Sini Toh Modal Awal Freeport Masuk ke Indonesia...

"Katakan pada mereka," sahut Pak Karto penuh wibawa, "saya akan datang sebentar lagi. Karena saya mesti mengerjakan empang ini dulu. Kalau tidak, airnya tidak akan mengalir."

Pak Karto yang selalu memakai sarung dan blankon, bukan tipikal orang serampangan yang suka tergesa-gesa. Sadar akan kedudukannya di tengah masyarakat, Pak Karto menjaga wibawa.

Dia seorang ulu-ulu, pegawai desa yang bertugas mengurus pembagian air dan pengairan sawah. 

Ulu-ulu atau jogotirto adalah satu dari tiga orang pembantu lurah. Dua pembantu lainnya carik sebagai juru tulis dan jogoboyo atau kebayan sebagai polisi desa.

Dukun Beranak

Suara bayi laki-laki itu pertama terdengar di Kampung Kemusu, Yogyakarta. Dari Candi Borobudur yang terkenal itu, jaraknya sekira 37 km.

Tak ada suara geledek mengiringi tangis pertamanya. Tak pula disusul letusan gunung. 

Kedatangan Pak Karto disambut seorang perempuan tua, yang tak lain ibunya, yang baru saja membantu proses kelahiran anak lelakinya. 

Ya, ibu Pak Karto seorang dukun beranak. 

Tak keruan bahagianya hati Pak Karto mengetahui anaknya laki-laki. Ini memang yang diharapkan. Bayi itu diberi nama Soeharto.  

"Dengan senyum bahagia Pak Karto membayangkan betapa si anak nanti dapat membantunya di sawah, dan insya Allah, dengan kehendak Tuhan, mewarisi pekerjaannya sebagai ulu-ulu," tulis O.G. Roeder dalam buku Soeharto--Dari Pradjurit Sampai Presiden.

Karya Roeder itu, merupakan buku pertama yang menceritakan sosok Soeharto, presiden kedua Indonesia. 

Buku yang aslinya berjudul The Smiling General tersebut, diterbitkan Gunung Agung dalam bahasa Indonesia pada 1969.

Presiden Soeharto langsung yang menulis kata pengantarnya. 

Nah, bagaimana Soeharto melewati masa kanak-kanaknya? Yuk ikuti cerita selanjutnya… --bersambung (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ini Freeport, Bung...


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler