Pakar Ingatkan Pembangunan PLTA Batang Toru Jangan Sampai Merusak Konservasi Hutan

Kamis, 12 Oktober 2023 – 11:57 WIB
Diskusi tentang energi di IPB University. Foto: source for JPNN

jpnn.com - BOGOR - Pakar lingkungan dari Universitas Indonesia Mahawan Karuniasa menilai seluruh pembangkit listrik di Indonesia seharusnya sudah terintegrasi dengan konservasi ekosistem di daratan.

"Sudah seharusnya pembangkit listrik tenaga air terintegrasi dengan konservasi ekosistem daratan," kata pria yang juga CEO Environment Institute itu dalam Seminar Integrasi Transisi Energi dengan Konservasi Ekosistem Daratan di IPB, Selasa (11/10).

BACA JUGA: NSHE Jamin PLTA Batang Toru Tidak Ganggu Habitat Orang Utan

Menurut Mahawan, integrasi tersebut tidak dapat ditawar lagi sebab agenda Paris Agreement untuk tidak melampaui 1,5 derajat celsius perlu upaya mitigasi agar emisi global tidak melampaui 33 Giga ton CO2e melalui transisi energi, termasuk di Indonesia.

"Indonesia memasuki dekade dominasi emisi sektor energi, artinya sebagian besar emisi gas rumah kaca nasional berasal dari sektor ini yang meliputi tiga sumber utama, yaitu pembangkit listrik, transportasi, dan industri," ujarnya.

BACA JUGA: Energi Rendah Karbon Aspek Penting dalam Smelter Nikel Ramah Lingkungan

Mahawan juga mengungkap soal pembangkit listrik, berdasarkan dokumen LTS-LCCR (Long Term Strategi for Low Carbon and Climate Resilience) strategi utama pemangkasan emisi dilakukan dengan coal phase down, penggunaan gas, penerapan teknologi Carbon Capture and Storage.

Dia pun menilai, tepat jika pemerintah serius membangun PLTA Batang Toru di Sumatera Utara dengan catatan pembangunan tidak merusak konservasi hutan.

BACA JUGA: Pakar Lingkungan: PLTA Solusi Atasi Perubahan Iklim

"Kami mendukung penuh pembangunan PLTA Batang Toru. Namun, mesti diingat PLTA tidak boleh merusak konservasi hutan dan harus menggunakan teknologi yang ramah lingkungan," tutur Mahawan.

Sementara itu, Staf Ahli Menteri KLHK, Haruni Krisnawati menyatakan bahwa transisi energi diperlukan dalam implementasi NDC (Nationally Determined Contribution) bersamaan dengan pencapaian target FOLU Net Sink 2030.

"Implementasi NDC ini perlu dilaksanakan sesuai komitmen Indonesia dan strategi implementasi NDC yang telah disusun," kata Haruni.

Pakar lingkungan Jatna Suprijana menyampaikan biodiversity loss menjadi masalah global termasuk Indonesia sebagai negara mega biodiversity, sehingga upaya transisi energi mesti sinergi dengan konservasi ekosistem.

"Seperti pengembangan PLTA Batang Toru dengan konservasi orang utan Tapanuli yang tersisa 200 ekor. Nah ini harus dipastikan aman dan diperhatikan betul," ujar Jatna. (*/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler