Pakar: Setop Gunakan Politik Identitas di Pilpres 2024

Rabu, 14 Desember 2022 – 14:24 WIB
Pakar Komunikasi politik Emrus Sihombing. Foto: Dokumen JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Pakar komunikasi politik Emrus Sihombing menilai ekonomi menjadi isu penting dalam Pilpres 2024.

Menurut Emrus, ruang publik kerap dipenuhi dengan narasi-narasi politik identitas yang sempit harus dihentikan.

BACA JUGA: Erick Thohir Dinilai Figur Cawapres yang Paling Kompeten di Pilpres 2024

Emrus mengatakan pemilih rasional patut menjadikan isu ekonomi sebagai dasar pertimbangan utama dalam memilih sosok pemimpin.

"Secara substansial, memang isu yang paling penting itu isu ekonomi. Sebab, itu menyangkut kesejahteraan. Acap kali di ruang publik dieksploitasi oleh orang-orang tertentu bukan di isu ekonomi, tetapi dibawa ke isu-isu yang sifatnya politik identitas yang sempit dan emosional,” tegas Emrus, Selasa (13/12/2022).

BACA JUGA: Survei LKPI: Elektabilitas Airlangga Ungguli Ganjar Hingga Anies

Emrus menyetir hasil survei terbaru dari Lembaga Kajian Pemilu Indonesia (LKPI) terkait dinamika politik dan pilihan masyarakat terhadap calon presiden (capres) 2024.

Survei itu mengemukakan kriteria yang harus dipenuhi calon pemimpin di masa depan, yakni mampu meningkatkan kualitas ekonomi dan sumber daya manusia Indonesia.

BACA JUGA: Airlangga Gaungkan Industri Halal, Ekonom Merespons Begini, Simak

Survei LKPI juga mengukur elektabilitas sejumlah tokoh untuk menjadi presiden di tahun 2024 menggantikan Joko Widodo atau Jokowi.

Dengan simulasi nama tokoh yang disodorkan pada responden maka tokoh yang paling banyak dipilih adalah Airlangga Hartarto sebanyak 17,20 persen, Prabowo Subianto 16,20 persen, Ganjar Pranowo 10,7 persen, Anies Baswedan dipilih 7,40 persen, dan Puan Maharani 4,7 persen.

Menanggapi hal survei tersebut, Emrus mengatakan Airlangga Hartarto patut menjadikan isu ekonomi sebagai modal utama untuk memenangkan pilihan publik.

“Terus terang saya mengatakan semua kandidat yang ada di Indonesia kecuali Airlangga Hartarto belum ada yang mengedepankan isu ekonomi,” tegas Emrus.

Isu ekonomi juga harus dibuat sedemikian rupa dan digelorakan ke ruang publik agar menjadi kebutuhan masyarakat.

“Menumbuhkan kesadaran masyarakat bahwa isu ekonomi penting bagi masyarakat menengah ke bawah,” lanjutnya.

Emrus juga mencatat kelemahan Airlangga Hartarto. Menurutnya, Airlangga terlalu sibuk bekerja sehingga cenderung lupa dengan komunikasi dengan publik.

Emrus menyarankan Airlangga membentuk tim komunikasi politik dan tim komunikasi pemasaran politik.

“Ada kelemahan beliau ini yaitu selalu bekerja, padahal sekarang seharusnya bekerja dan berkomunikasi. Agar diketahui publik,” kata Emrus.

Emrus juga mengetengahkan pasangan Airlangga Hartarto-Puan Maharani dalam Pemilu 2024.

Menurut Emrus, paslon itu bisa membawa Indonesia lebih maju, sejahtera, dan kestabilan politik.

“Jadi, kemampuan di bidang ekonomi dipasangkan dengan tokoh yang menguasai bidang sosial-politik yang di-back up oleh PDIP,” ujar Emrus.

Pendidikan Politik

Peneliti Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli mengatakan  masyarakat perlu mendapatkan pendidikan politik menjelang Pemilu 2024, bahwa popularitas dan elektabilitas bukan yang utama.

Namun, visi misi serta pemikiran dari para Calon yang akan berkontestasi.

“Saya harap lembaga survei dan media di dalam merilis memberitakan mengutamakan selain populer, dan elektabilitas, tetapi juga mengungkapkan sisi terkait dengan pendidikan politik sehingga memberikan pembelajaran bagi masyarakat,” kata Prof Lili, Selasa (13/12).

Selama ini lembaga survei sibuk mengumumkan tingkat elektabilitas dan popularitas, sampai hampir lupa dengan visi misi tokoh tersebut.

“Harus digali keinginan pemilih seperti apa. Ditanyakan visi dan misi, ingin pemimpin yang bagaimana? Yang berintegritas, yang mampu mengatasi masalah pengangguran, mampu berperan dalam persaingan global. Jadi, memberikan pendidikan politik, bukan sekadar suka tidak suka,” ujar Prof Lili.

Terlebih pada pemilu mendatang, mayoritas pemilihnya adalah kaum muda. Kata Prof Lili, mereka mandiri, berpengetahuan luas, memiliki keinginan dan kebutuhan, sehingga jika calon hanya mengandalkan popularitas saja, tidak begitu diminati.

“Harus dibarengi dengan sikap visioner dan integritas,“ tegas Prof Lili.

Pemilih muda memiliki akses yang luas terhadap informasi, termasuk tentang perpolitikan jelang Pemilu.

Mereka butuh sekadar tahu siapa siapa yang akan maju pada Pemilu mendatang, tetapi juga visi misi dan bagaimana hal itu memenuhi keinginan dan ekspektasi mereka.

Dari sejumlah nama Capres yang beredar, nama Menko Perekonomian Airlangga Hartarto kerap disebut karena kiprahnya dalam mengomandoi sektor perekonomian Indonesia, terkhusus saat masa pandemi.

Menko Airlangga yang juga Ketua Umum Partai Golkar, bersama PAN dan PPP pada Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) juga telah meluncurkan visi KIB, Program Akselerasi Transformasi Ekonomi Nasional (PATEN).(fri/jpnn)

Video Terpopuler Hari ini:


Redaktur & Reporter : Friederich Batari

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler