Pakde Karwo Tak Ingin Demokrat Jadi Oposisi

Kamis, 10 April 2014 – 07:18 WIB

jpnn.com - SURABAYA - Ketua DPD Partai Demokrat Jatim Soekarwo menyatakan bahwa  menjadi oposisi bukan pilihan andai partai pimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu memang gagal memenangi pemilu legislatif. Pria yang akrab disapa Pakde Karwo itu mengungkapkan, model oposisi tidak cocok diterapkan dalam demokrasi di Indonesia.

"Saya tidak suka oposisi," tegasnya setelah mencoblos di TPS 27 Kelurahan Manyarsabrangan, Mulyorejo, kemarin.

BACA JUGA: Kembalinya Basis Massa PKB

Namun, bila ada kebijakan dari Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Demokrat untuk oposisi, Soekarwo tetap menghormatinya. Khusus untuk sikap di Jawa Timur, dia tetap mengedepankan musyawarah untuk mufakat dalam berpolitik membangun bangsa.

Tetapi, Soekarwo masih optimistis Partai Demokrat di Jawa Timur bisa masuk dalam tiga besar meski tidak menjadi jawaranya. "Entah satu, dua, atau tiga. Saya yakin masih bisa masuk tiga besar," imbuhnya.

BACA JUGA: PDIP Berjaya di Surabaya

Menurut dia, perhitungan semacam itu tetap realistis mengingat pemilihan legislatif punya karakteristik tersendiri. Pileg punya lebih banyak mesin penggerak untuk mengajak warga bisa hadir di TPS. Sebab, caleg punya kepentingan untuk bisa mendapatkan suara dari para konstituennya yang mencoblos di TPS.

Selain itu, dia memprediksi jumlah golput turun di Jatim. Dia memperkirakan jumlah golput sekitar 30 persen. "Kalau di sini mungkin terlihat relatif sepi, tapi di desa-desa pemilih cenderung lebih banyak," ujarnya.

BACA JUGA: Temuan Bawaslu, Seluruh Surat Suara Tak Diteken KPPS

Soekarwo yang juga gubernur Jawa Timur itu terlihat mengenakan baju batik kuning keemasan kemarin. Dia datang ke TPS sekitar pukul 10.00 dengan ditemani istrinya, Nina Kirana. Dua anak Soekarwo, Ferdian Timur Satya Graha dan Kartika Ayu Prawitasari, juga turut dalam rombongan. Tak ketinggalan, istri Ferdian, Asdita Aprialiasari. Putri kedua, Karina Ayu Paramita, telah mencoblos di Australia.

Sebelum mencoblos, Soekarwo melihat ada kejanggalan dalam daftar nama calon anggota legislatif DPRD Surabaya. Nomor urut Partai Demokrat yang semestinya tujuh ternyata enam. Ketua Kelompok Pemungutan Suara (KPPS) TPS 27 Acmad Rusdianto langsung menggantinya dengan spidol. Nomor enam diganti dengan tujuh.

Pada saat Soekarwo mendatangi TPS, kondisi memang sedang sepi. Tak ada antrean sehingga namanya langsung bisa dipanggil untuk mencoblos.

Soekarwo mencoblos di bilik suara dari kardus warna putih. Setelah mencoblos kertas suara, dia menyatakan cukup kesulitan untuk melipatnya. Sebab, ukuran kertas agak besar. Soal partai yang dicoblos, dia sendiri mau buka-bukaan. “Ya tahu sendirilah saya kan ketua partai. Kalau tidak nyoblos, nanti bisa kena desersi," tuturnya yang diiringi dengan tawa kecil. Soekarwo meninggalkan TPS sekitar pukul 10.30.(tim jp/c7/end)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ratusan TPS Bermasalah Akibat Persoalan Logistik Pemilu


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler