Papua, Cinta Indonesia, dan Pendekatan Sepak Bola

Selasa, 27 Agustus 2019 – 20:22 WIB
Rudi S Kamri. Foto: Dok Pri

jpnn.com, JAKARTA - Oleh: Komisioner Komite Perubahan Sepak Bola (KPSN) Rudi S Kamri

 

BACA JUGA: Ibu Kota Pindah ke Kaltim, Billy Syahputra: Yang Penting Syuting Dibayar

Sejak dulu entah mengapa cinta saya terhadap Papua begitu dalam. Alamnya yang indah bak surga jatuh ke bumi dan orang-orangnya yang eksotis membuat saya jatuh cinta tiada tara.

Demikian cintanya saya dengan Papua sehingga perlakuan apa pun yang tidak sepatutnya kepada saudara kita di Papua serasa membuat hati saya bergolak meradang. Seakan luka itu saya ikut merasakan. 

BACA JUGA: Kemendagri: Pembatasan Internet di Papua seperti Minum Obat

Sejauh ini orang-orang Papua yang saya kenal semuanya berlaku santun, sangat respek dan toleran.

Jadi, manakala Presiden Joko Widodo memperlakukan Papua sebagai “anak emas” selama periode kepemimpinannya, saya sama sekali tidak iri atau keberatan.

BACA JUGA: Kemenkominfo Batasi Internet di Papua, Kemendagri: Pahit Sebentar

Saat ini suhu di Papua sedang demam tinggi. Kehormatan mereka sedang terkoyak. Kejadian di Asrama Mahasiswa Surabaya harus diusut tuntas. Oknum aparat TNI yang melakukan tindakan rasisme juga harus dihukum.

Demikian juga oknum Polwan yang mengirimkan minuman keras (miras) ke asrama Papua di Bandung juga harus ditindak.

Akan tetapi, masyarakat Papua juga harus jernih melihat siapa yang melakukan penghinaan tersebut dan motif apa yang melatarbelakanginya.

Yang jelas bukan masyarakat Surabaya atau Bandung apalagi masyarakat Indonesia. Cinta Indonesia pada Papua adalah bagian dari perjalanan kebersamaan sebuah bangsa. 

Masyarakat Papua harus tahu juga bahwa saat ini situasi panas di Papua sedang ditunggangi oleh kepentingan politik tertentu, baik di luar negeri maupun di dalam negeri.

Kelompok separatis yang dimotori oleh Benny Wenda dan kawan-kawan dan pemanfaatan momentum pertemuan negara-negara Melanesia sudah jelas ikut bermain api untuk memprovokasi situasi.

 Isu Papua akan diperdagangkan ke dunia internasional. Itu keinginan busuk mereka. Jadi, saudara-saudaraku di Papua harus menyadari hal ini.

Pilihan terbaik seharusnya kita semua diam menahan diri agar api kemarahan rakyat Papua segera padam dan tidak semakin bergejolak.

Kita percayakan kepada Presiden Jokowi dan timnya untuk menyelesaikan masalah Papua ini. Seluruh masyarakat Indonesia tahu, Jokowi sangat cinta Papua. Cinta yang luar biasa.

Gubernur Papua Lukas Enembe juga harus bijak. Dia seharusnya menyadari betapa perhatian Presiden Jokowi kepada Papua begitu besar.

Menyelesaikan masalah Papua harus dengan hati dan cinta, bukan dengan senjata. Mungkin juga melalui pendekatan sepak bola.

Sebab, masyarakat Papua sangat gila bola. Papua adalah gudangnya talenta sepak bola dan ada yang menyebut Papua adalah Brasil-nya Indonesia. 

Ini yang akan kami lakukan segera. Bersama Ekspedisi KPSN Mutiara Hitam 2019, saya akan mengunjungi Papua.

Ekspedisi yang dipimpin Ketua Komite Perubahan Sepak Bola Nasional (KPSN) Suhendra Hadikuntono dan mengajak legenda sepak bola Indonesia asal Papua seperti Johannes Auri, Berty Tutuarima dan lain-lain akan turun ke Papua untuk membagikan ratusan bola dan bermain bola bersama anak-anak Papua. 

Kami akan datang dengan cinta memeluk hangat Papua. (*)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Rekor MURI: 37.449 Orang Serentak Baca Teks Pancasila, Termasuk Pelajar Asal Papua


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler