Pasca Gempa Popularitas Naoto Kan Naik

Senin, 28 Maret 2011 – 07:51 WIB

TOKYO- Bencana gempa dan tsunami yang melanda Jepang, "menguntungkan" bagi pemerintahSebuah survei menunjukkan bahwa popularitas Perdana Menteri Naoto Kan meningkat setelah dinilai mengambil langkah-langkah tepat dalam menangani bencana.

Poling yang dilakukan oleh kantor berita Kyodo menunjukkan, dukungan terhadap Naoto Kan dan kabinetnya meningkat menjadi 28,3 persen

BACA JUGA: Kejutan dari Xanana

Februari lalu, sebelum terjadinya bencana, popularitas Kan terpuruk hingga di bawah 20 persen.

Rendahnya dukungan terhadap Kan, bulan lalu, sempat menimbulkan kekhawatiran bahwa "nyawa" pemerintah hanya tinggal menunggu hari
Sementara, hasil poling terbaru, meski angkanya masih rendah, menunjukkan bahwa Kan berhasil meningkatkan simpati masyarakat.

Sekitar 58 persen responden di tingkat nasional, dalam surbei yang dilakukan Sabtu (26/3) dan Minggu (27/3) menyatakan bahwa tindakan pemerintah sudah benar dalam menangani bencana tsunami dan gempa bumi 11 Maret

BACA JUGA: Negosiasi Pemerintah - Oposisi Yaman Buntu

Namun presentase yang sama juga mengkritik pemerintah dalam menangani krisis nuklir pasca meledaknya reaktor di PLTN Fukushima.

Kekecewaan masyarakat tersebut juga dicurahkan dalam bentuk demo
Kemarin (27/3) ratusan orang turun ke jalan untuk bergabung dengan aktifis anti nuklir

BACA JUGA: Lampu Padam Sejam di 134 Negara

Mereka prihatin dengan krisi nuklir yang terjadi akibat meldaknya reaktor di PLTN Fukushima, pasca gempa bumi dan tsunamiDi ibu kota, sekitar 300 orang berjalan ke arah kantor pusat Tokyo Electric Power, perusahaan operator PLTN Fukushima Daiichi"Kami tidak butuh PLTN," teriak para demonstran

Massa dalam jumlah yang sama juga berdemonstrasi di pusat Kota NagoyaMereka berkumpul di luar kantor cabang perusahaan operator listrik daerah Chubu Electric Power"Kami tak ingin ada Fukushima lainnya," teriak mereka.  "Saya ingin menentukan jalan hidup saya sendiri dan tidak ingin meninggalkan bahaya bagi generasi berikutnya," ujar seorang penduduk Nagoya, Shigeko Furumichi, 63, yang bergabung dengan demonstran

Para pemerhati lingkungan telah lama memperingatkan adanya risiko akibat pembangunan PLTN Hamaoka, oleh Chubu Electric Power, di Prefektur Shizouka, 120 kilometer dari NagoyaPLTN tersebut bediri di atas area gunung berapi dekat pertemuan dua lempeng yang berpotensi menjadi epistentrum gempa berskala besarJepang, yang menjadi rumah bagi 20 persen gempa bumi terdahsyat, 30 persen pasokan listriknya justru digerakkan oleh PLTN

PLTN Fukushima yang sudah tua rusak akibat gempa 9,0 skala richter dan tsunamiRadiasi nuklirnya telah mengontaminasi bahan makanan dan air minum di sekitarnya"(Pemerintah) Jepang selalu berbohong ketika mempromosikan keuntungan penggunaan PLTN," tandas seorang demonstran, Atsuchi Fujuki.  

Di tengah kegalauan masyarakat, pemerintah Jepang mengungkapkan adanya kesalahan prosedur yang dilakukan operator PLTN Fukushima, TEPCO dalam menangani kerusakan reaktorSalah satunya adalah mengirimkan pekerja ke dalam reaktor tanpa mengenakan alas kaki

Juru bicara pemerintah Yukio Edano mendesak agar TEPCO lebih tranparanDua hari lalu, dua orang pekerja di PLTN Fukushima Diichi menderita luka bakar pada kulit kakinya, setelah menginjak air yang sudah terkontaminasi radioaktif 10 ribu kali lipat dari normal"Kami dengan tegas mendesak TEPCO untuk memberikan informasi lebih jelas kepada pemerintah," tandas Edano seperti dilansir AP(cak)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Radiasi Nuklir Jepang Melonjak 10 Juta Kali


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler