Pedagang Pisang Ketiban Untung Selama Pandemi

Kamis, 29 Oktober 2020 – 20:54 WIB
Pedagang pisang ketiban untung selama pandemi. Foto: antara

jpnn.com, LEBAK - Omzet pedagang pisang di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten meningkat di tengah pandemi COVID-19 menyusul permintaan pasar dari luar daerah relatif tinggi.

"Kami hari ini memasok ke Jakarta sebanyak empat ton dari biasanya dua ton/tiga hari," kata Sukri (55), seorang penampung pisang di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Rabu.

BACA JUGA: Benarkah Pisang Bisa Atasi Diare? Cek Faktanya

Meningkatnya permintaan pasar tersebut sehubungan pasokan pisang dari Lampung yang dikirim ke Jakarta relatif terbatas, akibat adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Para penampung pisang di daerah ini, tentu merasa kewalahan melayani pesanan dari Jakarta hingga permintaan mencapai dua kali lipat.

BACA JUGA: Tak Tahan Lihat Kemolekan Tubuh Ponakan, Hono Kalap Sampai 3 Kali, Hamil Pula!

Namun, pihaknya mengalami keterlambatan pasokan ke luar daerah akibat fenomena La Nina yang mengakibatkan curah hujan meningkat.

Mereka petani semestinya bisa menebang buah pohon pisang yang sudah berbuah tua lebih cepat, namun terhambat hujan itu.

BACA JUGA: Ini Strategi Jitu Sang Pisang untuk UMKM Agar Bertahan di Kala Pandemi

"Kami menyimpan pisang dari petani itu selama tiga hari dan bisa dipasok ke Jakarta," katanya menjelaskan.

Menurut dia, dirinya menampung pisang petani itu dengan harga berkisar Rp20-25 ribu/tandan untuk jenis pisang ketan, kepok, ambon, galek, dan nangka.

Saat ini, dirinya memasok pisang ke Jakarta dengan modal Rp10 juta dan bisa meraup keuntungan bersih Rp1,2 juta, padahal sebelumnya keuntungan Rp600 ribu setelah dipotong bahan bakar minyak, makan dan minum.

Meningkatnya omzet penjualan itu, kata dia, akibat dampak PSBB COVID-19 sehingga penampung pisang cukup diuntungkan.

"Kami kebanyakan menampung pisang dari petani Baduy, karena memiliki keunggulan juga kualitasnya cukup bagus," katanya menjelaskan.

Muhammad Yamin (60) seorang bandar pisang dari Kabupaten Lebak mengatakan, dirinya merasa kewalahan melayani permintaan pasar hingga dua kali lipat.

Tingginya permintaan tersebut tentu berdampak terhadap pendapatan ekonomi petani, karena bisa menjual pisang antara Rp20-25 ribu per tandan.

Pisang dari petani itu, kata dia, dipasok ke Jakarta dan Tangerang hingga mencapai 12 ton menggunakan kendaraan Colt Diesel.

"Kami bersyukur adanya pandemi Corona cukup menguntungkan, terlebih pembayaran berjalan lancar dengan kontan," katanya menjelaskan.

Ia mengatakan, pisang yang ditampung itu dari Kecamatan Muncang, Cirinten, Leuwidamar, Bojongmanik, Cimarga dan Gunungkencana. 

Selama ini, komoditas pisang menjadikan produk andalan petani, karena setiap pekan mereka menjualnya ke berbagai pasar di Kabupaten Lebak. 

"Kami sekarang ini cukup tinggi permintaan pasar, karena pisang dari Sumatera ke Jakarta relatif terbatas adanya PSBB itu," katanya.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Kabupaten Lebak Rahmat Yuniar mengatakan, selama ini komoditas pisang menjadi andalan pendapatan ekonomi petani dan setiap hari memenuhi Pasar Rangkasbitung.

Perguliran uang hasil penjualan pisang mencapai miliaran rupiah per pekan dengan produksi ratusan ton.

"Kami terus mendorong petani agar meningkatkan kualitas benih, sehingga komoditas pisang Lebak bisa menembus pasar," katanya. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Rasyid Ridha

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler