Pejuang ini Dianugerahi Gelar Bapak Ilmu Pelayaran Karena...

Selasa, 27 Februari 2018 – 09:29 WIB
M Pardi, Bapak Ilmu Pelayaran. Foto: Dok. Dinas Sejarah TNI AL.

jpnn.com - MAS PARDI atau lazim tertulis M Pardi seumuran dengan Bung Karno. Negara menyematkannya gelar Bapak Ilmu Pelayaran.

Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Laut Sakti Karya Bertuah

Karirnya melejit. M Pardi satu di antara sedikit anak muda Indonesia yang dilantik menjadi perwira oleh Koninkijke Marine (K.M)—satuan Angkatan Laut di zaman Hindia Belanda.

Jadi, sewaktu menguasai negeri yang hari ini bernama Indonesia, pemerintah Hindia Belanda membuka beberapa sekolah untuk mencetak kader-kader pelaut.

BACA JUGA: Depati Parbo dan Hikayat Perang Kerinci

Antara lain; Prins Hendrik School Afdeling Zeevaarrkundig Leergang di Jakarta; Kweekschool voor Inlandse Schepelingen di Makassar; Zeevaartschool di Surabaya; K.P.M. Zeevaartschool di Jakarta.

Belanda merekrut anak-anak negeri jajahannya untuk mengabdi dalam Koninkijke Marine (K.M). Tetapi hanya sebagai matros saja. Pelayan dan koki.

BACA JUGA: Sejarah Kota Kelahiran Muhammad

Mulanya, anak-anak negeri jajahan tak diberi kesempatan memegang jabatan pimpinan. Belakangan, sedikit orang yang dianggap dapat dipercaya diberi pangkat onder officer. Meski jumlahnya hanya hitungan jari.

Di antara orang2 tadi dapat kita sebutkan di sini, beberapa nama… Jaitu; Pak Maridjo, Pak Pardi, Pak Adam, Pak Nazir, Pak Pirngadi dan lain2nja,” tulis arsip Sedjarah ALRI.

Ya, nama Pak Pardi yang tertulis dalam arsip tersebut, tak lain dan tak bukan adalah Mas Pardi, lelaki kelahiran Ambarawa, 1 Oktober 1901. Dan berpulang pada 13 Agustus 1968.

Pada zaman Jepang ia kembali mendapat kepercayaan bergiat di Gun Sei Kanbu Kaiyi Sokyoko—semacam Jawatan Pelayaran.

Semasa itu, “saudara tua” juga mendirikan sejumlah lembaga pendidikan kelautan.

Seperti Kooto zeh Inyu Yoseiso di Jakarta, Tegal, Semarang dan Cilacap. Sekolah ini dikenal dengan sebutan SPT, singkatan dari Sekolah Pelayaran Tinggi.

M Pardi aktif mengajar di SPT Jakarta. Ia instruktur untuk pelaut muda.

Pada 17 Agustus 1945, “kelompok pemuda-pemuda pelaut bersama dengan organisasi-organisasi pedjuang lainnja berbaris dari lapangan Gambir menudju ke Pegangsaan Timur untuk menjambut proklamasi kemerdekaan…,” tulis Sudono Jusuf dalam buku Sedjarah Perkembangan Angkatan Laut, terbitan Pusat Sedjarah ABRI, 1971.

M Pardi satu di antara penggeraknya.

22 Agustus 1945, sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) memutuskan pembentukan Komite Nasional Indonesia (KNI), Partai Nasional Indonesia (PNI) dan Badan Keamanan Rakyat (BKR).

KNI berfungsi semacam Dewan Perwakilan Rakyat. PNI sebagai satu-satunya partai politik di Indonesia. Hanya saja, melalui maklumat 31 Agustus 1945, pembentukan partai tunggal ini ditunda, dan segala perhatian dicurahkan ke KNI. Gagasan partai tunggal pun menguap sama sekali.

Seruan Bung Karno melalui siaran radio agar satuan-satuan perjuangan mendirikan Badan Keamanan Rakyat (BKR), disambut para tokoh pelaut dengan mendirikan BKR Laoet pada 10  September 1945.

BKR Laoet (cikal bakal TNI AL) bermarkas di Jl. Budi Utomo Jakarta Pusat.

M Pardi dipilih sebagai pimpinan. Didampingi antara lain oleh Martadinata, Adam, Darjaatmaka, R. Surjadi, Oentoro Koesmardjo.

BKR Laoet kemudian hari menjadi TKR Laoet, lalu jadi Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) dan kini TNI AL.

M Pardi digadang-gadang sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) pertama. Padahal tidak.

Yang pertama kali menjabat, “kepala putjuk pimpinan ALRI, Laksamana Muda Atmadji,” tulis Sudono Jusuf.

M Pardi memang pernah menduduki posisi tersebut. Tapi setelah Atmadji. Dia memimpin Markas Besar Oemoem Angkatan Laut yang berkedudukan di Yogya.  

“John Lie, penyelundup senjata terkenal di zaman perang kemerdekan yang telah diangkat jadi pahlawan nasional, ketika mau masuk ALRI menghadap M Pardi di Yogya,” kata Kolonel Ronny Turangan, mantan Kepala Dinas Sejarah Markas Besar TNI AL, kepada JPNN.

Waktu itu, M Pardi menugaskan John Lie ke Cilacap.

“Surat perintah dari M Pardi kepada John Lie dengan tugas pokok; latih perwira remaja, didik untuk penyapuan ranjau, buat alatnya, hitung pasang surut, rekrut pemuda di Cilacap,” papar Ronny.

Pensiun dari Angkatan Laut, M Pardi bekerja di Jawatan Pelayaran yang juga berkedudukan di Yogyakarta.

Masa-masa inilah dia merintis berdirinya Akademi Ilmu Pelayaran (AIP).

Beriringan saat merintis AIP Jakarta, pada 1951, dia berhasil mendirikan Sekolah Pelayaran Semarang (SPS) di Jl. Siwalan No.30, Semarang, Jawa Tengah.

Sekolah ini mendidik dan melatih calon pelaut bangsa Indonesia untuk tingkat dasar. 

Pada 1955, program pendidikan dan pelatihan di SPS ditingkatkan menjadi sekolah yang mendidik dan melatih para calon pelaut mulai tingkat dasar sampai perwira tingkat menengah (Mualim dan Masinis).

Oleh karena itu, namanya berubah menjadi Sekolah Pelayaran Menengah atau SPM Semarang.

Kini, sekolah yang penyelenggaraan pendidikannya di bawah naungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, jadi PIP Semarang, di Jl Singosari Raya No 2.

Selain itu, memandang pentingnya mendidik anak Indonesia yang sejak dulu terkenal dengan kepelautannya, memiliki jiwa bahari yang tangguh, serta mengingat 2/3 dari wilayah Republik Indonesia terdiri dari lautan, sehingga untuk memperkuat armada Indonesia, pada 1963, didirikannya lagi sekolah pelayaran bernama Akademi Maritim Djadajat.  

Maka negara Republik Indonesia pun menyematkannya gelar Bapak Ilmu Pelayaran. (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sebelum Dikoloni Spanyol, Filipina Dipimpin Perantau Minang


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler