Pemblokiran WhatsApp Bukan untuk Cuci Otak Netizen

Sabtu, 25 Mei 2019 – 06:40 WIB
Ilustrasi ketiga aplikasi Facebook, WhatsApp dan Messenger. Foto : The Times

jpnn.com, JAKARTA - Ketergantungan netizen terhadap platform media sosial (medsos) membuat mereka sangat sensitif ketika WhatsApp down.

Pembatasan fungsi sejumlah fitur dalam media sosial beberapa hari terakhir yang dilakukan pemerintah diartikan macam-macam.

BACA JUGA: Pembatasan Akses Media Sosial Sebagai Kebijakan Panik, Buka Segera!

Katanya, pembatasan itu dilakukan untuk menggiring masyarakat agar hanya mendapatkan informasi satu arah yang sudah di-setting melalui televisi.

BACA JUGA : WhatsApp Cs Down, Kominfo: Tenang Hanya Sementara

BACA JUGA: WhatsApp Dibatasi, Ramai Warganet Pakai Akses Alternatif VPN

Salah seorang netizen yang menyebarkan kabar tersebut adalah pemilik akun Cahaya Gemilang (fb.com/saadi.saadi.98499) di Facebook.

Pada 22 Mei 2019, akun itu mengunggah status yang di-posting di sebuah grup percakapan. ''WA diBlock. Kita sedang digiring ke media TV. Waspada diCUCI OTAK oleh mereka,'' tulisnya.

BACA JUGA: Telegram Kritik WhatsApp Karena Punya Masalah Besar

Hingga kemarin, posting-an tersebut belum dihapus. Sepertinya, tidak sedikit netizen yang termakan hasutan itu. Bahkan, status tersebut juga sudah dibagikan ulang 1.900 kali.

Padahal, penjelasan tentang pembatasan fitur medsos itu sudah disampaikan pemerintah dan dimuat di media-media mainstream.

BACA JUGA : WhatsApp Dibatasi, Ramai Warganet Pakai Akses Alternatif VPN

Contohnya, Jawapos.com yang memberitakan informasi tersebut pada 22 Mei 2019 dengan judul, Antisipasi Hoaks Aksi 22 Mei, Pemerintah Batasi Akses Medsos.

Tindakan itu dilakukan pasca kerusuhan pada Selasa malam di depan kantor Bawaslu. Pembatasan akses diberlakukan pada beberapa fitur saja.

Misalnya, video, foto, dan gambar pada medsos WhatsApp, Facebook, Instagram, dan Twitter.

Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara menyatakan, pembatasan akses medsos tersebut bersifat sementara.

BACA JUGA : Telegram Kritik WhatsApp Karena Punya Masalah Besar

 

Tujuannya, peristiwa kerusuhan pasca pengumuman hasil rekapitulasi tidak meluas. Bentuk pembatasan itu berupa pelambatan saat akan mengunggah foto atau video.

''Untuk mencegah viralnya aksi kerusuhan dan hoax yang bertebaran menyusul aksi tersebut,'' ungkapnya.

Senada, Menkopolhukam Wiranto menjelaskan bahwa akses medsos dibatasi agar masyarakat mendapatkan informasi yang akurat. Sebab, di medsos rawan informasi bohong alias hoaks

''Untuk menghindari provokasi, akan kami lakukan pembatasan akses di wilayah tertentu untuk tidak diaktifkan media sosial.

Akses di media sosial dinonaktifkan untuk menjaga hal negatif,'' ucap Wiranto. Anda dapat membaca berita itu di bit.ly/DibatasiSementara. (zam/c22/fat/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sebar Hoaks Soal 22 Mei, Pilot IR Ditangkap Polisi


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler