Pemenang dan Pecundang saat Reshuffle Kabinet

Oleh Dhimam Abror Djuraid

Senin, 17 Juli 2023 – 19:47 WIB
Budi Arie Setiadi mengucapkan sumpah jabatan di Istana Negara, Senin (17/7). Presiden Joko Widodo (Jokowi) melantik Budi Arie menjadi menkominfo menggantikan Johnny G. Plate. Dalam pelantikan itu, Presiden Jokowi juga melantik lima wakil menteri. Foto: Antara/Desca Lidya Natalia

jpnn.com - Surya Paloh melakukan flexing politik dengan mengumpulkan puluhan ribu pendukungnya dalam Apel Siaga Partai NasDem di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Minggu (16/7).

Namun, hanya sehari berselang, Presiden Jokowi langsung merespons dengan mengumumkan reshuffle kabinet.

BACA JUGA: Debat Capres Bayangan

Reshuffle itu mengurangi jatah Partai NasDem di Kabinet Indonesia Maju, dari tiga menteri menjadi dua menteri saja.

The showdown atau persaingan terbuka tidak bisa dihindari. Dalam pidato politik di GBK untuk kali pertama, Surya Paloh mengritik Jokowi secara terbuka.

BACA JUGA: Polemik JIS dan Pansos Politik

Selama ini ketua umum Partai NasDem itu berusaha menghindari kesan friksinya yang terbuka dengan Jokowi. Pernyataan normatif yang diulang berkali-kali oleh Surya Paloh ialah Partai NasDem akan tetap mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin sampai  masa jabatan pemerintahan saat ini tuntas.

Pekan lalu, Fraksi Nasdem di DPR RI menyatakan dukungannya atas pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesehatan yang kontroversial. Dengan mendukung undang-undang itu Nasdem ingin menunjukkan loyalitasnya kepada Jokowi.

BACA JUGA: Pantun Politik Butet dan Hasto

 Adapun PKS dan Partai Demokrat sebagai kompatriot Nasdem di barisan menolak RUU itu dengan melakukan walk out.

Hal paradoksal terjadi beberapa hari setelahnya. Partai NasDem menggelar apel siaga yang dimaksudkan sebagai show of force atau unjuk kekuatan terhadap Jokowi.

Surya Paloh ingin pamer otot politik untuk menyaingi PDIP yang baru saja memamerkan kekuatannya pada Puncak Peringatan Bulan Bung Karno di SUGBK pada 24 Juni lalu.

Dengan menggelar Apel Siaga Partai NasDem, Surya Paloh melakukan double strike atau serangan ganda, yakni kepada PDIP dan Jokowi.

Terhadap PDIP Surya Paloh melakukan flexing untuk menunjukkan bahwa dia juga bisa memobilisasi kader NasDem dalam jumlah yang tidak kalah ketimbang parpol pimpinan Megawati Soekarnoputri itu.

Terhadap Jokowi, Surya Paloh memamerkan kekuatan sekaligus mengingatkan betapa besar suara yang nanti akan melawan capres pilihan Jokowi di Pilpres 2024.

Dalam pidato politiknya, Surya Paloh menyerang langsung ke jantung Jokowi, yaitu program revolusi mental yang menjadi janji kampanye Presiden Ketujuh Ri itu.

Surya Paloh mengungkit utang politik Jokowi terhadap Nasdem yang menjadi pendukung utamanya sejak Pilpres 2014. Dukungan itu sudah saatnya berakhir pada 2024 mendatang, sehingga kini waktunya Surya Paloh memunculkan perubahan.

Surya Paloh berpikir bahwa dia tetap akan memegang kendali perubahan pada 2024. Dia ingin menunjukkan bahwa dirinya tetap memegang kendali untuk menentukan arah perubahan pasca-Jokowi.

Namun, Jokowi punya ide lain. Dia merasa punya wewenang dan kekuatan untuk menentukan siapa yang akan mewarisi mantel kepresidenannya.

Surya Paloh menginginkan perubahan, sedangkan Jokowi menginginkan keberlanjutan. Dua kepentingan itu berbenturan sehingga bentrokan tidak terhindarkan.

Surya Paloh secara terbuka menyerang Jokowi dengan mengatakan bahwa program revolusi mental telah gagal. Surya Paloh masih memakai eufimisme supaya tidak terdengar vulgar.

Namun, tidak bisa dihindari bahwa ia melempar kode keras dengan menyebut program revolusi mental tidak berjalan sesuai rencana.

Serangan terbuka ini tidak bisa didiamkan. Angin terlalu kencang menyerang Jokowi.

Belum lagi serangan dari Anies Baswedan yang selama sepekan sebelumnya menjadi trending topic yang memojokkan Jokowi. Dalam pertemuan para wali kota seluruh Indonesia di Makassar, Anies Baswedan secara terbuka menyerang rezim Jokowi yang gagal menyelesaikan ketimpangan pembangunan nasional.

Dalam forum itu, tiga bakal capres tampil. Ganjar Pranowo yang berusaha menempatkan diri sebagai fotokopi Jokowi tampil standar dan normatif.

Prabowo Subianto yang sedang menikmati dukungan dari Jokowi justru tampil kurang apik, bahkan tampak tidak menyiapkan diri dengan baik.

Tak ayal lagi, Anies yang melontarkan kritiknya atas pemerintahan Jokowi pun menjadi perhatian. Selanjutnya, Anies tampil menyampaikan pidato politiknya di Apel Siaga Partai NasDem di GBK.

Anies tetap tampil dengan jurus menyerang ketimpangan pembangunan rezim Jokowi. Namun, kali ini ia mengemasnya dengan berbeda, yakni menyampaikan kritiknya dalam bentuk doa politik.

Anies berdoa semoga Surya Paloh yang berulang tahun ke-72 diberi kesehatan dan kekuatan untuk membawa Indonesia menuju perubahan.

Anies berdoa supaya rakyat Indonesia terbebas dari kesulitan eknomi, bebas dari lilitan utang pinjol, enteng jodoh, dan lancar rezeki.

Anies mendoakan kaum disabilitas  mendapatkan kesetaraan dan perlindungan. Dia juga mendoakan para pekerja migran mendapat perlidungan selama bekerja di luar negeri.

Doa politik Anies menyerang jantung Jokowi. Reaksi cepat dilakukan dengan melakukan reshuffle.

Tujuannya ganda, yakni menjatuhkan penalti kepada Nasdem, sekaligus mengerem arus pemberitaan positif tentang Anies.

Reshuffle kabinet menunjukkan upaya Jokowi untuk melakukan konsolidasi menghadapi Pemilu 2024. Semua pos yang lowong diisi oleh loyalis Jokowi dan orang-orang terdekatnya.

Posisi menteri komunikasi dan informatika (menkominfo) diserahkan kepada Budi Arie Setiadi, ketua sukarelawan Projo.

Posisi Budi Arie sebagai wakil menteri desa dan pembangunan daerah tertinggal diganti oleh Paiman Rahardjo yang juga sahabat Jokowi dan ketua organisasi sukarelawan pendukung mantan wali kota Solo itu.

Ada lima  wakil menteri yang dilantik, yaitu Nezar Patria sebagai wamenkominfo, Pahala Mansury sebagai wakil menteri luar negeri, Rosan P Roeslani sebagai wakil menteri BUMN, dan Saiful Rahmat Dasuki sebagai wakil menteri agama.

Jokowi menjadi pemenang tunggal dalam reshuffle ini. Namun, diam-diam ada pemenang lain, yaitu Menteri BUMN Erick Thohir yang sukses menancapkan orang-orangnya di kabinet.

Sebut saja Nezar Patria, mantan jurnalis yang menjadi staf khusus menteri BUMN. Rosan Roeslani dan Pahala Mansury adalah teman-teman lama Erick Thohir.

Reshuffle kali ini terlihat sebagai kolaborasi Jokowi dan Erick Thohir. Reshuffle itu juga menjadi indikasi bahwa Erick memegang kepercayaan penting dari Jokowi.

Selanjutnya tinggal menunggu apakah Erick akan menjadi pilihan Jokowi sebagai cawapres mendampingi Prabowo.

Siapa pecundang dalam reshuffle ini?

Partai Nasdem jelas terpukul karena jatahnya dipereteli. Namun, PDIP juga menjadi pecundang karena tidak kebagian jatah apa pun.

Sejak awal PDIP paling getol memprovokasi Jokowi mendepak Nasdem dari barisan pendukung pemerintahan. Harapannya tentu supaya memperoleh tambahan jatah kursi di kabinet.

Akan tetapi, ternyata PDIP ditinggal oleh Jokowi dalam reshuffle ini. Selanjutnya tinggal menunggu the next showdown, persaingan terbuka antara Jokowi vs Megawati Sukarnoputri sebagai supremo PDIP.(***)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pemilu Terbuka & Twit False Flag Denny Indrayana


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler