Pemerintah dan Jiwasraya Diminta Prioritaskan Pembayaran Nasabah Tradisional

Senin, 24 Februari 2020 – 19:31 WIB
Ilustrasi Jiwasraya. Foto: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Ketua Program Studi Magister Perencanaan dan Kebijakan Publik Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia Falianty meminta pemerintah dan manajemen PT Asuransi Jiwasraya untuk memprioritaskan pembayaran nasabah produk asuransi tradisional ketimbang JS Saving Plan.

Menurut dia, hal ini harus dilakukan karena imbal hasil produk asuransi tradisional Jiwasraya terhitung lebih rendah atau seperti layaknya return pada produk asuransi umum lainnya.

BACA JUGA: Dimyati PKS: Pansus Jiwasraya Lebih Oke

"Sementara untuk produk JS Saving Plan, besaran imbal hasilnya diketahui di atas suku bunga deposito dan obligasi sehingga resikonya lebih tinggi," ujar Telisa kepada wartawan, Senin (24/2).

Telisa menerangkan, alasan lain mengapa nasabah produk tradisional harus diprioritaskan karena didasarkan pada jumlah pesertanya yang lebih banyak dibandingkan nasabah Jiwasraya di produk JS Saving Plan.

BACA JUGA: Usulan Pembentukan Pansus Jiwasraya Mandek di Pimpinan DPR

“Nasabah Jiwasraya di produk tradisional jumlahnya mencapai 4,7 juta orang. Sedangkan, nasabah Jiwasraya di produk JS Saving Plan hanya 17 ribu orang,” kata Telisa.

Diketahui, mayoritas nasabah tradisional Jiwasraya merupakan kaum menengah ke bawah seperti pensiunan, dan pegawai. Sementara nasabah JS Saving Plan, berangkat dari kalangan masyarakan menengah ke atas yang diyakini memahami resiko atas investasi.

BACA JUGA: Indef Nilai Omnibus Law Bukan Jalan Keluar Menarik Investasi

Atas hal itu, Telisa berpendapat, nasabah dari masyarakat bawah lebih besar dan memiliki dampak politik yang lebih tinggi ketimbang kalangan menengah ke atas.

Aulia pun menyarankan agar pemerintah menggunakan skema pembayaran 70 persen untuk nasabah produk tradisional dan sisanya 30 persen untuk bayar nasabah JS Saving Plan.

"Pemerintah harus punya roadmap yang jelas. Kalau mau cicil, seperti apa cicilannya. Jangan sampai nanti nyicil terus tidak jelas," ujar Aulia. (cuy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler