Pemerintah Ngotot Terapkan BSE

Harga Murah, Rawan Kepentingan Ideologis

Selasa, 22 Juli 2008 – 10:25 WIB
JAKARTA - Langkah Depdiknas menerapkan kebijakan buku sekolah elektronik (BSE) secara nasional, tampaknya, sudah tak bisa ditawar lagiPemerintah ngotot bahwa BSE merupakan solusi menurunkan harga buku pelajaran

BACA JUGA: Beasiswa Supersemar Jalan Terus

Meski begitu, PGRI mengkhawatirkan materi buku itu bisa disisipi kepentingan ideologis.   
Penanggung Jawab Teknis BSE dari Pusat Perbukuan Depdiknas Lexy Torar mengungkapkan bahwa dengan BSE, harga yang dilansir dari situs www.bse.depdiknas.go.id bisa di bawah Rp 20 ribu per buku
Sementara buku cetakan di pasaran dalam kisaran Rp 40 ribu

BACA JUGA: Dana BOS Bisa untuk Gandakan BSE

”Pasti sangat murah
Nanti tidak ada lagi orang tua yang mengeluhkan kesulitan buku

BACA JUGA: Lima Siswa Indonesia Raih Emas di Hongkong

Apalagi, yang beralasan karena harga,” jelasnya.
Melalui langkah itu, pihaknya yakin bahwa siswa yang belajar tidak kesulitan buku lagiDia mengharapkan masyarakat segera memanfaatkan fasilitas yang disediakan tersebutMengenai itu, kata Lexy, pemerintah daerah bisa mengambil peran seolah-olah sebagai penerbit buku”Pemerintah bisa mengunduh buku, kemudian memperbanyak sendiri,” katanya
Langkah tersebut juga bisa menjadi solusi bagi masyarakat yang belum mengenal internetDi sisi yang lain, pemerintah daerah, kata dia, bisa juga menyosialisasikan program ituMisalnya, memberikan pemahaman kepada guru bagaimana teknik mengunduh buku pelajaran dari internet secara efektif
Di seluruh Indonesia, saat ini tercatat 200 usaha penerbitan yang menekuni bisnis buku pelajaranNah, perusahaan yang menggandakan nanti harus mencantumkan nama perusahaan yang dimaksud tersebut’’Mereka harus bersedia bertanggung jawab terhadap yang diedarkan itu,” terangnya.
Ketua Umum PGRI Sulistyo pesimistis, program tersebut bisa berjalan efektifMenurut dia, program BSE terlalu terburu-buru diimplementasikan secara nasional’’Sebenarnya tujuan pemerintah baikTapi, perlu penataan segala sesuatunya harus lebih matang dulu,’’ ungkapnya
Dia menambahkan bahwa BSE berpeluang disusupi kepentingan ideologis’’Karena bisa digandakan dengan bebas, bisa saja orang yang tak bertanggung jawab berusaha menyisipkan kepentinggannya melalui materi pelajaran itu,” jelasnya.
Bukan hanya ituGuru yang mampu mengoperasikan internet di Indonesia saat ini relatif sedikitTerutama para guru yang mengajar di daerah-daerah terpencilUntuk menuju sekolah saja, mereka membutuhkan beberapa jam perjalananNah, sekarang mereka harus disibukkan mengunduh buku di internetApalagi, warung internet di daerah juga sangat terbatas. 
Yang agak repot lagi, tambah dia, adalah aturan yang tercantum di Permendiknas No 2 Tahun 2008 mengenai buku sekolah elektronik tersebutSalah satu pasal dalam peraturan menteri itu menyebutkan, guru dilarang berjualan buku’’Kalau kondisinya begini, bagaimana siswa di daerahMereka bisa kesulitan buku,’’ jelasnya
Belum tersedianya layanan internet di daerah berpeluang menyebabkan harga BSE lebih mahal dibandingkan dengan buku cetakan’’Kalau warnet saja jarang ada, tentu harga buku semacam itu (BSE, Red) bisa menjadi mahal,” ucapnyaDi beberapa daerah, kata dia, banyak guru yang justru berhubungan dengan penerbit dalam pengadaan buku. (git/iro)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kuliah di PTN Bisa Lewat Swasta


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler