Pemerintah Siapkan Rp 50 Miliar untuk Suplai Air Bersih

Rabu, 12 September 2018 – 22:35 WIB
Bantuan air bersih di wilayah yang mengalami bencana kekeringan. Foto: JPG/Pojokpitu

jpnn.com, JAKARTA - Kekeringan saat ini melanda sebelas provinsi. Data yang dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), kekeringan itu terjadi di 111 kabupaten/kota, 888 kecamatan, dan 4.053 desa.

BNPB menyediakan dana siap pakai Rp 50 miliar untuk mengatasi kekeringan tersebut.

BACA JUGA: Bertambah, 13 Desa Alami Kekeringan

Bantuan bersifat darurat itu digunakan untuk suplai air bersih, pengadaan tandon, dan sewa mobil tangki.

Juga untuk pembangunan bak penampung air dan sumur bor. ''Kami masih terus dropping air,'' kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

BACA JUGA: Ribuan Jiwa Krisis Air Bersih di Sini

Tahun ini musim kemarau berlangsung normal. Namun, bencana kekeringan tetap melanda beberapa tempat di wilayah Indonesia.

Beberapa daerah yang mengalami kekeringan cukup luas adalah Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogjakarta, Jawa Timur, NTB, NTT, dan Lampung.

BACA JUGA: ATB Tak Mengalir, Warga Terpaksa Pakai Air Galon untuk Mandi

Pendataan kekeringan di wilayah Bali juga masih dilakukan hingga kini. Namun, berdasar laporan BPBD Bali, kekeringan tidak terlalu berdampak luas di Pulau Dewata tahun ini.

Di Jawa Barat kekeringan melanda di 22 kabupaten/kota yang meliputi 165 kecamatan dan 761 desa. Kekeringan di Jawa Barat berdampak pada 1,13 juta penduduk yang mengalami kekurangan air bersih.

Di Jawa Tengah, 854 ribu jiwa penduduk terdampak kekeringan yang terdapat di 28 kabupaten/kota, 208 kecamatan, dan 1.416 desa.

Selanjutnya, di Nusa Tenggara Barat, 1.23 juta jiwa penduduk terdampak kekeringan di 9 kabupaten/kota, 74 kecamatan, dan 346 desa.

Musim kemarau diperkirakan berlangsung hingga September 2018. Puncak kekeringan berlangsung selama Agustus-September. BMKG memprediksi, awal musim hujan tahun ini terjadi pada Oktober.

Setiap wilayah berbeda-berbeda memasuki musim hujan. Jadi, kemungkinan ada daerah yang mengalami musim hujan November.

Sementara itu, puncak musim hujan terjadi pada Januari-Februari 2019. ''Diperkirakan, kekeringan pada 2018 ini tidak banyak berpengaruh pada ketahanan pangan,'' jelasnya.

Sutopo menambahkan, tidak banyak pertanian yang mengalami puso secara luas. ''Jadi, tahun ini tidak berdampak pada produksi pangan secara nasional,'' imbuhnya. (jun/c22/fim/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Karena Kekeringan, BPBD Gelontorkan Air Bersih ke 27 Desa


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler