Pentolan PDP Anggap Soeharto Lebih Baik Dari SBY

Karena Tak Paksakan Penyederhanaan Parpol

Rabu, 22 Desember 2010 – 17:37 WIB

JAKARTA - Ketua Pelaksana Harian Pimpinan Kolektif Nasional Partai Demokrasi Pembaruan (PLH PKN PDP), Roy BB Janis, menilai perilaku politik Presiden Soeharto jauh lebih baik dibanding penguasa saat iniAlasannya, Soeharto tidak pernah mematikan partai politik.

"Apa yang dilakukan Pak Harto jauh lebih baik daripada yang sekarang berkuasa," kata Roy BB Janis saat berdiskusi bertema "Mencari Parlementary Treshold (PT) Ideal Pemilu 2014", di press room DPR, Senayan Jakarta, Rabu (22/12)

BACA JUGA: Bursah Zarnubi Tawarkan Skenario Hadapi Partai Besar

Menurut Roy, Soeharto selama 30 tahun berkuasa tidak mematikan partai karena semua diajak musyawarah

Hasil musyawarah itulah yang pada akhirnya disepakati dengan fusi Partai hingga hanya ada PPP, PDI dan Golongan Karya (Golkar)

BACA JUGA: Temuan Bawaslu, 35 KPUD Masuk Angin

"Jadi tiga partai peserta pemilu di era Soeharto berkuasa merupakan produk musyawarah mufakat," ulasnya.

Sementara penguasa saat ini yang juga didukung partai-partai kecil pada Pilpres 2009, kata Roy, malah secara sistematis mematikan partai penyokongnya dengan cara melahirkan undang-undang partai politik yang tidak kondusif untuk demokrasi.

Roy yang pernah menjadi anak buah Megawati Soekarnoputri di PDI Perjuangan itu menambahkan, perilaku penguasa sekarang yang terang-terangan mematikan partai-partai di luar parlemen sesungguhnya bertentangan dengan amanat reformasi
"Multi-partai adalah amanat reformasi dan itu yang dimatikan oleh penguasa dengan cara pemberlakuan PT," imbuh Roy.

Dikatakannya pula, memberlakukan PT saja sudah tidak sesuai dengan filosofi dan nilai-nilai proklamasi yang sangat menghargai kebhinekaan yang menjamin kelompok minoritas

BACA JUGA: Imej MK Dorong Masuknya Gugatan Pilkada

Lebih lanjut Roy juga mempertanyakan munculnya sejumlah angka PT yang diisyaratkan oleh Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan Ketua Partai Golkar Priyo Budi Santoso.

"Bebarapa waktu lalu Anas menyebut PT empat persenItu mungkin dia lagi jalan-jalan dan baru empat langkah jalan lalu berhenti dan disebutlah empat persen PT cukup Demokrat," ujar Roy BB Janis.

Sedangkan PT 7 persen yang disebut Priyo, dinilai Roy sebagai ilusi"Barangkali Priyo Budi Santoso lagi bingungDi tengah kebingungannhya itu, melitas angka tujuh dan itu dijadikan patokan PT," tudingnya.

Selain itu, dia juga mengungkap keheranannya terhadap sikap dua petinggi partai itu yang akhir-akhir ini doyan dengan angka-angka dan menjauh dengan nilai-nilai filosofi dari sebuah undang-undang"Saya heran, orang sekelas Anan dan Priyo berpikirnya koq angka-angkaSebuah RUU mestinya harus dilandasi filosofis atau setidak-tidaknya sesuai dengan 4 pilar yang saat ini disosialisasi oleh MPR," harapnya.

Untuk itu, Roy mengingatkan Anas dan Priyo untuk tidak membiasakan diri dengan angka-angka dalam merumuskan kepentingan masyarakat karena tidak cocok dengan proklamasi.

Terakhir, Roy mengatakan saran untuk menggabungkan partai kecil kepada partai besar itu juga tidak jaminan bahwa kepentingan minoritas diperhatikan"Ide minoritas bergabung dengan dengan yang besar, itu maunya yang gampang sajaPertanyaan saya, apa yang besar mau bela yang minoritas? Tidak mungkin itu," pungkas Roy yang partainya hanya meraih 896.959 suara pada Pemilu 2009 lalu(fas/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Yenny Persilahkan Muhaimin Jadi Ketum


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler