Penyuluh & Petani Buktikan Pertanian Ramah Lingkungan Tingkatkan Produktivitas

Sabtu, 02 Maret 2024 – 10:51 WIB
Rata-rata petani di Kediri telah memanfaatkan pupuk kalium humat serta pupuk organik. Foto: source for JPNN

jpnn.com - JAKARTA - Kementerian Pertanian melakukan terobosan-terobosan melalui program andalan, seperti pertanian ramah lingkungan seperti yang dilakukan para petani di Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Kabupaten Kediri merupakan salah satu wilayah penghasil beras terbesar di Jawa Timur.

BACA JUGA: Tunjukkan Kualitas, Siswa SMKPP Kementan Raih Kompetensi Bidang Pertanian

Salah satu produsen beras di Kediri adalah Kelompok Tani "Tani Makmur Tosaren".

Dengan mengembangkan varietas Sertani 13A dengan umur tanaman sekitar 100 hari, hasil ubinan Kelompok Tani Makmur Tosaren mampu mencapai 4,94 kg setara 7,9 ton per hektare. Dari hasil ubinan tersebut berarti produktivitas padi di Kediri tersebut masuk dalam kategori bagus.

BACA JUGA: Genjot Produktivitas Padi & Jagung, Kementan Tingkatkan Keahilan Penyuluh Pertanian

Menurut Ketua Kelompok Tani Makmur Tosaren dan juga merupakan Ketua KTNA Kabupaten Kediri, Yohan Pramuda Arifianto menjelaskan bahwa hasil panen yang didapat dapat ditingkatkan lagi.

"Saat ini kami mengejar potensi beras sehat, bukan kuantitasnya,” ujarnya.

BACA JUGA: Kementan Pastikan Penyuluh Melakukan Pendampingan saat Masuk Musim Panen

Agus Fatoni selaku penyuluh yang mendampingi Yohan mengatakan bahwa rata-rata petani di Kediri telah memanfaatkan pupuk kalium humat serta pupuk organik.

“Kami berupaya untuk menjaga kualitas tanah dengan menggunakan bahan-bahan yang ramah lingkungan seperti pupuk," tutur Fatoni.

"Selain memproduksi panen, juga memperbaiki tanah. Karena makanan yang sehat berasal dari budidaya yang sehat. Ini sebagai upaya mendukung pola hidup sehat," imbuhnya.

Dia mengatakan, membudidayakan tanaman yang ramah lingkungan tanpa bahan kimia bisa diterapkan dan hasilnya sangat memuaskan, seperti yang diterapkan Yohan.

Rata-rata pH tanah mengalami kenaikan dari sebelumnya. Jika semula pH 4 – 5, kini menjadi pH 5,5 – 6, kandungan bahan organik di dalam tanah juga meningkat, penggunaan pupuk dan pestisida kimia sangat minim, serta hasil panen rata-rata menunjukkan peningkatan antara 10-20 persen.

Yohan juga menggunakan asap cair serta bahan formulasi dari limbah rumah tangga. Bahan-bahan tersebut menjadi andalannya untuk meningkatkan hasil produksi dan penanganan hama penyakit.

Yohan beserta anggota kelompoknya memanfaatkan penggunaan mekanisasi pertanian, seperti rice transplanter di awal tanam dan combine harvester di waktu panen.

Dengan demikian, sangat memengaruhi efisiensi biaya dan efektivitas waktu serta tenaga kerja yang digunakan.

"Dengan memanfaatkan alat dan mekanisasi pertanian, bibit dan pupuk dengan kualitas baik maka akan meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi padi," ujar Fatoni. (*/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mufthia Ridwan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler