JPNN.com

Peran Indonesia pada Organisasi Internasional: ASEAN dalam Pengembangan Ekonomi Biru

Oleh: Edria Faizah

Sabtu, 18 Januari 2025 – 21:30 WIB
Peran Indonesia pada Organisasi Internasional: ASEAN dalam Pengembangan Ekonomi Biru - JPNN.com
Proyek pengembangan dermaga SBI Pabrik Tuban, Jawa Timur, dilengkapi dengan fasilitas transport berupa tube conveyor sepanjang 4,1 km, tripper conveyor dan ship loader dengan kapasitas 1.000 tph untuk mengirim semen curah dari pabrik menuju kapal yang bersandar di dermaga. Foto dok SIG

jpnn.com - Ekonomi biru menjadi istilah yang sangat jarang digunakan pada kehidupan sehari-hari namun efek yang ditimbulkan sangatlah besar terutama pada negara Indonesia sebagai negara maritim.

Ekonomi biru merupakan pemanfaatan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk meningkatkan perekonomian negara, memperbaiki kehidupan masyarakat, dan menjaga kesehatan dari ekosistem laut.

BACA JUGA: Green Shipping, Langkah Penting untuk Ekonomi Biru di Indonesia

Perikanan, akuakultur, pelayaran, energi, pariwisata, dan bioteknologi kelautan menjadi beberapa aspek-aspek yang meliputi ekonomi ekonomi biru. 

Pada awal tahun 2000an ekonomi biru perlahan muncul saat pembangunan berkelanjutan mulai menjadi perhatian masyarakat. Ekonomi biru pertama kali ditemukan oleh Gunter Pauli, seorang pengusaha asal Belgia yang menulis buku yang berjudul “The Blue Economy: 10 Years, 100 Innovations, 100 million jobs”.

BACA JUGA: Ganjar-Mahfud Ingin Wujudkan Ekonomi Biru Indonesia

Buku tersebut membahas tentang konsep baru ekonomi yang dapat memanfaatkan sumber daya alam yaitu sumber daya kelautan, dengan sumber daya laut tersebut kita dapat membuat model bisnis baru.

Gunter Pauli menjelaskan bahwa sumber daya kelautan dapat memecahkan masalah-masalah perekonomian dunia. 

BACA JUGA: Ini Upaya KKP Mendukung Kebijakan Ekonomi Biru

Mengapa Ekonomi Biru Penting?

Setelah mengetahui apa itu ekonomi biru, pertanyaan yang tak kalah penting soal ekonomi biru adalah apa pentingnya ekonomi biru? Karena tanpa mengetahui pentingnya ekonomi biru mungkin beberapa dari kita tidak akan menganggap pertumbuhan perekonomian biru sebagai hal yang penting.

Sektor perekonomian biru terlebih lagi di negara maritim atau negara yang didominasi oleh laut seperti Indonesia, ekonomi biru dapat menjadi sektor pertumbuhan ekonomi yang cukup menguntungkan bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Berdasarkan Badan Pusat Statistik, selama lima tahun terakhir Produk Domestik Bruto (PDB) dan Atas Dasar Harga Konstan (ADHK) perikanan terus meningkat, pada tahun 2022 PDB dan ADHK mencapai Rp.275,5 triliun, data ini terus meningkat sebesar 15,44% dibandingkan tahun 2018.

Selain dari meningkatkan ekonomi, dengan melakukan ekonomi biru kita juga dapat melestarikan keanekaragaman hayati laut, memulihkan stok perikanan, serta menyediakan layanan ekosistem seperti penyerapan karbon dan melindungi sumber daya alam yang bernilai karena Indonesia berencana untuk memperluas kawasan perlindungan lautnya hingga mencapai 30% atau sekitar 97,5 juta hektar dari total perairannya pada tahun 2045.

Bagaimana Pandangan ASEAN terhadap Ekonomi Biru?

Potensi ekonomi biru yang dimiliki ASEAN sangat signifikan, mencakup sektor-sektor seperti perikanan, transportasi laut, pariwisata, dan energi terbarukan.

Dengan lebih dari 51,2% wilayahnya adalah lautan, Asia Tenggara merupakan salah satu penghasil ikan terbesar di dunia.

Menurut data dari Food and Agriculture Organization (FAO), dalam lima tahun terakhir (2017-2021), total produksi perikanan laut ASEAN rata-rata mencapai 29,9 juta ton per tahun, yang menyumbang 23,1% dari total produksi perikanan laut global.

Selain itu, ASEAN juga merupakan penghasil perikanan darat terbesar kedua setelah China, dengan produksi rata-rata sebesar 11,2 juta ton per tahun atau 19,4% dari total produksi perikanan darat dunia selama periode yang sama.

Dengan potensi yang dimiliki oleh ASEAN, pada September 2023 ASEAN telah melakukan rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN di Jakarta.

KTT tersebut menghasilkan beberapa deklarasi pemimpin, salah satunya adalah Deklarasi Pemimpin ASEAN tentang ASEAN sebagai pusat pertumbuhan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, para pemimpin sepakat untuk memperkuat ketahanan ASEAN terhadap guncangan di masa depan, memanfaatkan sumber pertumbuhan baru, serta memiliki visi yang ke depan.

Sebagaimana telah dideklarasikan, salah satu langkah untuk menjadi pusat pertumbuhan adalah dengan mendorong pemanfaatan potensi ekonomi biru sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru.

Secara umum, ekonomi biru merujuk pada pemanfaatan sumber daya laut untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, sambil tetap menjaga kelestarian dan kesehatan ekosistem laut.

Belakangan ini, beberapa negara dan kawasan mulai mengalihkan fokus perhatian mereka kepada pemanfaatan potensi ekonomi biru, termasuk ASEAN yang telah mendeklarasikan komitmennya terhadap ekonomi biru pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-38 di Thailand pada tahun 2022.

Hal yang telah Dilakukan ASEAN untuk Mendukung Ekonomi Biru

Proyek ASEAN Blue Economy Innovation resmi diluncurkan oleh Sekretaris Jenderal ASEAN pada tanggal 14 Mei 2024, dihadiri langsung Duta Besar Jepang untuk ASEAN dan Kepala Representasi UNDP (United Nations Development Programme) Indonesia.

Inisiatif ini mendapat dukungan dari pemerintah Jepang dan UNDP, yang berpusat di Jakarta, mengundang para negara-negara di dalam naungan ASEAN dan Timor Leste untuk mencari solusi atas rintangan dan juga upaya yang dapat dilakukan dalam ekonomi biru, yang meliputi ekosistem laut termasuk air tawar.

Dalam proyek ASEAN Blue Economy Innovation ini terdapat tiga kegiatan yang menjadi fokus primer dalam permasalahan dalam ekonomi biru.

Selain itu UNDP telah mendukung perekonomian biru secara internasional kurang lebih 25 tahun.

Organisasi ini sudah mengalokasikan dana lebih dari 1 miliar dolar AS agar dapat meningkatkan perlindungan ekosistem laut pada kurang lebih 100 negara.

UNDP juga bertanggung jawab untuk mengupayakan keberlangsungan ekonomi biru dan memanfaatkan potensi sumber daya pada laut juga air tawar agar dapat menciptakan pembangunan yang menyeluruh.

Salah satu contoh yang nyata adalah UNDP di Indonesia dapat melaksanakan visi misi pemerintah Indonesia untuk memperkuat kerja sama antara beberapa bangsa guna menjaga ekosistem laut dan mengupayakan pertumbuhan ekonomi biru.

Peran Indonesia terhadap Pengembangan Ekonomi Biru di Kawasan ASEAN

 Upaya yang telah dilakukan ASEAN tentunya juga dipengaruhi oleh negara Indonesia sebagai salah satu negara maritim di kawasan ASEAN.

Salah satu kontribusi Indonesia untuk mengembangkan ekonomi biru di kawasan ASEAN adalah ASEAN Blue Economy Forum (ABEF) 2023, ABEF adalah forum yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan dan sektor terkait dengan ekonomi biru di kawasan Asia Tenggara.

Forum ini berfungsi sebagai wadah untuk memfasilitasi kerja sama antarnegara anggota ASEAN dalam mendukung penerapan ekonomi biru.

ABEF berlangsung tanggal 2-4 Juli 2023 di Tanjung Pandan, Kepulauan Bangka Belitung.

Pada forum ini dibahas seberapa vitalnya ekonomi biru dalam kerja sama pada bidang ekonomi di kawasan ASEAN.

Pertemuan ini dilakukan agar target Indonesia 2045 dapat tercapai, Bappenas (Badan Pusat Perencanaan Nasional) telah membuat dokumen panduan untuk mencapai keberhasilan dalam ekonomi biru di Indonesia untuk tahun 2023-2045.

Dokumen tersebut menunjukkan jalur ekonomi maritim yang beragam, dengan tujuan agar ekosistem laut tetap sehat dan terjaga.

Tak kalah penting, dokumen ini dapat menjadi bimbingan agar kita dapat menerapkan ekonomi biru sebagai salah satu cara untuk merubah perekonomian dengan target Indonesia 2045, serta memberikan petunjuk untuk mewujudkan keberlanjutan ekonomi biru.

Harapannya, penerapan ekonomi biru dapat menjadi wadah yang baik untuk perkembangan perekonomian juga sosial Indonesia, dapat menciptakan ekosistem laut yang terjaga, dan meningkatkan daya tahan bagi generasi mendatang.

Tak hanya itu, Indonesia juga memberikan dukungan konkret dengan menggelar Forum Ekonomi Biru ASEAN kedua di Vientiane, Laos pada Sabtu, 10 Agustus 2024.

Forum ini adalah salah satu proses yang penting untuk pelaksanaan Kerangka Kerja Ekonomi Biru ASEAN atau ABEF yang telah diterima oleh para anggota dari negara-negara yang tergabung dalam ASEAN pada KTT ke-43 pada 5 September 2023.

Penyelenggaraan kegiatan terkait ekonomi biru oleh Laos, dengan dukungan dari Indonesia melalui Bappenas serta koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, merupakan langkah positif untuk memastikan keberlanjutan prioritas Indonesia dan menjaga isu ekonomi biru tetap menjadi agenda di ASEAN.

Dalam pembukaan ABEF kedua, Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas menekankan bahwa ASEAN memiliki potensi untuk memimpin pengembangan ekonomi biru secara global dengan memanfaatkan sumber daya laut dan air, mendorong pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan kemakmuran bersama melalui penguatan kerja sama dan kolaborasi.

Forum ini dibagi menjadi tiga sesi utama berdasarkan strategi utama ekonomi biru ASEAN: Konservasi Biru, Sains, Teknologi dan Inovasi Biru, serta Penciptaan Nilai Tambah dalam Sektor Prioritas.

Asisten Deputi Kerja Sama Ekonomi Regional dan Sub Regional Kemenko Perekonomian, Netty Muharni, menyatakan bahwa kerja sama ekonomi biru sangat penting di kawasan ASEAN dan sub-regional dalam kerangka kerja sama IMT-GT.

Ia menekankan perlunya sinergi antara kedua inisiatif ini untuk memaksimalkan potensi ekonomi biru serta melibatkan pemerintah daerah secara lebih baik, seperti penggunaan teknologi untuk pemantauan mangrove di Kalimantan.

Forum ini menghasilkan sejumlah rekomendasi praktis terkait ekonomi biru yang dapat dipertimbangkan oleh ASEAN, termasuk pembentukan aliansi ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi regional untuk mendorong adopsi teknologi dalam ekonomi biru.

Hasil pertemuan tersebut kemudian dipresentasikan oleh Indonesia dalam pertemuan pertama ASEAN Task Force on Blue Economy (1st ACTF-BE) sebagai rekomendasi untuk penyusunan ASEAN Blue Economy Implementation Plan.

Peran Indonesia pada kawasan ASEAN mengenai sektor perekonomian biru sangatlah besar. Perekonomian biru menjadi sangat vital karena dapat menjadi satu cabang yang sangat menguntungkan mengingat Indonesia adalah negara maritim.

Upaya yang telah dilakukan ASEAN termasuk Indonesia untuk mendukung ekosistem laut yang berkelanjutan juga menjadi poin penting yang mendorong terjadinya perbaikan sistem ekonomi juga sosial pada negara-negara di Asia Tenggara.

Dengan memajukan perekonomian biru masa depan ASEAN termasuk Indonesia akan terjamin. ***


Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Ridwan Sangaji

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler