Perangi Hoaks tentang Produk Tembakau Alternatif, Hasil Riset Harus Terus Disampaikan

Rabu, 14 Oktober 2020 – 12:34 WIB
Tembakau kering yang menjadi bahan baku rokok. Foto/ilustrasi: Ara Antoni/JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Amaliya, mengatakan informasi yang keliru terhadap produk tembakau alternatif, seperti produk tembakau yang dipanaskan maupun rokok elektrik, masif berkembang.

Padahal, produk ini merupakan inovasi yang didukung oleh bukti ilmiah yang berpotensi memberikan alternatif bagi perokok dewasa dengan pendekatan pengurangan risiko dibandingkan terus merokok yang terbukti secara ilmiah lebih berbahaya.

BACA JUGA: Pemerintah Diminta Dengarkan Suara Konsumen terkait Regulasi Produk Tembakau Alternatif

“Banyak hoaks yang sangat berbahaya, dan kami mencoba meluruskan misinformasi tersebut dengan secara aktif melakukan penelitian dan mempublikasikan hasilnya kepada publik. Tujuannya adalah memberikan fakta yang benar dan bermanfaat bagi berbagai pemangku kepentingan,” ujar Amaliya dalam forum Scientific Summit ke-3 yang diselenggarakan secara daring.

Untuk mengurangi informasi yang keliru terhadap produk tembakau alternatif, Amaliya mendorong pemerintah Indonesia turut melakukan dan mendorong kajian ilmiah yang melibatkan semua pemangku kepentingan.

BACA JUGA: Pembatasan Penggunaan Produk Tembakau Alternatif Dinilai Langgar Hak Konsumen

Hasil dari riset tersebut bisa menjadi acuan bagi pemerintah untuk menyampaikan informasi yang akurat mengenai produk tembakau alternatif serta mengatur melalui regulasi yang proporsional sesuai dengan risiko produk, agar perokok memiliki opsi untuk beralih.

Sebagai langkah awal, YPKP bersama Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR) telah menyampaikan hasil-hasil riset produk tembakau alternatif kepada pemerintah.

BACA JUGA: Petani Tembakau dan Gapero Minta Pemerintah Batalkan Kenaikan Cukai Rokok 2021

“Kami sudah menyampaikan hasil penelitian dari para ahli di seluruh dunia maupun beberapa penelitan kami sendiri kepada pemerintah, tetapi jalan masih panjang. Kondisi ini mencerminkan bagi semua pemerhati dan praktisi harm reduction yang masih memiliki jalan panjang dengan banyaknya informasi menyesatkan,” serunya.

Fakta bahwa produk tembakau alternatif memiliki risiko lebih rendah diamini Ahli Toksikologi dari Universitas Airlangga, Sho’im Hidayat.

Dalam kesempatan terpisah, Sho’im menjelaskan nihilnya proses pembakaran pada penggunaan produk tembakau alternatif mengurangi risiko yang timbul dibandingkan rokok.

“Tanpa adanya proses pembakaran, kandungan bahan-bahan kimia berbahaya pada produk tembakau alternatif jauh lebih rendah dalam kuantitas dan kadarnya dari rokok. Namun, bukan berarti produk ini sepenuhnya bebas risiko,” ungkap Shoim.

Karena itu, Shoim meminta pemerintah mendorong kajian ilmiah dalam negeri untuk membuktikan produk tembakau alternatif lebih rendah risiko daripada rokok.

Hasil riset tersebut nantinya menjadi acuan untuk penyebaran informasi akurat produk tembakau alternatif.

“Adanya kajian ilmiah lokal akan mengurangi informasi keliru terhadap produk tembakau alternatif. Dengan begitu, penggunaan produk ini bisa dimaksimalkan untuk perlindungan konsumen dan juga dapat dioptimalkan untuk kepentingan kesehatan masyarakat,” tandas dia.(chi/jpnn)

Simak! Video Pilihan Redaksi:


Redaktur & Reporter : Yessy Artada

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler