Kisah seorang perawat asal Australia Selatan, Elaine Balfour-Ogilvy, dan eksekusi terhadapnya selama Perang Dunia II akan disajikan dengan makan siang di kampung halamannya pada saat peringatan Hari Anzac (25/4).

Sosok Elaine ditampilkan di alas piring khusus, yang dibuat untuk mengenangnya dan ditempatkan tepat di depan para pengunjung di hotel dan klub di kota Renmark, wilayah Murray River.

BACA JUGA: Sandal yang Terbuang di Pantai Ini Diubah Jadi Pohon

Tentu saja, kota ini memiliki tugu peringatan permanen - sebuah balok yang dilapisi papan penghargaan, sebuah salib pengorbanan dan simbol peringatan lainnya - namun kekhawatiran yang dimiliki organisasi veteran (RSL) setempat adalah bahwa orang-orang tak lagi membaca namanya di dalam peringatan ini.

Mereka khawatir bahwa cerita tentang para perempuan dan pria lokal yang bertugas di masa perang dilupakan.

BACA JUGA: Timses Ahok: Setop Memancing di Air Keruh!

"Wajah dan pengorbanan korban ditampilkan dan Anda membaca ceritanya lalu ini menjadi bahasan diskusi," kata presiden RSL Renmark, Ray Hartigan.

"Bukan hanya sekedar kebiasaan Hari Anzac, ada fokus terhadapnya, jika tidak, mereka (korban) hanya menjadi massa biasa, padahal mereka adalah 'prajurit', 'perawat'," tuturnya.

BACA JUGA: Ikan Jadi Menu Favorit Australia di Hari Paskah

Tujuh puluh lima tahun yang lalu, Suster Balfour-Ogilvy dieksekusi oleh tentara Jepang di Bangka, sebuah pulau di sebelah timur Sumatra, dalam sebuah pembantaian yang sekarang termasuk salah satu kejahatan perang paling berdarah pada Perang Dunia II.

Namanya diabadikan di Perpustakaan Anak Renmark dan sebagai jalan lokal namun banyak warga yang belum pernah mendengar cerita mengejutkan yang dialaminya.

"Ia adalah seorang gadis lokal dan hidupnya berakhir pada usia 31 atau 32 dalam keadaan yang sangat mengerikan. Kondisi ini menyoroti kebrutalan dan kebodohan perang," kata Hartigan.

Program alas piring bergambar wajah Elaine Balfour-Ogilvy -yang telah dijalankan selama tiga tahun -ini adalah gagasan Ray Hartigan.

Ia khawatir bahwa janji untuk mengingat pengorbanan perang menjadi semakin sulit dipertahankan seiring berlalunya generasi.

"Kami bilang 'jangan sampai kita lupa', nah, jangan lupa, mari kita beri nama dengan tidak melupakan dan mempersonalisasi hal mengerikan yang disebut perang ini," ungkapnya. Suster Elaine Balfour-Ogilvy berasal dari Renmark di wilayah Riverland, Australia Selatan.

Supplied: Australian War Memorial (P01021.001) Putri dari keluarga terpandang

Suster Balfour-Ogilvy adalah putri Harry dan Jane Balfour-Ogilvy, dan merupakan salah satu dari tiga gadis dan dua anak lelaki yang ada dalam keluarga tersebut.

Ia dididik di Sekolah Grammar Church of England di Renmark dan kemudian belajar keperawatan di Sekolah Grammar Woodlands di Adelaide.

Kerabat Elaine yang bernama David Balfour-Ogilvy tumbuh mendengar kisah Elaine dan mengatakan bahwa tak sampai perang hampir berakhir ketika keluarganya mengetahui pembantaian tersebut.

"Saudara laki-laki Elaine, yakni Spencer, saat bertugas di RAAF di Inggris / Skotlandia, merasa aneh bahwa surat-surat yang ia tulis tetap tak terjawab karena Elaine adalah koresponden yang sangat baik," kata David.

"Butuh waktu mendekati akhir perang untuk menemukan pembantaian di Pulau Bangka dan pengaruhnya terhadap keluarga Ogilvy sangat dalam," ungkap David.

Selama perang, Elaine Balfour-Ogilvy ditugaskan ke pangkalan ‘2/4 Casualty Clearing Station’ di Singapura.

Saat kejatuhan Singapura sudah dekat, keputusan dibuat untuk mengevakuasi para perawat.

Pada tanggal 12 Februari 1942, Suster Balfour-Ogilvy menjadi salah satu suster yang terakhir pergi, berkerumun di kapal SS Vyner Brooke dengan 65 perawat serta prajurit, pasien, perempuan dan anak-anak.

Kapal itu dibom dan tenggelam lalu 12 perawat kehilangan nyawa mereka.

Sisanya mencapai Pulau Bangka setelah berjam-jam di sekoci, bersandar pada puing-puing, berenang atau mengambang di tengah air pasang. Presiden RSL Renmark, Ray Hartigan, ingin agar alas piring peringati Hari Anzac mempersonalisasikan perang dan memastikan bahwa mereka yang berjasa tak dilupakan.

ABC Riverland: Catherine Heuzenroeder Penyintas dibantai Jepang

Sekitar 100 orang yang selamat termasuk 22 perawat, tentara sekutu dan perempuan sipil serta anak-anak berkumpul di Pantai Radji dan sebuah keputusan untuk menyerah sebagai tawanan perang ke Jepang-pun dibuat.

Perempuan sipil dan anak-anak dibiarkan untuk menyerahkan diri sementara perawat dan tentara, termasuk yang terluka, menunggu di pantai.

Ketika tentara Jepang tiba pada tanggal 16 Februari, rombongan itu dieksekusi, para perawat dipaksa berjalan ke air dan ditembaki dengan senapan mesin dari belakang.

Hanya satu perawat, yakni Suster Vivian Bullwinkel, yang selamat dengan berpura-pura mati.

"Pembantaian ini tak diketahui sampai Suster Bullwinkle dilepaskan dari sebuah kamp tahanan mendekati masa berakhirnya perang, karena ia hanya terluka dalam serangan tersebut dan terbaring di air," kata David Balfour-Ogilvy. Para perawat dari pangkalan ‘2/4th casualty clearing station’, bersama dengan suster Balfour-Ogilvy (ketiga dari kiri).

Supplied: Australian War Memorial (P01691.003) Elaine dikenang sebagai perenang tangguh

Kematian brutal dan tanpa harapan yang dialami Suster Balfour Ogilvy sangat kontras dengan semangat yang ditunjukkannya saat masih hidup.

Selama berjam-jam di air setelah tenggelamnya kapal, ia mengandalkan kemampuan renangnya -yang terasah selama masa kecil di sepanjang Sungai Murray -untuk bertahan hidup.

"Seorang perawat lainnya, yakni Kapten Ellen Hannah yang berada di dalam air, menggambarkannya sebagai perenang yang tangguh dan mereka saling menjaga satu sama lain," kata David Balfour-Ogilvy.

"Namun Ellen tak bisa menjangkaunya dan perawat lainnya dan kehilangan semua kontak. Ellen terdampar ke darat dan ditangkap serta menghabiskan sisa masa perang di sebuah kamp tahanan perempuan," jelasnya.

Program alas piring memperingati Hari Anzac ini akan berlanjut tahun depan dengan rencana untuk menceritakan kisah penduduk lokal Riverland lainnya, yakni tentara Sikh bernama Sarn Singh.

"Kami memutuskan, kami ingin melakukan sesuatu untuk mempersonalisasikan dan mengabadikan orang-orang ini," kata Hartigan. Tanda peringatan didirikan di Pantai Radji untuk 50 orang yang dieksekusi di tempat itu.

Supplied

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Diterbitkan: 16:10 WIB 21/04/2017 oleh Nurina Savitri.

Lihat Artikelnya di Australia Plus

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tekad ‘Zero Waste’ SD di Adelaide

Berita Terkait