Perjalanan 2 Hari Demi Ikut UNBK, Mereka Juga Anak Indonesia

Sabtu, 03 Maret 2018 – 00:05 WIB
Pelajar SMAN 10 saat hendak berangkat dari Long Alango Kecamatan Bahau Hulu Kabupaten Bulungan menuju Tanjung Selor Kabupaten Bulungan. Foto: POLSEK SANGKULIRANG UNTUK KALTIM POST

jpnn.com - Perjalanan melalui medan yang berat harus ditempuh para pelajar SMAN 10 Malinau, Kalimantan Utara, demi mengikuti mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK).

Dari sekolah yang terletak di Desa Long Alango, Kecamatan Bahau Hulu, Malinau, mereka menempuh perjalanan panjang dan berbahaya untuk bisa ke Tanjung Selor, Ibu Kota Kaltara.

BACA JUGA: UNBK Tahun Ini, Waspadai Komputer Ngadat

FITRIANI, Tanjung Selor

TAHUN ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI menargetkan, pelaksanakan UNBK harus 100 persen diterapkan di tingkat SMA/SMK sederajat, tak terkecuali di Kaltara.

BACA JUGA: Pengadaan Komputer untuk UNBK di 5 SMP Kota Bekasi Ditunda

Namun, saat ini masih beberapa sekolah yang berada di pedalaman maupun perbatasan Kaltara belum memiliki kelengkapan fasilitas dan dukungan jaringan internet.

Meskipun ujian bisa dilakukan secara offline, namun kendalanya untuk pengambilan token saat ujian pertama kali haruslah menggunakan jaringan internet.

BACA JUGA: Komputer Kurang 2 Ribu Lagi, Tak Bisa Tryout UNBK

Sementara jaringan internet di daerah pedalaman, masih sulit untuk diakses. Jika pun ada hanya 2G.

Pihak sekolah terpaksa harus membawa 11 pelajar yang didampingi tiga guru dari SMAN 10 Malinau, dengan menempuh perjalanan jauh demi bisa melaksanakn UNBK yang akan dilakukan di ibu kota.

Rencananya, 11 pelajar itu akan menumpang di SMAN 1 Tanjung Selor untuk melaksanakan proses persiapan ujian, simulasi, hingga pelaksanaan UNBK pada April mendatang.

Sebenarnya, para pelajar kelas XII tersebut bisa saja menumpang di salah satu sekolah di Malinau.

Namun, mengingat biaya transportasi ke Tanjung Selor lebih murah dibandingkan ke Malinau, maka pihak sekolah lebih memilih ke Tanjung Selor.

Kepala SMAN 10 Malinau, Lenggang Inggi, mengatakan untuk sampai ke Malinau, pihaknya harus mengeluarkan biaya pesawat Rp 1,6 juta per orang. Sementara pesawat baru mau masuk ke Long Alango jika penumpang sudah full. Jadi, lebih memilih ke Tanjung Selor.

“Kalau penumpang hanya satu atau dua orang, tidak akan jalan. Bisa jalan asalkan dicarter dengan biaya puluhan juta,” ujarnya saat ditemui Radar Kaltara (Jawa Pos Group) di kediaman sementara, selama berada di ibu kota provinsi termuda di Indonesia ini.

Lebih lanjut Lenggang menceritakan, satuan pendidikan yang dipimpinnya itu masih sangat minim fasilitas.

Sejauh ini hanya memiliki tiga rombongan belajar (rombel) sementara yang dibutuhkan lima rombel. Mereka memang memiliki tiga unit komputer, namun dua di antaranya rusak.

“Jika pelajaran komputer, pelajar harus bergantian menggunakan satu unit yang masih baik. Termasuk menggunakan laptop guru yang ada,” tuturnya.

Selain itu, jaringan internet juga sangat sulit diakses. Meskipun pihak desa sudah menghidupkan mesin tower yang menggunakan genset, namun signalnya terkadang tidak muncul hingga sepekan lamanya.

“Kadang hanya buang-buang BBM (Bahan Bakar Minyak) saja, dihidupkan tapi tidak ada jaringannya. Apalagi BBM yang digunakan jenis solar dan harganya cukup tinggi sekitar Rp 20 ribu per liter,” jelasnya.

Untuk sampai ke Tanjung Selor, mereka membutuhkan waktu dua hari perjalanan. Bersama dengan rombongan, mereka berangkat pada Minggu (25/2), dari Desa Long Alango menuju Desa Long Paliran Kecamatan Pujungan, menggunakan perahu bermesin ketinting yang memakan waktu sekitar 5 jam.

Sebelum membawa anak-anak, pihak sekolah terlebih dulu melakukan sosialisasi dengan pemerintah desa maupun kecamatan, hingga diputuskan membawa anak-anak dengan bantuan dan dukungan dari semua pihak.

Modal untuk ke Tanjung Selor pun merupakan bantuan masyarakat maupun pemerintah desa dan kecamatan.

Mereka dimudahkan dengan gotong-royong masyarakat sekitar, dengan mendapatkan potongan harga.

Seperti harga menaiki longboat yang normalnya Rp 700 ribu hingga Rp 800 ribu per orang, tetapi hanya dikenakan Rp 6,5 juta untuk 11 orang pelajar dan 3 guru.

“Pengusaha juga mendukung jadi harganya dihitung rombongan saja, dan Alhamdulillah bantuan masyarakat juga banyak. Jadi semua aspek mendukung karena tidak bisa pakai dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) karena tidak ada juknisnya, jadi kami serba salah. Kalau tidak ada dukungan dari masyarakat, kami bisa menghabiskan dana sekitar Rp 40 juta karena pelajar kami, akan stay di Tanjung Selor sekitar 40 hari,” ungkapnya.

Perjalanan ke Tanjung Selor ini pun bersama dengan penumpang lainnya. Karena jika harus mencarter longboat mereka membutuhkan biaya yang cukup besar, sekitar Rp 60 juta.

Sedangkan untuk perahu ketinting jika dicarter membutuhkan Rp 2,5 juta satu unit. Sedang jumlah rombongan harus diangkut 5 hingga 7 unit ketinting. Tetapi karena ada sumbangan dari masyarakat, rombongan hanya dibebani biaya membeli BBM saja.

“Kalau kita carter ndak mungkin bisa,” ucap pria berjaket cokelat saat ditemui Radar Kaltara.

Setelah melewati perjalanan yang cukup ekstrim, karena ada beberapa titik giram, mereka harus menginap dulu satu malam di Desa Long Paliran, karena kondisi pakaian yang sudah basah akibat tersiram air sepanjang perjalanan dan untuk menjaga kondisi anak-anak tetap fit.

Keesokan harinya, rombongan baru melanjutkan perjalanan dari Long Paliran menuju Tanjung Selor masih dengan menggunakan loangboat.

Di situ, perjalanan tak semulus yang dibayangkan, seperti dari Desa Loang Alango, perjalanan ke Tanjung Selor juga masih menjumpai beberapa titik giram.

Pada saat menemukan giram maka seluruh penumpang termasuk 11 pelajar dan 3 orang guru SMAN 10 Malinau ini, harus turun dan berjalan kaki di tepi sungai yang dipenuhi bebatuan. Jika sampai pada titik yang sudah aman, longboat melaju kembali.

“Beberapa kali kita turun dari longboat, karena kalau tidak turun perahu akan kandas di giram. Dan potensi perahu karam juga tentu menjadi pertimbangan kita untuk memilih turun,” tuturnya.

Setelah melewati berbagai rintangan, akhirnya sampai di Tanjung Selor pada Senin (26/2) sekitar pukul 21.00 Wita. Seharusnya menginap dulu disalah satu desa karena perjalan malam hari cukup berbahaya.

Namun dia meminta tolong kepada motoris longboat agar meneruskan perjalanan, mengingat pakaian yang dikenakan pelajar maupun barang bawaan banyak yang basah.

“Biasanya menginap, tapi kami minta tolong sama yang punya perahu supaya jalan. Jadi kita pelan-pelan saja dengan menggunakan senter sebagai penerangan,” sebutnya.

Setelah sampai, para pelajar tersebut langsung beristirahat dan keesokan harinya membersihkan rumah dan mencuci pakaian bawaan yang sudah basah, karena terkena air sepanjang perjalanan dari Loang Alango hingga Tanjung Selor.

Jadwal simulasi UNBK pada Selasa (6/3). Sebenarnya setelah simulasi itu pihaknya berencana kembali, tapi karena biaya transportasi yang cukup besar dan jika air surut longboat tidak bisa beroperasi, maka diputuskan tidak balik.

Para siswa akan tetap di ibu kota hingga ujian dilaksanakan, dengan menumpang belajar antara lain di SMAN 1 Tanjung Selor.

“Apalagi di sana (sungai Bahau) sudah banyak memakan korban. Jadi kami sementara akan belajar di SMAN 1 Tanjung Selor, kalau tidak ada ruangannya kami bisa belajar di sini (rumah). Itu tidak menyurutkan semangat kami, tetap semangat untuk anak Indonesia,” ungkapnya.

Dia berharap agar pemeirntah memberikan fasilitas sebagai penunjang pelaksanaan UNBK, agar tahun berikutnya bisa melaksanakan UNBK di Long Alango. Atau memberikan kebijakan seperti memberikan dana untuk transportasi ke Ibu Kota Kaltara.

“Apalagi tahun depan pelajar kelas XII lebih banyak sekitar 20 orang. Kami harap ke depan fasilitas diberikan, dan disamakan dengan sekolah lainnya, karena kami sama-sama anak Indonesia,” pungkasnya. (nri)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Simulasi UNBK Diwarnai Server Error


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler