Permalukan Jokowi, Berlebaran di Aceh, Rusuh di Papua

Sabtu, 18 Juli 2015 – 14:21 WIB
Neta S Pane. Foto: ist.

jpnn.com - JAKARTA - Ketua Presidium Indonesian Police Watch (IPW), Neta S Pane menilai kasus pembakaran tempat ibadah umat Islam di Kabupaten Tolikara, Papua, Jumat (17/7) merupakan tindakan keji. 

Neta menduga, tindakan itu semata-mata bukan sekadar masalah pertikaian antarkelompok, tetapi ada tujuan lain yang lebih besar yang ingin ditunjukkan para pelaku.

BACA JUGA: Desak Pemerintah Tegas soal Tolikara, Parmusi Minta Umat Islam Tak Terprovokasi

"Saya melihat perbuatan ini sengaja dilakukan untuk mempermalukan Jokowi yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu," kata Neta kepada wartawan di Jakarta, Minggu (18/7).

Kelompok ini menurutnya sengaja mengacak-acak Papua karena beberapa alasan. Pertama karena kedekatan Jokowi dengan Papua. Jokowi merasa dekat, yang dibuktikan dengan kedatangan Jokowi beberapa kali ke Papua. 

BACA JUGA: Berharap Tak Ada Latar Belakang Agama di Balik Insiden Tolikara

"Bapaknya Iriana (istri Jokowi) juga salah seorang yang ikut dalam operasi Mandala dan Iriana dilahirkan ketika bapaknya sedang bertugas di sana, makanya dia dinamakan Iriana, yang diambil dari nama Irian Jaya, nama Papua di era setelah perang kemerdekaan. Pembakaran tempat ibadah umat Islam ini tentunya akan mempertaruhkan citra Jokowi," ujar Neta.

Alasan lainnya lanjut Neta, ingin menggambarkan betapa keputusan Jokowi mengangkat tokoh tua seperti Sutiyoso sebagai kepala BIN, padahal justru kabinetnya banyak diisi oleh tokoh-tokoh muda. "Jadi memang ada orang yang sengaja bermain untuk memperolok-olok Jokowi," tegasnya.

BACA JUGA: Wakapolda Turun Tangan Atasi Rusuh Papua

Tidak cukup itu saja. Menurut Neta, kejadian di Papua yang berada di ujung timur Indonesia ini bertepatan dengan kehadiran Jokowi di Aceh yang terletak di ujung barat Indonesia.

Lebih lanjut, Neta mempertanyakan kenapa BIN dan jajaran Polda Papua tidak bisa mengantisipasi peristiwa ini padahal selama ini BIN memiliki rekord yang baik di Papua. "Tapi kok sekarang kenapa bobol? Padahal surat edaran yang berbau sara sudah beredar beberapa hari sebelumnya. Kenapa BIN tidak berkoordinasi dengan Polda sana, dan kenapa tidak ada reaksi saat surat edaran bermasalah itu ke luar?," tanya dia.

"Atau memang sudah berkoordinasi tapi karena Kapoldanya Irjen (Pol) Yotje Mende sibuk ikut ujian fit and proper test pimpinan KPK jadi lalai dengan tugasnya sebagai kapolda? Dan jadinya seperti meninggalkan tugas? Kalau begini, lebih baik Yotje  mundur dari pencalonan pimpinan KPK saja," sarannya. (fas/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Inikah Surat Provokatif Pemicu Insiden Tragis di Papua?


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler