Tatkala Rhys Habermann, seorang remaja yang sakit parah, menyampaikan pesan terakhirnya pada suatu malam di bulan Januari yang panas empat tahun lalu, ia bermaksud melindungi orangtuanya dari tuntutan hukum.

Setelah kepergian anaknya, mereka kini berjuang untuk menghindarkan orang lain dari penderitaan serupa.

BACA JUGA: Jembatan Kaca di Tiongkok Hancur, Wisatawan Terjebak di Tengahnya

PERINGATAN: Kisah ini mengandung konten yang mungkin menimbulkan ketidaknyamanan bagi pembaca.

Rhys Habermann tidak suka basa-basi. Ia lebih tertarik pada obrolan yang mendalam.

BACA JUGA: Jembatan Kaca di Tiongkok Hancur, Wisatawan Terjebak di Tengahnya

"Jika kita menyapanya dengan menanyakan tentang cuaca hari ini, dia biasanya jadi diam," kenang Liz, ibu Rhys.

"Jika dia menanyakan kabar kita, artinya dia benar-benar serius ingin tahu."

BACA JUGA: Robot Hanya Tujuh Detik, Manusia Perlu 45 Detik Untuk Memetik Sebiji Apel

Rhys juga suka petualangan. Dia mengendarai sepeda motor. Melakukan terjun payung dan menyelam dalam kerangkeng besi, mendekati ikan hiu.

"Anak ini memang serius, tapi dia juga suka bercanda," ujar Liz.

Seorang temannya belakangan mengingat, "sejak hari pertama bertemu dengannya, dia seringkali melontarkan komentar iseng".

 

Saat liburan ke Gold Coast, Rhys satu-satunya anak dari lima bersaudara yang berani naik wahana Sling Shot.

"Rhys dan saya selalu berpasangan untuk jenis wahana seperti ini karena yang lain selalu takut," kata Liz.

"Anak ini riang, suka bersenang-senang."

 

Namun dalam bulan-bulan terakhir kehidupannya, perangai Rhys berubah sangat kontras dibandingkan sebelumnya.

Selama 18 bulan, remaja periang dari daerah Wudinna di Australia Selatan itu berjuang melawan kanker tulang dengan penderitaan yang tiada taranya.

Pada 11 Januari 2017, didampingi sejumlah anggota keluarganya, Rhys melakukan bunuh diri.

Liz, ibunya, tak akan pernah bisa melupakan saat-saat terakhir menjagai Rhys yang berbaring dengan tubuh yang kian melemah.

 

"Dia tak ingin mati. Dia hanya ingin agar tidak kesakitan lagi," tukas Liz.

"Dia bilang, Ibu, kamu nanti bisa masuk penjara. Kami hanya menjawab, biar saja, Nak. Ketika itu dia tengah mengajariku makna cinta tanpa syarat."

"Rhys menghabiskan 18 bulan terakhir hidupnya, berusaha mencari cara terbaik untuk mati, yang tidak akan menghancurkan kami sepenuhnya."

 

Di Australia Selatan, sampai saat ini tidak ada aturan hukum yang mengizinkan eutanasia secara sukarela.

"Rhys sangat khawatir apa yang akan terjadi setelah ia mengakhiri hidupnya," ujar Liz.

"Itu sebabnya dia bersikukuh agar kami jangan berada di sana saat dia melakukannya. Tapi mana mungkin kami tak akan mendampinginya."

Beberapa jam setelah kematian Rhys, polisi datang mengetuk pintu rumah mereka.

"Begitu mereka tiba, polisi langsung menetapkan rumah kami sebagai TKP," ujar Brett, ayah Rhys.

 

Sepanjang 12 jam lamanya polisi menyisir kamar tidur Rhys, berusaha mencari bukti untuk petugas koroner.

Laptop dan teleponnya disita. Polisi juga mewawancarai Liz dan Brett.

Meski tak menyalahkan tindakan polisi yang hanya menjalankan tugas, namun pasangan ini merasa keterlibatan aparat hukum hanya menambah luka mereka.

"Seharusnya duka ini bisa lebih mudah bagi kami. Toh dia memang sudah sekarat," tukas Liz.

  Diagnosa

Rhys sedang duduk di tahun terakhir sekolah asrama Immanuel College di Adelaide ketika merasakan nyeri di pinggul dan kakinya, yang sebelumnya pernah patah.

Saat pulang ke rumah, dia sudah hampir tak bisa berjalan lagi. Liz pun langsung memeriksakan anaknya untuk difoto MRI.

Diagnosisnya begitu mengejutkan: Rhys menderita kanker tulang yang disebut sarkoma Ewing stadium lanjut di pinggul kirinya.

 

 

Ayahnya, Brett, berkata bahwa dokter menyuruh Rhys untuk "melupakan tahun terakhir SMA-nya, karena harus fokus untuk bertahan hidup".

"Sangat mengerikan ketika membawanya pulang dari kemo, mendengarkan dia di kamarnya muntah terus-menerus," ujar Brett.

Dampaknya langsung terlihat pada mental dan fisiknya. "Remaja yang periang ini terlihat jelas mengalami penurunan kualitas hidup," kenang ibunya.

 

 

"Kankernya sangat parah. Melihat kondisinya seperti itu sangat sulit bagi kami," kata Liz.

"Dia menjadi orang sakit yang tak bisa lagi melakukan apa-apa sendiri."

Tak lama kemudian, pikiran gelap pun mulai menghinggapi Rhys.

 

Ibunya ingat Rhys pernah berkata: "Sebaiknya saya mengakhirinya sekarang saja".

"Saya bilang, Nak, kamu depresi, kami akan membawamu ke dokter dan melihat apa yang bisa kami lakukan."

Rhys menerima dukungan layanan kesehatan mental dan seiring waktu merasa lebih baik dengan mengendalikan perawatannya sendiri.

Ketika sudah berusia 18 tahun, dia memutuskan untuk menghentikan kemoterapi. Ia pergi berlibur ke Thailand bersama adiknya, Lewis.

Sementara rasa sakitnya semakin memburuk tiap hari.

Pada ulang tahunnya yang ke-19 ia menemui dokter spesialis, yang menyampaikan kabar bahwa kankernya telah menyebar.

"Saat itulah Rhys menyadari ini merupakan awal dari akhir yang memilukan," ujar Liz.

Setelah merayakan Natal terakhir bersama keluarganya, Rhys kembali mengunjungi dokter. Ia disarankan menjalani lebih banyak radioterapi untuk menghilangkan rasa sakit. Tapi Rhys memutuskan sudah cukup.

"Saya tidak akan melakukannya lagi. Sudah waktunya," katanya kepada orangtuanya. Senja terakhir

Rhys telah menyampaikan keinginannya untuk mengakhiri hidupnya bila rasa sakit yang dideritanya sudah tidak tertahankan lagi.

Bagi Brett dan Liz, keinginan itu sangat sulit untuk didiskusikan. Rhys tidak ingin membiarkan mereka menghadapi masalah itu.

"Awalnya dia hanya ingin melakukannya di suatu motel di Adelaide," jelas Brett.

Karena sangat terpukul, orangtua Rhys pun membuat keputusan menyakitkan untuk tidak mencegah anaknya bunuh diri.

Banyak pasien kanker tulang beralih ke perawatan paliatif untuk meningkatkan kualitas hidup mereka dan meringankan gejala yang dialami. Tapi menurut Liz, anaknya "tidak merasa hal itu adalah pilihan baginya".

 

Malam sebelum Rhys meninggal, Brett sempat mengambil foto matahari terbenam dari atap rumah keluarga.

Beberapa jam kemudian, Rhys menyampaikan pesan terakhir dalam sebuah video yang direkam oleh ibunya.

Niatnya bukan sekadar pamit. Dia ingin melindungi orang yang dicintainya, dengan menjelaskan bahwa keputusan ada di tangannya sendiri.

 

"Saya percaya pada hak saya untuk mati atas pilihan saya sendiri. Ini sulit bagi semua orang, tapi saya menolak menjalani perawatan paliatif, setelah sempat menjalaninya minggu lalu," katanya.

"Ini lebih menyakitkan dari yang pernah kubayangkan."

Rhys menghabiskan 10 menit berikutnya memeluk dan memberikan ciuman perpisahan untuk saudaranya Lewis, ayahnya, dan ibunya.

"Saya akan beri kalian masing-masing satu pelukan lagi," ujar Rhys.

 

"Sampai jumpa di kehidupan selanjutnya, ya?" ayahnya berbisik saat memeluk Rhys.

"Terima kasih telah membantuku melewati satu setengah tahun yang sulit ini," kata Rhys, sambil memegangi ibunya, Liz.

 

Orang tua Rhys tidak merasa nyaman bila seluruh anggota keluarga hadir di rumah pada malam itu.

Penyelidikan polisi juga membuat saudara kandungnya yang lain tak dapat melihat jasad Rhys.

"Kami tidak tahu menyadari seberapa besar pengaruhnya pada Jorja sampai dua tahun kemudian ketika dia menyampaikan, saya seharusnya perlu melihatnya (saat Rhys meninggal)," kata Brett.

 

 

Keputusan Rhys untuk merekam kematiannya terbukti sangat penting dalam membebaskan keluarga Habermann dari tuntutan hukum.

"Video itu ternyata sangat penting. Tanpa itu, hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi dengan kami," kata Liz.

Dia mengatakan kematian putranya akan jauh lebih ringan sekiranya eutanasia sukarela diperbolehkan.

"Jika pilihan itu tersedia untuk Rhys, anak-anak kami bisa berada di sana jika mereka mau," katanya.

 

"Setidaknya kami bisa saling mendukung, dan tak perlu mengirim anak-anak kami yang lain ke rumah teman, menyembunyikan apa yang sedang terjadi."

"Perjuangan mental yang kami semua alami akan berkurang sekiranya kami tidak menghadapi pemeriksaan polisi."

 

"Anak-anak yang lain tidak pernah mengucapkan selamat tinggal untuk Rhys."

"Melihat mereka harus menderita atas semua ini, sangatlah berat."

 

Beberapa hari setelah kematiannya, Rhys dilepas oleh masyarakat setempat, yang berkumpul di lapangan Wudinna untuk mengenang hidupnya.

Teman-teman Rhys menyampaikan kesan saat-saat indah mereka dan berbagai komentar iseng yang dia lontarkan saat masih hidup.

  Peninggalan Rhys

Keluarga Rhys sekarang ambil bagian dalam kampanye mendukung UU Eutanasia Sukarela di Australia Selatan.

Rancangan Undang-Undang (RUU) ini masalah yang sudah berlarut-larut bagi Parlemen Australia Selatan. Sebanyak 17 RUU berbeda telah diajukan sebanyak 22 kali sejak 1995. Belum ada yang lolos jadi Undang-Undang (UU).

RUU terbaru yang diusulkan politisi Partai Buruh Kyam Maher, telah lolos di majelis rendah pekan ini. Namun masih harus menunggu persetujuan majelis tinggi.

RUU ini akan memungkinkan pasien sakit parah yang memenuhi kriteria tertentu untuk mengakses obat secara legal untuk mengakhiri hidup mereka.

Anggota parlemen menyebut RUU ini merujuk ke UU yang telah berlaku di negara bagian Victoria, dan UU serupa yang juga telah disahkan oleh parlemen Australia Barat dan Tasmania.

"Orang itu harus berusia minimal 18 tahun, perlu tanda tangan dokter pertama untuk kelayakan orang tersebut, kemudian perlu tanda tangan dokter kedua untuk lebih memastikan," katanya.

 

 

Anggota parlemen diberikan kebebasan oleh partainya dalam pengambilan suara RUU ini. 

"Di banyak wilayah hukum lainnya di seluruh dunia di mana eutanasia telah menjadi UU, kelompok masyarakat yang menjadi sasaran UU itu berkembang secara substansial," kata Dennis Hood dari Partai Liberal.

"Di Belanda dan Belgia sekarang, sudah sah secara hukum untuk eutanasia anak-anak."

"Ahli onkologi senior di Australia Selatan meyakinkan saya bahwa mereka dapat mengobati rasa sakit jika mereka diberi alat untuk melakukannya. Sayangnya, kita tidak mendanai perawatan paliatif sebagaimana harusnya."

Mantan hakim Mahkamah Agung Betty King mengawasi penerapan UU Euthanasia di Victoria, yang telah berlaku selama hampir dua tahun.

 

"Kami meninjau setiap kasus kematian eutanasia secara sukarela," katanya.

"Sejauh ini saya belum melihat satu contoh pun orang yang didorong, dipaksa, atau ditipu dengan cara apa pun untuk meminum obat mematikan."

"Faktanya, lebih kebalikannya, orang-orang malah mencoba menghentikan mereka."

 

Butuh waktu 18 bulan bagi keluarga Habermann untuk secara resmi dibebaskan segala tuntutan hukum atas kematian Rhys.

Ibu, ayah dan saudara Rhys sekarang memasang tato "Freedom and Change", yang berarti kebebasan dan perubahan, sebagai penghormatan kepadanya.

Kata-kata itu juga terpatri pada batu nisan Rhys.

"Dia hanya ingin terbebas dari rasa sakit terus-menerus yang berlangsung begitu lama. Dia pikir akan memiliki kebebasan dan kami akan mengalami perubahan," ujar Liz.

"Dia sering memikirkan bagaimana hidup kami akan berubah setelah kematiannya. Tidak akan pernah ada cucu darinya, dia tak punya pasangan."

 

Liz masih terus berjuang untuk perubahan lainnya, yang semestinya akan memberikan kebebasan lebih besar bagi putranya dalam mengendalikan nasibnya.

"Ketika dia sudah sakit parah, seharusnya dia bisa menjalani prosesnya," kata Liz.

"Memberikan pilihan terkadang sudah cukup."

"Mereka bisa merasa damai, terlepas apakah mereka menggunakan pilihan itu atau tidak." Kredit

Reporter: Gabriella MarchantFotografi: Carl Saville, Andrew Altree-Williams, Gabrielle Waters dan Gabriella MarchantProduksi Digital: Daniel KeaneProduksi Video: Sebastian Dixon dan Nick SandersEditor: Jessica Haynes

Penerjemah: Farid M. Ibrahim

 

 

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kasus Pembekuan Darah Terkait Vaksin AstraZeneca Terus Bertambah, Saatnya Panik?

Berita Terkait