Pertumbuhan Saham 15 Persen Paling Realistis

Selasa, 11 Oktober 2016 – 08:51 WIB
Ilustrasi. Foto: Ist

jpnn.com - JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) awal pekan kembali terkoreksi. Jika hingga akhir tahun ini bisa tumbuh 15 persen, pasar saham sudah sangat positif. Sementara itu, pasar saham tahun depan akan menguat lebih signifikan karena dampak realisasi repatriasi program amnesti pajak.

Pada penutupan perdagangan kemarin, IHSG turun 16,321 poin (0,304 persen) ke level 5.360,828. Kumpulan saham paling likuid dalam indeks LQ45 drop 5,45 poin (0,59 persen) ke level 919,37. Mayoritas bursa saham unggulan di Asia juga turun kemarin kecuali indeks Composite Shanghai di Tiongkok yang ditutup melesat 1,45 persen dan indeks Kospi (Korea Selatan) yang naik 0,15 persen.

BACA JUGA: 3 Perusahaan Tiongkok Berminat Investasi di Industri Alas Kaki Jatim

Di pasar reguler, investor asing melakukan penjualan bersih Rp 140,03 miliar, namun secara kumulatif terjadi pembelian bersih Rp 1,97 triliun. Sebab, di pasar negosiasi, investor asing melakukan transaksi crossing dalam pembelian saham PT Asuransi Multi Artha Guna Tbk (AMAG) sebesar Rp 2,2 triliun.

Transaksi tersebut merupakan realisasi hasil RUPS AMAG yang menyetujui perubahan pemegang saham pengendali dari sebelumnya PT Paninvest Tbk (Panin group) kepada Fairfax Asia Limited.

BACA JUGA: Premi Bisnis Baru Topang Asuransi Jiwa

IHSG secara kumulatif sejak awal tahun hingga kemarin menguat 16,72 persen dan merupakan yang tertinggi di dunia. ’’Saya kira jika IHSG bisa menguat 15 persen hingga akhir tahun saja, itu sudah sangat bagus untuk kondisi inflasi kita yang sangat rendah tahun ini,’’ kata Head of Research PT Erdikha Elit Sekuritas Wilson Sofan di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin (10/10).

Hingga akhir tahun ini, IHSG diperkirakan bergerak fluktuatif, namun tidak akan jauh dari level saat ini. Dari sisi teknis, Wilson melihat pasar saham Indonesia sudah cukup tinggi. Pada saat yang sama, terdapat siklus yang membentuk pola sama setiap tahun, terutama empat tahun terakhir. Memasuki Agustus, September, dan Oktober, IHSG mencapai puncak, tetapi kemudian terkoreksi.

BACA JUGA: Tebusan Amnesti Pajak Periode Kedua Diproyeksi Rp 30 T

Tahun ini IHSG menggapai puncaknya pada sekitar Agustus karena terdorong sentimen positif amnesti pajak. ’’Empat tahun terakhir, ketika masuk bulan ke-8, ke-9, dan ke-10, dia mencapai puncaknya dalam setahun. Setelah itu, dia cenderung turun. Ada yang 3 persen (per tahun siklus, Red), 4 persen, bahkan saat krisis hanya 9 persen pada 2011,” paparnya.

Tahun ini Wilson memperkirakan IHSG terkoreksi sekitar 3 persen secara rata-rata dalam tiga bulan melalui pergerakan fluktuatif pada Oktober. Dia masih mempertahankan target IHSG di level 5.271–5.374 hingga akhir tahun dan belum direvisi meski IHSG sempat menggapai level psikologis 5.400 dan 5.500.

Di luar aspek teknis, tren koreksi pada Oktober muncul karena biasanya perusahaan dan pengelola dana investasi mulai berbenah pada bulan itu. ’’Kalau ada kontrak mau masuk biasanya ditolak, lalu diarahkan ke tahun depan kan?’’ ucapnya.

 

Tahun depan Wilson optimistis IHSG menguat lebih signifikan seiring mulai mengalirnya dana repatriasi ke pasar saham. ’’Kemarin kami hitung. Kalau repatriasi Rp 100 triliun masuk ke pasar modal, price in (kenaikan, Red) ke IHSG bisa 3 persen. Kalau Rp 50 triliun, price in bisa 1,5 persen. Kalau Rp 1000 triliun, price in bisa mencapai 9 persen. Sekarang memang masih melalui gateway ya, 90 persen yang ada di perbankan baru nanti lari ke komponen investasi, tapi akan mengarah ke pasar modal,’’ ujarnya.

Posisi Indonesia juga tidak mengarah ke resesi. ’’Market cycle-nya, ekspansi, kontraksi, lalu resesi. Indonesia pada 2015 belum sampai belok ke arah resesi. Kita baru di kontraksi. Dari kontraksi ini, kita lanjut naik,’’ tuturnya.

Belum lagi dampak penurunan suku bunga yang dipastikan mulai terasa signifikan tahun depan. Beberapa emiten yang sangat terkait dengan bunga akan mulai merasakan dampak pelonggaran moneter itu. ’’Mereka mulai merasakan dampak penurunan suku bunga pada akhir tahun kemarin. Itu baru bisa dirasakan pada bulan keenam tahun ini,’’ katanya. (gen/c5/sof)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Cadangan Devisa Surplus USD 115 Miliar


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler