Pertumbuhan Utang Luar Negeri Akhir Januari 2021 Menurun, Begini Penjelasan BI

Senin, 15 Maret 2021 – 12:18 WIB
Pertumbuhan ULN Januari turun. Foto/ilustrasi: Arsip jpnn.com/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Erwin Haryono menerangkan, ULN tersebut yang terdiri dari sektor publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar USD 213,6 miliar dan sektor swasta termasuk BUMN sebesar USD 207,1 miliar.

“Dengan perkembangan tersebut, ULN Indonesia pada akhir Januari 2021 tumbuh sebesar 2,6 persen (yoy), menurun dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 3,4 persen (yoy),” kata Erwin dalam keterangan resminya di Jakarta, Senin (15/3).

BACA JUGA: Rasio Utang Luar Negeri RI Meningkat, Syarief Pertanyakan Komitmen Kebijakan Pemerintah

Dia menyebut, ULN pemerintah pada Januari 2021, mencapai USD 210,8 miliar atau tumbuh lebih rendah 2,8 persen (yoy) dibandingkan dengan Desember 2020 sebesar 3,3 persen (yoy).

Hal itu, sambung Erwin karena pembayaran pinjaman bilateral dan multilateral yang jatuh tempo.

BACA JUGA: BI: Utang Luar Negeri Capai USD417,5 Miliar, Masih Sehat?

"Sementara itu, posisi surat utang pemerintah masih meningkat seiring penerbitan Surat Utang Negara (SUN) dalam denominasi USD dan Euro pada awal tahun di tengah momentum likuiditas di pasar global yang cukup tinggi serta sentimen positif implementasi vaksinasi Covid-19 secara global,” jelas Erwin.

Selain itu, lanjut dia, perkembangan ULN juga didorong aliran masuk modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) domestik yang meningkat.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Utang Luar Negeri kok Banyak Banget? Perintah Baru Jenderal Andika, Danrem Datangi Baasyir

"Itu didukung oleh kepercayaan investor asing yang terjaga terhadap prospek perekonomian domestik," kata dia.

Erwin memaparkan, ULN pemerintah dikelola secara terukur dan berhati-hati untuk mendukung belanja prioritas pemerintah. Belanja tersebut terdiri dari sektor administrasi pemerintah, pertahanan, dan jaminan sosial wajib sebanyak 17,6 persen dari total ULN pemerintah, sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebanyak 17,1 persen, sektor jasa pendidikan mencapai 16,2 persen, sektor konstruksi sebanyak 15,2 persen, dan sektor jasa keuangan dan asuransi 13,0 persen.

Kemudian ULN swasta turut tumbuh melambat dibandingkan bulan sebelumnya, pada akhir Januari 2021 tercatat 2,3 persen (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan pertumbuhan pada bulan sebelumnya sebesar 3,8 persen (yoy).

“Perkembangan ini didorong oleh perlambatan pertumbuhan ULN Perusahaan Bukan Lembaga Keuangan (PBLK) serta kontraksi pertumbuhan ULN Lembaga Keuangan (LK) yang lebih dalam. Pada akhir Januari 2021 ULN PBLK tumbuh sebesar 4,9 persen (yoy), lebih rendah dari pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 6,3 persen (yoy),” kata Erwin.

Selain itu, ungkap dia, kontraksi ULN LK tercatat sebesar 6,1 persen (yoy), lebih dalam dari kontraksi pada bulan sebelumnya sebesar 4,7 persen (yoy).

Berdasarkan sektornya, ULN terbesar dengan pangsa mencapai 77,0 persen dari total ULN swasta bersumber dari sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara dingin (LGA), sektor pertambangan dan penggalian, dan sektor industri pengolahan.

Erwin juga menegaskan, struktur ULN Indonesia tetap sehat, didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Hal itu, kata dia lagi, tercermin dari struktur ULN di mana rasio terhadap PDB pada akhir Januari 2021 yang tetap terjaga di kisaran 39,5 persen.

"Relatif stabil dibandingkan dengan rasio pada bulan sebelumnya sebesar 39,4 persen. Selain itu, juga tercermin dari besarnya pangsa ULN berjangka panjang yang mencapai 89,4 persen dari total ULN,” ujar dia.

Adapun dalam rangka menjaga struktur ULN tetap sehat, Bank Indonesia dan pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam memantau perkembangan ULN dan didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.

Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pemulihan ekonomi nasional.

"Dengan meminimalisasi risiko yang dapat memengaruhi stabilitas perekonomian," pungkas Erwin. (antara/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler