Sebuah perusahaan tambang asal Australia Resolute Mining sedang membangun pertambangan bawah tanah otomatis yang semuanya digerakkan oleh mesin akan segera memulai produksi di Afrika.

Seluruh sistem bernilai $US 223 juta di pertambangan emas Syama di Mali akan diselesaikan akhir tahun, dengan semua peralatan, mulai dari truk pengangkut, pengebor dan kendaraan lainnya tidak akan dikendarai oleh manusia, namun dikontrol oleh sistem jarak jauh.

BACA JUGA: Polisi Bubarkan Bentrokan Antar Geng Remaja di Melbourne

Resolute Mining yang berkantor di Perth (Australia Barat) mengatakan yang akan menjadi korban dari model pertambangan baru ini adalah para pekerja asing yang selama ini dibayar mahal.

Saat ini tambang tersebut mempekerjakan 1500 orang dengan 80 diantaranya adalah pekerja profesional asing.

BACA JUGA: Bintang Wolverine Gemari Buah Plum Semak Australia

"Daripada memfokuskan diri pada pembuatan sumur untuk desa setempat atau memberikan buku, kami akan memfokuskan diri untuk meningkatkan kemampuan, pelatihan dan memberdayakan tenaga kerja lokal." kata Direktur Pelaksana Resolute John Welborn.

Apa yang sedang dilakukan Resolute Mining ini dibeberkan dalam Forum Peralatan Pertambangan yang sedang dilangsungkan di Kalgoorlie-Boulder, kawasan yang secara tidak resmi disebut ibukota pertambangan emas Australia.

BACA JUGA: China Larang Film Winnie The Pooh Diputar Di Bioskop

Sistem otomatis sudah lama dilakukan di industri pertambangan di kawasan yang kaya dengan biji besi di Austalia Barat, Pilbara, namun kemajuan teknologi sekarang digunakan untuk menangani pertambangan bawah tanah. Photo: Direktur Pelaksana Resolute Mining John Welborn. (ABC Goldfields-Esperance: Jarrod Lucas)

Welborn memperkirakan biaya untuk membuat sistem pertambangan otomatis di Syama ini adalah sekitar $10-15 juta (sekitar Rp 100 sampai Rp 150 miliar) namun mengatakan ini akan meningkatkan produktivitas, mengurangi biaya produksi sampai 30 persen, dan meningkatkan keamanan.

Akan ada 22 peralatan otomatis yang dioperasikan di Syama.

"Sistem otomatisasi sering dilihat sebagai adanya sistem yang menggantikan 200 pekerja yang ada sebelumnya, yang diganti dengan robot, atau misalnya adanya pekerja penjahit yang sekarang digantikan oleh mesin." kata Welborn.

"Ini tidak seperti yang kami lihat.

"Saya sering ditanya mengenai dampak politis mengenai otomatisasi di Afrika, dengan kekhawatiran pemerintah akan pengurangan pekerja besar-besaran."

"Yang kami lakukan bukanlah mengurangi pekerja namun ini bertalian dengan efisiensi dan produktivitas." Photo: Semakin banyak truk tanpa awak yang digunakan di pertambangan di Australia Barat. (Rio Tinto)

Perusahaan tambang raksasa Rio Tinto menjadi garda terdepan di Australia dalam soal otomatisasi peralatan pertambangan dalam tambang biji besi di Pilbara.

Bulan Juli, Rio Tinto melakukan pengiriman pertama biji besi menggunakan kereta tanpa awak.

Tiga lokomotif membawa sekitar 28 ribui ton bij besi melakukan perjalanan sepanjang 280 kilometer dari ladang tambang Rio Tinto di Tom Price ke pelabuhan Cape Lambert.

Perjalanan kereta tersebut dipantau dari jauh, dari Pusat Operasi Rio Tinto di Perth, yang jaraknya 1500 km jauhnya dari lokasi tambang.

Dalam soal otomatisasi pertambangan bawah tanah, pertambangan di New South Wales sudah melakukannya.

Tambang besi dan emas Norhparkes di NSW mengatakan mencapai 100 persen otomatisasi tambang bawah tanah di tahun 2015.

Lihat beritanya dalam bahasa Inggris di sini

BACA ARTIKEL LAINNYA... Seluruh Wilayah NSW Alami Kekeringan

Berita Terkait