Petani di Salatiga Makin Paham Pentingnya Asuransi Usaha Tani Padi

Senin, 08 Maret 2021 – 08:00 WIB
Lahan pertanian. Foto ilustrasi: Humas Kementan

jpnn.com, SALATIGA - Petani di Kota Salatiga, Jawa Tengah, tidak perlu lagi khawatir bila mengalami gagal panen akibat bencana alam seperti banjir, maupun terkena serangan hama.

Pasalnya, petani di Kota Salatiga sangat memahami pentingnya Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) yang digulirkan Kementerian Pertanian (Kementan).

BACA JUGA: Antisipasi La Nina, Petani Diimbau Maksimalkan Asuransi Pertanian

Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo (SYL) mengatakan program AUTP dapat memberikan perlindungan terhadap risiko ketidakpastian iklim dengan menjamin petani mendapatkan modal kerja untuk berusaha tani dari klaim asuransi.

"Dari jaminan perlindungan ini maka petani dapat membiayai pertanaman di musim berikutnya," ujar Mentan SYL, Sabtu (6/3).

BACA JUGA: Syahrul Yasin Limpo: Jangan Ada Kata Mundur, Kita Harus Fight 

Risiko yang dijamin dalam AUTP meliputi banjir, kekeringan, serangan hama dan organisme pengganggu tumbunan (OPT).

Hama pada tanaman padi antara lain, wereng cokelat, penggerek batang, walang sangit, keong mas, tikus dan ulat grayak. 

BACA JUGA: Petani Cirebon Didorong Ikut AUTP Cegah Kerugian Akibat Banjir

Penyakit pada tanaman padi antara lain tungro, blas, busuk batang, kerdil rumput, dan kerdil hampa.

Serangan hama dan penyakit ini akan menyebabkan kerusakan yang dapat mengakibatkan gagal panen sehingga petani mengalami kerugian.

Menurut Syahrul, untuk pendaftaran AUTP dapat dimulai paling lambat satu bulan sebelum musim tanam dimulai.

"Kelompok tani didampingi PPL dan UPTD kecamatan mengisi formulir pendaftaran sesuai dengan formulir yang telah disediakan," ungkapnya.

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (Dirjen PSP) Kementan Sarwo Edhy menambahkan berdasarkan besaran biaya input usaha tani padi sebesar Rp 6 juta per hektare per musim tanam, yaitu Rp 180 ribu per hektare per musim tanam. 

"Bantuan pemerintah saat ini sebesar 80 persen sebesar Rp 144 ribu per hektare per musim tanam, dan saat ini petani hanya membayar premi swadaya 20 persen proporsional, sebesar Rp 36 ribu per hektare per musim tanam," jelas Sarwo Edhy.

Kelompok tani membayar premi swadaya sebesar 20 persen proporsional sesuai luas area yang diasuransikan.

Bukti transfernya akan diperoleh, untuk kemudian diserahkan kepada petugas asuransi yang akan mengeluarkan bukti asli pembayaran premi swadaya dan sertifikat asuransi kepada kelompok tani.

“Petani cukup mendaftarkan sawahnya saja sebelum masa tanam, tetapi asuransi ini khusus untuk petani yang menanam padi,” kata Sarwo Edhy.

Kepala Dinas Pertanian (Dispertan) Kota Salatiga Nunuk Dartini mengatakan alokasi anggaran AUTP 2021 terbagi untuk pelaku usaha tanaman pangan, peternakan, dan perikanan.

"Kami sudah melaksanakan program itu meski belum 100 persen. Untuk petani baru 40 persen, terus perikanan sudah 60-70 persen lalu sisanya peternakan, tetapi itu belum 100 persen semua," terangnya. 

Menurut Nunuk, banyak manfaat tang diperoleh petani mengikuti program AUTP 2021. Dia mencontohkan, jika seorang petani pada bidang apapun mengalami gagal panen, maka berhak mendapatkan ganti rugi.

Dia menambahkan syarat petani agar bisa mengklaim atas kerugian yang dialami harus tergabung dalam suatu kelompok tani pada wilayah kecamatan atau kelurahan masing-masing.

"Contoh habis menanam padi kebanjiran, atau bencana lainnya, kemudiam memiliki hewan ternak mati terkena penyakit itu semua bisa diganti sesuai klaimnya dalam bentuk subsidi uang," katanya. 

Pihaknya menyatakan syarat yang harus dipenuhi petani selain terdaftar dalam kelompok tani, adalah luas sawah tidak lebih dari dua hektare.

Nunuk mengakui mengajak petani untuk mengikuti program asuransi awalnya cukup berat, tetapi setelah diberikan penjelasan mereka mulai bisa memahami karena sangat menguntungkan.

"Maka saya minta yang belum mendaftar segera hubungi kelompok tani masing-masing. Syarat lengkap siapa berhak dan tidaknya nanti Dispertan Salatiga akan membantu," ujarnya. (*/jpnn)


Redaktur & Reporter : Boy

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler