Petani Karet Ancam Tanam Ganja, Ada Apa?

Jumat, 16 Januari 2015 – 04:10 WIB

jpnn.com - PARENGGEAN – Petani karet di Kecamatan Parenggean, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalteng, kecewa terhadap sikap pemerintah yang mengabaikan nasib mereka.

Harga karet yang terus turun membuat perekonomian petani kian terpuruk. Sebagian petani yang marah mengancam akan menanam ganja apabila kondisi tersebut terus berlangsung.

BACA JUGA: Angin Kencang, Bocah Bersepeda Terjengkang

“Jelas kecewa. Apa ini, kok bisa (harga karet) turun sampai begini. Pemerintah dan dewan mana perhatiannya terhadap masyarakat kecil? Jika seperti ini, sama saja menipu. Janjinya dulu banyak, tapi tidak ada buktinya,” kata Muhammad Yasin (53) dengan nada tinggi menahan amarah, kemarin (15/1).

Saking marahnya, Yasin berujar para petani bisa saja beralih bertanam ganja karena hasil tanaman karet sudah tidak bisa lagi diharapkan. Menurutnya, perjuangan menanam karet tidak gampang.

BACA JUGA: Ke Jakarta, Pejabat Daerah Hanya Boleh Dikasih Sangu Rp 530 Ribu

“Jika terus seperti ini, jangan salahkan masyarakat apabila nantinya kebun karet berubah jadi kebun ganja. Lah, hasil karet saja seperti ini, kebutuhan keluarga tidaklah sedikit di zaman yang serba mahal seperti ini,” katanya.

Informasi yang dihimpun, petani karet di Parenggean cukup banyak. Penurunan harga tersebut direspons petani dengan amarah. Mereka mempertanyakan kinerja pemerintah dan DPRD Kotim yang dinilai tidak memperhatikan nasib para petani.

BACA JUGA: Dibutuhkan 600 Bidan

Informasi yang diperoleh Radar Sampit (Grup JPNN), harga karet saat ini sekitar Rp 6.700 per kilogram, turun sekitar Rp 300 sejak Rabu (14/1) lalu. Penurunan itu akan berlanjut sampai Senin pekan depan.

Pengepul karet, Mansah, mengungkapkan, penurunan harga membuat petani terkejut. Petani juga sempat marah-marah karena harga terus turun.

“Saya mendapat informasi itu dari PT Sampit, jika sejak Rabu kemarin harga sudah turun Rp 300. Kemudian Jumat dan Senin depan juga akan turun dengan nominal yang sama. Petani terkejut saat saya kabarkan hal itu. Mereka berharap harga naik, bukannya turun. Jelas akan menyakitkan bagi petani,” kata Mansah.

Mansah mengaku hanya mengikuti harga. Dia tidak pernah berkeinginan harga karet terus turun karena tidak ada untungnya. Mansah berharap pemerintah bisa mencaro solusi terhadap para petani karet tersebut akan tidak semakin terpuruk.

“Saya hanya mengikuti perkembangan harga dari PT Sampit. Turunnya harga karet bukan kehendak saya. Tidak ada untungnya juga bagi saya jika harga karet terus turun. Harapannya, pemerintah saja lagi bagaimana memperjuangkan nasib rakyatnya,” katanya. (rm-66/ign/k1)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kemungkinan Bisa Karena Peluru Tidak Punya Mata


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler