Pilih Putus Hubungan Keluarga daripada Tinggalkan Gafatar

Rabu, 20 Januari 2016 – 08:42 WIB

jpnn.com - PADANGSIDIMPUAN - Beberapa orang keluarga pengikut Gafatar di Kota Padangsidimpuan dan sekitarnya, Senin (18/1) menyebut, kerabatnya yang gabung ormas yang belakangan mendapat sorotan publik itu, sangat aneh pandangannya ketika berbicara soal agama.

Menurut pengikut Gafatar, Tuhan hanyalah prasangka manusia semata, yang ada hanya lah Tuan. Kemudian, akhir zaman itu tidak ada kecuali akhir hidup. Mereka cukup kuat keyakinannya, sehingga memilih memutus hubungan keluarga dibanding harus keluar dari keanggotaannya di Gafatar.

BACA JUGA: Ternyata Orang-orang Ini Yang Bentuk Gafatar

“Ya, mereka lebih memilih tidak berhubungan keluarga lagi kalau tidak sepaham, daripada keluar dari Gafatar itu,” ungkap seorang perempuan di Padangsidimpuan, istri dari ES.

ES (470 merupakan abang kandung Enuh Ruhiyat (33), yang pergi bersama anak bininya ke Kalimantan untuk gabung dengan Gafatar.

BACA JUGA: Tak Kantongi Kartu Identitas, Tiga Wanita Jondul Diamankan

ES cerita, almarhum ayahnya sempat menangis merenungi Enuh Ruhiyat yang ikut bergabung dengan Gafatar.

“Dia itu kan anak aliyah dan pesantren, dia disekolahkan ke pesantren, rajin sholat dulunya. Eh, tiba-tiba seperti itu, makanya almarhum bapak sempat menangis merenunginya ketika masih hidup,” ujar ES, ketika diwawancarai Harian Metro Tabagsel (Jawa Pos Group), di rumahnya, Senin (18/1).

BACA JUGA: Anggota Dewan Berang, SKPD Manipulasi Absen Rapat saat Rapat Paripurna

ES cerita, Enuh Ruhiyat merupakan anak bungsu dari 6 bersaudara. Enuh Ruhiyat lebih banyak menghabiskan waktu di kampung asal (Garut Provinsi Jawa Barat). Selesai melakukan pendidikan Aliyah, adiknya merantau ke Sumatera Utara tepatnya Tapanuli Selatan untuk menjumpainya.

Setibanya di Tapsel, sama seperti perantau, adiknya memulai kehidupan mencari pekerjaan, yaitu menjual kerupuk. “Di dengarnya saya di  Sumut ini, makanya dia  berangkat ke sini. Beberapa tahun bekerja, setelah itu dia melamar perempuan Padangsidimpuan, kalau tahunnya saya lupa,” katanya.

Dikatakannya, setelah menikah, adiknya berangkat ke Bogor, karena di situ ada sanak famili dari istrinya. Anehnya, di Bogor rupanya dia mengenal organisasi Gafatar itu dan bergabung menjadi anggota. “Di situlah dia kenal dan dipelajarinya. Waktu itu dia sudah memiliki anak dua,” jelasnya.

“Selesai dari Bogor, saat hangatnya isu Ahmad Musadeq yang mengaku sebagai Nabi, saat itu lah dia masuk menjadi anggota Gafatar, itulah sepengetahuan kami. Ia sesekali ke kampung halaman di Garut untuk mempengaruhi orang atau merekrut. Rupanya dia diusir di sana, karena sangat bertentangan dengan nilai-nilai agama,” jelasnya.

Kemudian, sejak saat itu ia bersama keluarganya tidak pernah cocok dengan adiknya. Bahkan, selalu berdebat dan tidak mau dikatakan bahwa organisasi yang diikutinya itu bertentangan dengan ajaran agama. “Sama kami berlawanan, tidak pernah cocok. Setiap diingatkan tidak mau dan selalu ngotot,” pungkasnya.

Sejak hebohnya isu Gafatar, ia mengatakan adiknya telah duluan berangkat meninggalkan Psp-Tapsel menuju Kalimantan. “Gak pernah ada datang kontaknya, untuk pamit saja tidak. Dan kami tidak tahu. Informasi saja yang kami tahu kalau orang itu sekarang di Kalimantan,” tuturnya. (bsl/sam/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jika Bersyukur, Pengikut Gafatar Bilang: Puji Tuan Semesta Alam


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler