Politikus Demokrat Tuding Menag Sibuk Cari Popularitas

Minggu, 14 Juni 2015 – 17:17 WIB
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin. Foto: dok.JPNN

jpnn.com - JAKARTA - Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi Partai Demokrat, Khatibul Umam Wiranu menilai Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin terlalu sibuk mencari polularitas sehingga terkesan lupa pada tugas pokoknya mengurusi persoalan umat.

Tugas pokok tersebut menurut Khatibul, antara lain perbaikan kualitas pelayanan haji, peningkatan mutu pendidikan Islam, dan pembinaan kerukunan antar umat beragama. Tapi kenyatannya Menag lebih terbuai dengan pujian di media daripada membumikan program kerja yang digariskan Presiden Joko Widodo.

BACA JUGA: Jokowi: NU Tiang Penting Penegakan Pancasila

"Saya melihat, Lukman sangat takut sekali di-reshuffle. Satu-satunya cara yang bisa dilakukannya adalah memanfaatkan media untuk cari popularitas. Sementara kinerjanya sangat tidak memuaskan," ujar Khatibul saat dihubungi, Minggu (14/6).

Penilaian ini disampaikannya dengan bukti, bahwa dari sisi penggunaan APBN, Kemenag masih jauh dari memuaskan. Apalagi, Irjen Kemenag dan BPK RI mengakui banyaknya penyalahgunaan anggaran, terutama di Direktorat Pendidikan Islam (Pendis).

BACA JUGA: Sinyal Jokowi Setujui 22 Oktober Hari Santri

‎"Minggu lalu, Irjen Kemenag dan BPK RI melaporkan penyimpangan penggunaan anggaran kemenag kepada komisi VIII. Hasilnya cukup membuat kami goyang kepala. Pada praktiknya, ada banyak bantuan sosial yang tidak melalui mekanisme yang sebenarnya. Misalnya, ada bantuan RKB yang dipotong oleh oknum Kemenag," ungkapnya.

Akibatnya, Kementerian Keuangan belakangan membuat aturan baru berupa perubahan akun Bansos di lingkungan Kemenag. Jika selama ini Bansos menggunakan akun 57, sekarang Bansos harus menggunakan akun 52. Alasannya, mengurangi kebocoran yang selama ini masih terjadi di kemenag.

BACA JUGA: Jokowi: Alhamdulillah, Islam Kita Islam Nusantara

Karena itu, kata Khatibul, semestinya Menteri Lukman lebih baik bekerja bersungguh-sungguh. Tidak perlu membuat pernyataan yang kontroversial. Tidak juga takut di-reshuflle karena bila kerjanya bagus, Presiden Jokowi pasti akan mempertahankannya.

"Kalau mau membuat wacana kontroversial, sebaiknya belajarlah kepada Munawir Sadjali. Walaupun banyak ditentang, konsepnya tentang waris membuat semua orang termotivasi untuk belajar. Selain itu, tujuan Munawir bukanlah mencari popularitas. Lebih jauh dari itu, dia memiliki agenda pencerahan umat," tandasnya.(fat/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... 58 Persen Camat tak Pernah Belajar Ilmu Pemerintahan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler