Ponpes Al Ma'hadul Islam Yapi di Pasuruan, Sehari setelah Diserang Massa

Anut Keberagaman, Akui Ada Santri yang Beraliran Syiah

Kamis, 17 Februari 2011 – 07:12 WIB
Para santri Pondok Pesantren (ponpes) Al Ma'hadul Islam Yayasan Pesantren Islam (Yapi). Foto; Dok.JPPhoto

Benarkah Pondok Pesantren (ponpes) Al Ma'hadul Islam Yayasan Pesantren Islam (Yapi) di Pasuruan menganut paham Syiah? Apakah hanya karena tuduhan menganut paham itu sehingga pondok tersebut diserang ratusan orang Selasa lalu (15/2)?
 ------------------------------ ----
 Muhammad Fahmi, Pasuruan
 ------------------------------ ----
Pukul 08.00 kemarin (16/2) suasana di Ponpes Yapi putra pasca penyerangan Selasa lalu sudah terlihat normalPara santri ponpes yang berlokasi di Desa Kenep, Beji, Kabupaten Pasuruan, itu sudah beraktivitas seperti biasanya

BACA JUGA: Sweeping Mobil Dinas Pejabat, 9 Tahun Berurusan dengan Hukum

Bekas-bekas penyerangan, seperti pecahan kaca dan batu-batu yang berserakan, sudah tidak terlihat lagi
Suasana pagi itu tidak lagi tegang

BACA JUGA: Kisah Para TKI Ilegal di Arab Saudi yang Sengaja Menelantarkan Diri agar Dideportasi

Meskipun,  beberapa polisi tampak berjaga-jaga di sekitar ponpes


Pagi itu ratusan santri berkumpul di masjid yang berlokasi di tengah pondok

BACA JUGA: Kali Pertama, Tim Koki Indonesia Lolos ke Final Olimpiade Memasak Kelas Dunia di Perancis

Mereka yang rata-rata mengenakan baju koko putih dan berpeci itu sedang mendengarkan ceramah Ustad Achmad Shiddiq yang juga sekretaris diniyah di ponpes tersebutShiddiq ketika ditemui setelah acara mengatakan, acara pagi itu merupakan istighotsah setelah insiden penyerangan sehari sebelumnya"Kami juga sekalian memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW," paparnya

Pagi itu Radar Bromo (Jawa Pos Group/JPNN) juga menemui beberapa santri yang mengalami luka-luka akibat penyerangan tersebutSalah seorang di antara mereka adalah Achmad Miqdad Al HadarDia mengalami luka di wajah"Sekarang saya sudah nggak trauma lagi," kata Miqdad.  Dia menceritakan, saat kejadian dirinya sempat merasa trauma dan bahkan berniat akan pulang"Tapi, sekarang niat mau pulang saya batalkan," imbuhnya

Hal berbeda disampaikan Abdul Qodir, santri yang juga menjadi korban penyeranganDia mengatakan sama sekali tidak merasa takut dan trauma atas insiden ituInsiden penyerangan Selasa lalu memang sempat mengganggu aktivitas di ponpes tersebutSalah satu di antaranya, pelaksanaan tryout siswa kelas IX SMP dan kelas XII SMA yang akan menghadapi ujian nasionalGara-gara insiden tersebut, tryout yang mulai dilakasanakan Sabtu pekan lalu (12/2) terpaksa dihentikan dan ditunda pada waktu yang akan datang"Tetapi, secara keseluruhan, (tragedi itu) tidak sampai mengganggu proses belajar mengajarHari ini (kemarin) sudah memulai proses belajar mengajar lagi," jelas Ali Ridho, salah seorang Humas Ponpes Yapi. 

Humas Yapi Muhammad Alwi mengatakan, penyerangan terhadap pondoknya itu bukan kali pertama terjadi"Sejak 2007, Yapi tidak pernah putus mengalami teror, kekerasan, dan tindakan-tindakan anarkistisKami sudah melapor kepada pihak aparat, mulai polsek hingga Polri," tandasnyaDia melanjutkan, pihaknya juga pernah melapor kepada ketua RT hingga presiden

Dalam kesempatan itu, dia kepada wartawan membantah keras soal tuduhan yang menyebut Ponpes Yapi mengajarkan aliran Syiah"Kami tegaskan, ponpes kami ini adalah lembaga pendidikan yang merujuk kepada dinas pendidikan," tandas Muchsin Assegaff, ketua YAPIDia menambahkan, dalam memberikan pembelajaran, Ponpes YAPI menganut kebebasan berpikir para santrinya.

Muchsin menjelaskan, pihak pondok memberikan pemahaman terhadap semua ajaran Islam"Kami memberikan wacana-wacana ajaran yang ada dalam IslamIntinya, tidak berbeda jauh dengan yang diajarkan pesantren yang lainKami juga mengedepankan toleransi," jelasnyaModel pengajaran yang menjunjung tinggi semangat toleransi terhadap berbagai macam mazhab dan aliran yang ada dalam Islam menjadi ciri Ponpes Yapi sejak didirikan

Ponpes tersebut didirikan pada 1973 oleh (alm) Ustad Husein Habsyi bin Abu BakarMerunut dari sejarah pondok tersebut, awalnya Yapi didirikan di BondowosoNamun, pada 1976, Ponpes Yapi berpindah ke Bangil, Pasuruan, bersamaan dengan kepindahan sang pendirinyaDi Bangil, Ponpes Yapi dibagi dua, Yapi putra berada di Desa Kenep, Kecamatan Beji dan Yapi putri di kecamatan Bangil.

Data yang dihimpun Radar Bromo menyebutkan, Ustad Husein Al Habsyi sebenarnya orang Surabaya yang lahir pada 21 April 1921Berdasar sejarah yang dimiliki ponpes, ayah Husein bernama Sayid Abu Bakar Al Habsy yang mempunyai garis keturunan dengan Sayid Ali Al Uraidy, putra Imam Ja'far Shodiq.

Namun, saat kecil Ustad Husein ditinggal wafat sang ayahDia pun sejak kecil diasuh oleh pamannya, Ustad Muhammad BarajaUstad Husein mengenyam pendidikan dasar di Madrasah Al Khairiyah, SurabayaSetelah lulus, Husein mengajar di Madrasah Al Khairiyah bersama kakaknya, Ustad Ali Al HabsyLantas, mereka hijrah ke Penang, MalaysiaDi sana mereka berguru kepada Ustad Abdul Qadir Balfaqih, Syeh Muhammad Robah Hassuna (seorang ulama dari Qolili, Palestina, yang berkhidmat mengajar di Madrasah Al Khairiyah), Al Habib Alwi bin Thahir Al Haddad (mufti Kerajaan Johor Bahru, Malaysia, di masanya), dan Assayid Muhammad Muntasir Al Kattani (ulama dari Maghribi, Maroko).

Di Johor, Husein juga sempat mengajar di Madrasah Al AthhasSetelah mengajar cukup lama di Malaysia, Husein menikah dengan FatimahLantaran saat itu terjadi peristiwa politik semasa penjajahan Inggris di Semenanjung Malaysia, akhirnya Husein meninggalkan Malaysia dan kembali ke kampung halamannya di SurabayaDi Surabaya dia mulai menjalankan aktivitas dakwah dan banyak berkecimpung di dunia politikDia pernah menduduki kepengurusan di Partai Masyumi bersama MNatsir.

Setelah tidak berkecimpung dalam dunia politik, Husein memilih mendirikan lembaga pendidikan IslamHusein dalam sejarah ponpes disebutkan, pola yang diajarkan di lembaga pendidikannya adalah anti-Barat dan antisekularismeDari sejarah ponpes juga disebutkan, Ustad Husein pernah mendekam di penjara"Fitnah demi fitnah dilontarkan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai beliau dan misi Islam yang sedang beliau perjuangkanAkibatnya, tidak jarang beliau harus berhadapan dengan penguasa pada zaman itu hingga dijebloskan ke penjara." Demikian cuplikan dari profil sejarah singkat Ponpes Yapi.

Menurut Ali Ridho, Ustad Husein adalah sosok yang mempunyai toleransi keberagaman yang cukup tinggiDia menjelaskan, di Ponpes Yapi, beberapa santri berbeda mazhabTermasuk mazhab Syiah"Jangan heran, kalau di masjid, pemandangannya cukup beragam saat salatKami sangat toleran dengan perbedaan itu," jelas Ridho

Karena cukup beragam itulah, menurut Ustadz Muchsin, sebagian santrinya bermazhab Syiah"Tetapi, kalau secara lembaga, kami ini lembaga pendidikanTidak terpaku kepada satu mazhab," bebernya.

Saat ini Ponpes Yapi memiliki jumlah santri sekitar 600 orang yang terdiri atas putra dan putriKepala Desa Kenep Nur Soleh menyatakan, selama ini Ponpes Yapi memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat setempat"Mulai dulu hingga sekarang tidak ada permasalahan," jelasnyaBahkan, pihak ponpes juga dijelaskan selalu melibatkan warga setempat bila ada kegiatan besar"Kalau ada acara kegiatan As Syura atau Maulid Nabi, kami biasanya juga diundang," jelas Kades.

Cuma Ponpes Yapi disebutkan agak tertutup kalau hari-hari biasa"Tidak seperti ponpes lainDi ponpes Yapi hanya tamu khusus yang masuk pada hari-hari biasa," beber Kades(jpnn/c4/kum)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tan Liong Houw, Legenda Hidup Timnas yang Tetap Bermain Bola di Usia 81 tahun


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler