Poros Ketiga Sulit Terwujud di 2024, Begini Alasannya

Rabu, 06 Juli 2022 – 20:36 WIB
Pilpres 2024. Foto/ilustrasi: arsip JPNN.com/Ricardo

jpnn.com, JAKARTA - Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebut poros ketiga di luar PDIP dan Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) sulit terealisasi pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Peneliti LSI Denny JA Ade Maulana menilai hanya ada dua poros yang berpotensi terjadi pada Pilpres 2024 mendatang.

BACA JUGA: PP Muhammadiyah Apresiasi Gagasan ICMI Muda Jelang Pilpres 2024

Poros tersebut ialah PDIP dan KIB yang terdiri dari Partai Golkar, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Menurut Ade, PDIP tidak perlu melakukan koalisi dengan partai lain untuk mengusung Puan Maharani sebagai calon presiden (capres) karena partai berlambang banteng itu telah memenuhi presidentioal threshold, yaitu 22,6 persen atau 128 kursi.

BACA JUGA: Megawati Ingatkan Kader PDIP di Sumbar Tak Sendiri, Kekuatan akan Dikerahkan untuk 2024

Di sisi lain, suara partai yang tergabung dalam KIB juga sudah memenuhi ambang batas, yaitu 25,73 persen aau 148 kursi.

“Poros ketiga atau poros sisa dunia terlihat masih rumit untuk memastikan tidek capres dan cawapres,” kata Ade dalam konferensi pers, Rabu (6/7).

BACA JUGA: Mak-Mak Militan di Karawang Gelar Deklarasi, Dukung Ganjar Jadi Capres 2024

Dia mengungkapkan empat alasan poros ketiga yang terdiri dari Partai Gerindra, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai NasDem, dan Partai Demokrat sulit terwujud.

Ade menilai persaingan kepemimpinan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh, dan Ketua Umum Partai Demokrat menjadi salah satu sulitnya terbentuk poros ketiga.

“Tanpa mengecilkan tokoh dari PKB dan PKS, masih sulit membayangkan ketiga tokoh ini tergabung dalam satu poros dan dikomandoi oleh salah satu dari ketiga tokoh tersebut,” tutur Ade.

Alasan lainnya ialah belum tuntas penentuan calon presiden dan wakil presiden yang akan diusung karena partai-partai politik yang disebut sebagai sisa dunia itu saling mendorong tokoh dari masing-masing internal partai.

Sebab, Partai Gerindra mendorong Prabowo sebagai capres sementara Partai NasDem memiliki tiga kandidat untuk diusung sebagai capres, yaitu Gubernur DKI Anies Baswedan, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, dan Panglima TNI Andika Perkasa.

“Demokrat mengusung Mas AHY minimal cawapres dan PKB mengusung Muhaimin Iskandar minimal jadi cawapres,” lanjut Ade.

Dengan begitu, dia menilai sulit untuk memprediksi pasangan capres dan cawapres yang akan diusung partai-partai sisa dunia.

Ade menjelaskan alasan lain sulit terbentuknya poros ketiga ialah kemungkinan partai-partai sisa dunia bergabung ke poros lain.

Menurutnya, PKB dan Partai Gerindra masih memungkinkan untuk berkoalisi dengan poros PDIP sementara Partai Demokrat dan PKS bisa bergabung dengan KIB.

Melihat jumlah kursi Partai Gerindra di parlemen, LSI Denny JA menyebut partai tersebut berada di atas angin dengan 78 kursi atau 13,57 persen.

Artinya, Gerindra hanya perlu berkoalisi dengan salah satu dari partai-partai sisa dunia untuk memenuhi syarat presidential threshold.

“Sementara itu, partai lain kecuali jika Nasdem berkoalisi dengan PKB, harus membutuhkan tambahan dua partai politik agar bisa mencalonkan capres-cawapres,” tutur Ade.

Untuk itu, LSI Denny JA menyimpulkan bahwa kemungkinan hanya akan ada dua poros dalam Pilpres 2024 karena poros ketiga dinilai sulit terbentuk. (mcr9/jpnn)


Redaktur : M. Adil Syarif
Reporter : Dea Hardianingsih

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler