Posisi Melayu dalam Jalur Perdagangan Rempah Dunia Dikupas di Seminar Internasional 

Selasa, 20 September 2022 – 16:43 WIB
Kedudukan Melayu dalam jalur perdagangan rempah dunia dikupas tuntas dalam seminar internasional. Foto Kemendikbudristek

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid menyampaikan jalur rempah sangat berperan penting dalam membentuk sejarah Indonesia hari ini. Bukan hanya di masa kolonial, tetapi juga masa prakolonial. 

"Penting untuk menelusuri sejarah yang cukup jauh ke belakang, melihat ikatan dan saling keterhubungan yang ada di dalam masyarakat yang sudah berlangsung berabad-abad, jauh sebelum adanya nasionalisme modern," kata Dirjen Hilmar Farid pada ”Seminar Internasional Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia” yang disampaikannya secara daring, Senin (19/9).

BACA JUGA: Muhibah Budaya Jalur Rempah 2022 Resmi Ditutup Kemendikbudristek 

Dia menambahkan penting mendalami seperti apa dunia Melayu di dalam jalur perdagangan rempah dunia.

Dari keterangan para sejarawan dan narasumber, semua bisa melihat bahwa hubungan-hubungan itu sesungguhnya cukup erat. 

BACA JUGA: Muhibah Budaya Jalur Rempah Kupang dan Wangi Abadi Kayu Cendana

Bukan hanya dari catatan sejarah, tetapi juga bisa memeriksanya dari perspektif linguistik, tinggalan arkeologisnya.

"Semua bisa melihat dari ekspresi budaya yang kemudian bermunculan di seluruh nusantara ini,” ujarnya. 

BACA JUGA: Para Laskar Rempah Disambut Raja Banda, Bersejarah!

Muhammad Nur, sejarawan Universitas Andalas mengatakan bagai gula yang dicari semut, rempah merupakan satu-satunya primadona perdagangan pada masa kuno di dunia Melayu.

Sejak abad ke-7 sampai abad ke-18 pusat-pusat perdagangan rempah di dunia Melayu memiliki bandar-bandar dagang yang besar, baik sebagai pelabuhan laut maupun bantaran sungai. 

Bandar tersebut, lanjutnya sering dikunjungi kapal-kapal dari Cina, Gujarat, India, Persia, Arab, Roma, dan Mediterania.

Dia menjelaskan faktor-faktor penyebab negeri Melayu menjadi pusat pelayaran dan perdagangan rempah adalah karena di sekitar pantai timur dan pantai barat Sumatra tumbuh berbagai tanaman rempah yang dibutuhkan oleh orang Eropa, Mediterania, Persia, Mesir, dan lainnya

"Perdagangan rempah di dunia Melayu, sekaligus menyebabkan terjadinya komunikasi budaya antara Nusantara dan India, China, dan bangsa lainnya di bagian barat,” ujarnya.

Sementara itu, Prof. Xu Liping memaparkan perdagangan rempah-rempah antara China dan Indonesia berlangsung selama ribuan tahun dari Dinasti Han dan Tang ke Dinasti Qing.

Sebelum kedatangan penjajah Barat, Tiongkok kuno dan Indonesia selalu memelihara hubungan persahabatan yang mendorong perkembangan perdagangan rempah-rempah antara Tiongkok dan Indonesia sehingga memberikan pengaruh besar pada kehidupan sosial Tiongkok.

Dia juga menambahkan bahwa sejarah perdagangan rempah-rempah antara China dan Indonesia sepenuhnya menunjukkan bahwa pertukaran budaya berlangsung dua arah, bukan satu arah.

Sementara itu, Prof. Amarjiva Lochan mengatakan perdagangan rempah juga terjadi di India, tetapi itu bukan hanya persoalan perdagangan saja.

Melalui sungai dan bandar-bandar, ada pertemuan budaya, agama, dan lain hal sebagainya. Hubungan antara India, Tiongkok, tidak sekadar perdagangan saja.

"Perdagangan masa lalu memiliki impact yang sangat besar untuk hari ini,” pungkasnya. (esy/jpnn)


Redaktur : Djainab Natalia Saroh
Reporter : Mesyia Muhammad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler