Prof Henri Sebut Jokowi Tanpa Malu Gunakan Bansos Untuk Kepentingan Politik Keluarga

Selasa, 09 Januari 2024 – 14:04 WIB
Presiden Jokowi. Ilustrasi Foto: Cuci Hati/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pengamat komunikasi politik Henri Subiakto menilai kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Desa Margagiri, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, Banten menunjukan bukti ketidaknetralan kepala negara.

Di lokasi kunjungan tempat Jokowi membagi-bagikan bantuan sosial (bansos) kepada masyarakat terdapat baliho capres dan cawapres nomor urut 02 pada Pemilu 2024, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka.

BACA JUGA: Bagi-bagi Bansos di Samping Spanduk Prabowo-Gibran jadi Bukti Jokowi Tidak Netral

Tanpa punya rasa malu, Jokowi sebagai Kepala Negara menggunakan dana bansos untuk kepentingan politik keluarganya.

"Ini jelas-jelas bukti nyata Presiden tidak netral. Presiden tidak malu menggunakan bansos dari negara untuk kepentingan politik keluarga. Ini baru tindakan yang nyata-nyata tampak. Bagaimana dengan ketidaknetralan Presiden yang tidak kelihatan? Bisa lebih parah dan mengkhawatirkan," kata Guru Besar Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya itu pada Selasa (9/1/2024).

BACA JUGA: Lebih Baik Jokowi Mundur dari Kursi Kepresidenan daripada Jadi Jurkam Prabowo-Gibran

Henri sangat menyayangkan masih banyak masyarakat, bahkan para akademisi yang beranggapan bahwa penyelenggaraan Pemilu 2024 berjalan normal.

Masyarakat tidak menyadari bahwa tindakan Presiden Jokowi sudah tidak sewajarnya dilakukan seorang pejabat negara yang harus menjaga kenetralan.

BACA JUGA: Ganjar Merespons Jokowi soal Debat Capres: Saya Enggak Menyerang Personal

"Sayangnya masih banyak orang, melihat pemilu serkarang dengan cara-cara berpikir normal. Bahkan para akademisi pun masih berpikir demikian. Banyak yang tidak menyadari, bahwa belakangan ini Presiden Jokowi itu tindakannya sudah tidak normal lagi," katanya.

Menurutnya, kini Presiden sedang berupaya melakukan berbagai cara supaya pasangan capres yang dia dukung bisa memenangi Pilpres 2024. Jokowi tidak bisa berperan sebagai negarawan yang adil dan jujur pada pemilu ini.

"Dia lebih sebagai politisi yang tricky memanfaatkan popularitas, kedudukannya sebagai presiden untuk memenangkan pasangan anaknya. Dia melakukan apapun dengan cara apapun agar pasangan capres yang dia dukung menang, atau selamat dari kekalahan. Apa hal seperti itu normal? Setelah kasus MK, semakin banyak bukti nyata yang dilakukan tanpa malu oleh presiden secara terang terangan telah berpihak," katanya.

Henri juga menyoroti peristiwa pada Selasa (31/10/2023), saat baliho Ganjar-Mahfud di sekitar Balai Budaya Batubulan, Gianyar, Bali, dicopoti menjelang kedatangan Jokowi. Perlakuan tersebut sangat berbeda dengan saat Jokowi melakukan kunjungan ke Banten.

"Namun giliran dia ke Banten bagi-bagi bansos, sepanduk capres 02 terpasang bertebaran di sana. Ada perlakuan tidak sama dan tidak adil," imbuhnya.

Presiden RI Jokowi melakukan kunjungan di Desa Margagiri, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, Senin (8/1/2024). Kunjungan Jokowi ke Banten untuk memberikan pengarahan kepada ratusan kepala desa terkait pengelolaan dana desa.

Di sepanjang jalan menuju lokasi acara, terdapat puluhan spanduk capres nomor urut 2 terbentang di sepanjang jalan. Selain itu, tepat di depan pintu masuk lokasi kegiatan, sejumlah alat peraga kampanye (APK) atau spanduk pasangan Prabowo-Gibran tampak terbentang dengan ukuran besar di sejumlah titik.

Satu di antaranya spanduk wajah Prabowo-Gibran dengan tulisan 'Bersama Indonesia Maju' terpasang tepat di samping spanduk bertuliskan 'Terima Kasih Bapak Presiden Joko Widodo' arah pintu masuk lokasi kegiatan. (jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bagikan Sertifikat di Riau, Raja Antoni: Kalau Bukan Pak Jokowi, Mungkin Tidak Bisa


Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler