Produksi Tembakau Terancam Turun 30 Persen

Senin, 01 Agustus 2016 – 11:17 WIB
Ilustrasi. Foto: JPNN

jpnn.com - JEMBER – Petani tembakau tengah cemas karena fenomena La Nina. Pasalnya, musim basah akan membuat produksi tembakau menurun. Penurunan bahkan bisa mencapai 30 persen.

Sekretaris Aliansi Masyarakat Tembakau Indonesia (AMTI) Hananto Wibisono mengatakan, saat ini ada laporan kematian tanaman tembakau di sejumlah daerah. Selain musim basah, industri juga menghadapi penurunan lahan penanaman tembakau sebanyak 20¬–25 persen tahun ini.

BACA JUGA: Jabat Menkeu, Inilah Prioritas Utama Sri Mulyani

Berkurangnya pasokan tembakau lokal diprediksi membuat impor tembakau naik. Hananto mengungkapkan, impor diprediksi dilakukan pada akhir tahun atau mendekati akhir masa panen. ’’Industri sudah memiliki pasokan yang cukup untuk produksi selama setahun,’’ katanya.

Head of Regulatory Affairs, International Trade, and Communications Sampoerna Elvira Yunita menuturkan, pihaknya masih menunggu hingga awal September untuk memastikan angka produktivitas maupun impor.

BACA JUGA: Stabilkan Harga Sembako, Bulog Gelar Operasi Pasar

’’Saat ini kami berusaha memaksimalkan program kemitraan dengan petani tembakau agar mendapatkan pasokan yang berkesinambungan,’’ ungkapnya.

Pada 2015, total produksi tembakau di Indonesia hanya mencapai 164 ribu ton. Sedangkan total kebutuhan industri mencapai 363 ribu ton. Jawa Timur menjadi pemasok tembakau terbesar dengan total produksi 74.241 ton per tahun.

BACA JUGA: Jika Target tak Tercapai, Tax Amnesty Bisa Jadi Bumerang

Lalu disusul Nusa Tenggara Barat dan Jawa Tengah. Produktivitas tanaman tembakau di Indonesia hanya 0,7–0,8 ton per hektare. Padahal, angka rata-rata ASEAN menyentuh sekitar 1 ton per hektare.

Kurangnya pengetahuan, pola tanam yang masih tradisional, pemakaian pupuk, serta akses pasar menjadi penyebab rendahnya produktivitas tembakau di Indonesia.

Rendahnya produktivitas tembakau di Indonesia membuat AMTI menyoroti draf RUU Pertembakauan tentang porsi antara tembakau lokal dan impor, yakni 80 persen lokal dan 20 persen impor.

’’Kalau dilakukan secara bertahap, tentu bagus karena memang butuh waktu agar skema itu bisa diterapkan,” ucap Hananto. Elvira menambahkan, jika draf itu diterapkan, pihaknya akan terus memaksimalkan program kemitraan dengan petani tembakau lokal.

’’Kami lebih memilih untuk memakai tembakau lokal daripada impor. Sebab, impor juga membutuhkan biaya. Selama ini porsi tembakau masih dominan lokal,’’ ujarnya. (vir/jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kabar Gembira, Harga BBM Jenis Ini Turun


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler