Produsen Baja Ancang-Ancang Ekspansi

Minggu, 04 Desember 2016 – 01:53 WIB
Ilustrasi. Foto: AFP

jpnn.com - SURABAYA – Produsen baja di industri menengah hulu dan hilir menikmati kenaikan permintaan pada tahun ini.

Kenaikan bahkan diperkirakan berlanjut pada tahun depan. Karena itu, produsen bersiap menambah kapasitas produksi.

BACA JUGA: Sigra Menggebrak, Pasar Xenia Tetap Perkasa

Presiden Direktur Sunrise Steel Henry Setiawan menjelaskan, pertumbuhan permintaan terutama berasal dari sektor properti.

Meski pertumbuhannya lebih rendah daripada target awal tahun, level kenaikannya tetap stabil.

BACA JUGA: Tetapkan Suku Bunga Acuan, BI Tunggu Kabinet Trump

’’Menjelang akhir tahun seperti saat ini, kenaikannya bisa terjaga lantaran banyak orang yang merenovasi rumah atau bangunan,’’ katanya kemarin (2/12).

Di industri baja hilir, produsen lapis seng aluminium Kepuh Kencana Arum juga mengalami pertumbuhan permintaan 25 persen pada periode Januari hingga November tahun ini.

BACA JUGA: Persaingan Pabrikan Ketat, Nissan Andalkan Mobil Cerdas

’’Utilisasi kami sudah mencapai 95 persen. Kami berencana melakukan ekspansi,’’ ujar Henry.

Kapasitas produksi pabrik Sunrise Steel saat ini mencapai 120 ribu ton per tahun. Sunrise berencana menambah kapasitas produksi 140 ribu ton.

Selama ini separo produksi Sunrise Steel dipasok untuk memenuhi kebutuhan bahan baku Kepuh Kencana Arum.

Menurut Henry, kebutuhan baja lapis seng aluminium mampu tumbuh sekitar 10 persen per tahun.

Kenaikan permintaan baja diyakini bertahan sampai Februari mendatang.

’’Setelah Februari, biasanya akan lesu. Trennya setiap tahun seperti itu karena proyek sudah tidak semarak seperti pada akhir tahun. Nanti permintaan melonjak lagi pada semester kedua,’’ terangnya.

Kepuh Kencana Arum juga berencana menambah kapasitas produksi 60 ribu ton dengan membangun pabrik di Balikpapan dan Bandung.

Pabrik di Bandung dibangun sejak awal November kemarin untuk menyuplai kenaikan kebutuhan baja di Jawa Barat.

Pabrik di Balikpapan, Kalimantan, akan digunakan untuk memenuhi pasar baja di luar Jawa. Pabrik itu baru dibangun pada awal tahun depan.

Pada semester kedua tahun ini, permintaan baja tumbuh 20–30 persen kalau dibandingkan dengan semester pertama tahun ini.

Meski demikian, belum semua pertumbuhan itu dinikmati industri baja domestik. Alasannya, sekitar 40 persen dari total kebutuhan baja 1 juta ton per tahun merupakan baja impor asal Tiongkok.

Untuk bisa bersaing dengan baja Tiongkok, industri baja kini masih menantikan realisasi janji pemerintah tentang penurunan gas industri.

Penurunan harga gas diyakini mampu membuat industri baja lebih efisien. Sebab, komponen bahan bakar berkontribusi 15–20 persen terhadap biaya produksi.

Penurunan harga gas menjadi USD 6 per mmbtu diyakini dapat mengurangi kontribusi komponen gas hingga hanya sekitar 11,5 persen terhadap biaya produksi. (vir/c14/noe/jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Startup Teknologi Dukung Industri Pariwisata


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler