Promosi Danau Toba Jangan Diurus Pemerintah

Jumat, 05 Februari 2016 – 00:58 WIB
Danau Toba. Foto: Metro Siantar/JPG

jpnn.com -  

JAKARTA – Pakar marketing Laksita Utama Suhud menyampaikan kritikan pedas terhadap impian pemerintah menciptakan “10 Bali baru”, salah satunya Danau Toba. Dia setuju terhadap rencana pembentukan Badan Otoritas Danau Toba, sebagai lembaga yang akan menggenjot pengembangan destinasi wisata andalan Sumut itu agar bisa bertaraf internasional, sejajar dengan Bali pada 2019.

BACA JUGA: Potong Mata Rantai Perdagangan di Desa Dengan BUMDes

Namun, menurut Laksita, persoalan utama selama ini sebenarnya bukan soal kelembagaan, tapi soal kemauan dan kreatifitas yang dangkal dalam mempromosikan Danau Toba. Pemicunya, urusan promosi Danau Toba selama ini digenggam kalangan pemerintah sendiri, tidak diserahkan ke kalangan profesional.

“Sekarang era medsos, promosi lebih mudah, tapi tidak pernah dilakukan. Dalam urusan promosi, mereka (kalangan birokrat) hanya rebut soal budget. Budget adalah proyek. Padahal, promosi wisata itu tidak mahal asal kreatif dengan melibatkan publik,” ujar Laksita kepada JPNN kemarin (4/2).

BACA JUGA: Pemerintah Perpanjang Batas Usia Operasional Pesawat Kargo

Dibandingkan dengan Malaysia, promosi destinasi wisata Indonesia kalah jauh. Iklan-iklan pariwisata Malaysia bertebaran di TV-TV kabel, seperti CNN dan National Geographic, dan bagus-bagus. “Tapi iklan yang dibikin Indonesia jelek-jelek,” ujarnya.

Dia memberi ilustrasi murahnya promosi yang melibatkan publik. Misalnya ada dana promosi Rp 250 miliar, maka bisa dilombakan, bisa menghasilkan 1.000 video karya masyarakat, dengan hadiah per video promosi Rp 25 juta.

BACA JUGA: Momentum Membangun Desa Mandiri, Politikus PKS Usulkan Anggaran Segini

“Bayangkan, ada seribu video yang bisa di-upload di youtube, ke sosmed. Lokasi-lokasi wisata Indonesia pasti terkenal. Masyarakat pasti senang, jalan-jalan liburan sambil ikut lomba, dapat hadiah. Tinggal dipilih seribu yang bagus. Publik juga menjadi merasa memiliki,” kata dia.

Selama ini, anggaran promosi ada tapi tidak jelas targetnya. “Sangat sedikit iklan Danau Toba, itu pun tak bagus, pantai-pantai bagus mana iklannya? Raja Ampat, mana iklannya yang bagus? Promosi wisata harus cerdik. Kalau orang pemerintah merasa tak mampu, ya serahkan saja ke kalangan profesional,” cetusnya.

Sekali lagi dia tekannya, bahwa kunci pengembangan wisata Danau Toba adalah promosi dan itu harus diurus profesional. “Kalau diurus pemerintah pasti jelek semua,” katanya.

Jika promosi bagus dan menarik wisatawan mancanegara, aspek lain seperti investor perhotelan pasti berduyun-duyun. “Pemerintah gak usah sibuk mikir menggaet investor, mereka akan datang dengan sendirinya jika lokasi wisata ramai. Ya itu tadi, kuncinya promosi. Dipoles sebagus apa pun, kalau promosi jelek, ya tetap saja sepi,” imbuhnya lagi.

Dimana porsi pemerintah? Pertama, menyiapkan masyarakat sekitar Danau Toba agar tidak terjadi kekagetan secara budaya (culture shock).”Sampaikan ke masyarakat sekitar, jangan kaget kalo ada bule mondar-mandir pakai celana pendek,” ucapnya.

Kedua, membina industri-industri kecil yang menunjang wisata dan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. “Yang perlu diingat, wisatawan datang itu butuh penginapan, souvenir, makanan, dan juga hiburan,” pesannya. Hiburan harus yang sifatnya etnik, baik itu musik dan tarian.

Menurutnya, sebenarnya pemerintah juga sudah tahu itu. “Tapi pemerintah tidak care dan hanya sibuk mikirin nilai proyek. Secara konsep Badan Otoritas Danau Toba itu bagus, tapi saya yakin, nanti di tengah jalan banyak yang bermain, hanya mikirin proyek. Sedang kita tahu, proyek-proyek pemerintah tidak jelas goalnya, hanya mikir berapa dana yang sudah terserap, goalnya tidak jelas,” kritiknya tajam.(sam/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pabrik Panasonic dan Toshiba Tutup, Setkab: Itu Persaingan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler